PetualanganAmardiKL

Seorang programmer pecinta kucing asal Pidie, yang konon ia lahir di tanah bekas Perang Cumbok–perang antara kaum ulama dengan ulee balang (bangsawan) pada suatu masa setelah kemerdekaan Indonesia–di Lamlo, Kecamatan Sakti, akan melancong ke luar negeri untuk pertama kalinya.

Ammar TV, begitu biasa saya dan kawan-kawan memanggilnya, padahal nama aslinya cukup bagus: Ammar Rizal Rasyidi. 

Beberapa hari lalu saya menantang pemuda yang memiliki pacar sedang kuliah di Turki itu untuk traveling. Tak jauh: ke Malaysia.

Tak seperti lainnya ketika merespon ajakan saya, dia langsung kesengsem seperti kucing kesukaannya melihat sepiring penuh ikan dan nasi sisa dia makan.   

Namun, dengan syarat, “Saya berangkat dari Jakarta dan kamu dari Banda Aceh,” kata saya pada pria gondrong itu, lalu segera saya sambung, “kita akan bertemu di KL nanti, oke?”

Dia yang sedang duduk di bangku bar Moorden Coffee dengan jemarinya yang lincah menyusun kode script di layar hitam putih Macbook-nya, tiba-tiba berhenti. Lalu saya lihat dia tampak sedikit galau.

Kalau kamu di posisi dia saat itu, khusus kamu yang belum pernah ke luar negeri, mungkin akan menyerang saya dengan sejumlah pertanyaan:

“Bagaimana di imigrasi nanti? bagaimana ketika tiba di bandara Kuala Lumpur? kemana saya akan pergi? di mana tepatnya kita berjumpa?” dan pertanyaan paling penting adalah “bagaimana kalau kamu menipu saya?!”

Oh, tidak sesulit itu Alex! Tenang saja.

Makmur kat KL
Siap, laksanakan Bos!

“Saya akan mengatur rencana perjalanan kita, Insya Allah kita akan have fun di sana.”

Di minggu terakhir September itu, saya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti sebuah workshop, sementara Amar mengebut tugasnya dari kantor sehingga bisa leluasa untuk bepergian.

Hitung hari sebelum jadwal kami tiba, saya susun itinerary trip, layaknya perlakuan sebuah travel agent untuk tamunya. Tapi Amar bukan tamu, ia travelmate tunggal saya dalam bersafari kali ini.

Saya kirim dia itinerary lengkap: jadwal flight pergi dan pulang, aktivitas kami selama tiga hari, di mana dan bagaimana kami akan bertemu, tarif kebutuhan akomodasi dan transportasi di sana, termasuk catatan ini: 

“Kita wajib sampai ke Banda Aceh dengan aman dan selamat, karena ada banyak yang menanti kita. Ehem…”

RABU, 19 September 2019. Salam buat Aşkım

Saya belum terbang dari Jakarta ketika Amar kirim saya chat via WhatsApp: “Apa benar ini kamar hotelnya? Gelap seperti dalam penjara?” seraya melampirkan sebuah video yang dia rekam.

Sebelumnya saya pesan kamar dua malam di Citin Hotel Masjid Jamek by Compass Hospitality. Agar kami mudah menjangkau sejumlah destinasi wisata favorit di seputaran KL.

Benar, tentu saja! Jawab saya.

Tapi ternyata, kami dapat kamar tidak punya jendela, tak seperti ekspektasi kami saat melihat review kamar superior hotel itu di Traveloka yang memiliki pemandangan indah dari jendela: skyline Kota Kuala Lumpur.

Baiklah, saya segera berangkat dengan Air Asia QZ 208 jam 2 siang, tiga jam usai Amar tiba di KL yang bertolak dari Banda Aceh dengan Air Asia AK 423. Kami akhirnya bersua menjelang Magrib waktu Malaysia. 

Btw, saya bukan penipu, kan?

Sesuai jadwal yang telah diatur, kami memulai eksplorasi di malam hari itu juga. Tujuannya: Bukit Bintang, Pavilion, dan Twin Tower. 

Itu memang sederet destinasi mainstream di KL, tapi ia akan terasa spesial, tergantung dengan siapa, kapan, dan bagaimana kamu menikmati tempat-tempat itu.

Misal nih, saya sebutkan salah satunya, ketika Si Amar di bawah tempias hujan bulan September memaksa diri berpose dengan latar menara kembar Petronas, dan menuliskan salam kepada pacarnya alias aşkım (baca: ashkem) yang sedang studi di Turki.

Tentu saja ditulisnya dengan Bahasa Turki ala-ala, lalu saya memotretnya seraya menyelimuti smartphone saya dengan ujung jaket agar tak kuyup diguyur hujan asmara.

KAMIS, 20 September. Ala Prancis Benaran. 

Panorama dari sebuah menara di Colmar Tropical. [Foto: Makmur Dimila]

Di tempat saya dan Amar berasal, Pidie, kami sering mendengar model hidangan “Ala Pran” dalam sebuah kenduri merayakan pesta perkawinan anak seorang hamba; atau dalam kenduri seremoni lainnya yang serupa. 

Yaitu hidangan berupa jamuan self-service, ditandai para tamu undangan tinggal ambil sendiri ragam menu makanan tradisional/modern yang sudah disiapkan tuan rumah di atas meja besar.

Konon, Ala Pran singkatan dari “Ala Prancis”. Ya, tradisi makan seperti orang Prancis, yang sejatinya ingin mengatakan, budaya makan ala western! Bahwa banyak jenis makanan disajikan di atas meja panjang untuk tamu ambil sendiri. 

Sayangnya di Aceh cuma ada budaya makan ala Prancis. Tapi di Negeri Jiran, ada Kampung Prancis, yang sedang kami datangi hari ini.

Colmar Tropicale. Sebuah ‘Kampung Prancis’ yang terinspirasi dari Kota Alsace, Prancis Timur, dibangun PM Tun Mahathir Muhammad pada tahun 2000.

“Mak, Amar katroh u KL nyoe!” 😀

Lokasinya di KM 48 Persimpangan Bertingkat Lebuhraya Karak, Bukit Tinggi, 28750 Bentong, Pahang, Malaysia.

Dari KL, kami seharusnya bisa menaiki shuttle service yang hanya tersedia di depan Berjaya Times Square. Tapi tidak.

Saya akali dengan menyewa sopir Grab. Sebab naik shuttle bus itu hanya punya empat trip di jam yang sudah ditentukan: berangkat di jam 09.30, 12.00, 18.00, dan 20.30, sedangkan kembalinya jam 08.00, 10.45, 16.00, dan 19.30. 

Saya khawatir kami tak bisa tepat waktu dengan jadwal yang kami booking nanti.

Dengan Grab, sang sopir yang kami hire, hanya perlu mematikan layanan Grab. Sopir kami, Bang Azhar, adalah seorang konsultan yang nyambi sebagai driver di jam lowong. 

Kami dapat contact dia dari supir Grab yang kami tumpangi tadi malam. Saat itu saya pura-pura bertanya soal Colmar Tropicale, lalu saya menggiringnya untuk mau menjadi supir dan ikut tur bersama kami.

Namun dia menolak karena tidak available mesti ingin join sebab belum pernah kesana. Sebagai ganti, dia menyarankan kawannya yang juga sopir Grab. 

Setelah nego-nego, kami akhirnya dapat Rp 300 RM untuk pulang pergi KL – Pahang, ditemani selama tur, dan pulang sebelum magrib.

Bang Azhar, ternyata juga belum pernah ke Colmar Tropicale. Duh, ini mungkin sama seperti orang Aceh yang belum pernah ke Takengon seumur hidupnya. (Tepok jidat yang belum pernah ke Takengon).

Dalam bingkai pikiran saya, Colmar Tropicale adalah sebuah kompleks resort dengan bangunan khas town house berlapis kayu warna-warni, khas Eropa, berada di tengah perbukitan.

Dan, faktanya, memang begitu adanya ketika kami tiba di sana. Tidak PHP-in lah.

Colmar Tropical sejatinya nama keren dari Berjaya Hill Resort, akomodasi dengan 235 kamar dan suite. 

Di sekitar kompleks ini, pengunjung dapat memilih aktivitas berkuda, paintball, flying fox, rock climbing, bersepeda gunung, bermain golf, dan bermain bersama kelinci di Rabbit Park.

Tapi kami hanya have fun di Colmar. Memotret, selfie, kadang-kadang jiwa kekanakan muncul, dan menjadikan Bang Azhar sebagai tukang foto.

Rumah khas Jepang di kompleks Japanese Village. [Foto: Makmur Dimila]

Usai hura-hura di Colmar, kami naik Bas Pesiaran ke Japananese Village. Tak sanggup jalan kaki. Jarak kesana lumayan jauh. Pengunjung boleh menaiki shuttle bus gratis dari Colmar yang berangkat per satu jam ke Kampung Jepang itu. 

Kami jalan kaki mengelilingi kompleks Japanese Village yang dipenuhi tanaman, taman, termasuk rumah kayu khas Jepang. Bagi cewek, bisa menyewakan kimono untuk berpose ala gadis Negeri Sakura. 

(Siapa aktris Jepang favoritmu? Ya seperti dialah kamu kelihatan seharusnya, ketika pakai kimono)

JUMAT. 21 September. KL’s Best Kept Secret. 18+ Only.

Notice: Ini sebuah misi rahasia! Yang kelahiran di atas tahun 2001 mohon segera meninggalkan halaman ini.

Saya dan Amar duduk berdua dengan penampilan backpacker, sementara tamu lain, mengenakan pakaian necis dan casual. Menikmati Sabtu dini hari yang asik di sebuah lokasi majestik.

Musik ngebeat dan disko funky dari dalam ruangan ini “membuat iman kami goyah”: badan mulai bergerak pelan dan cepat, mengikuti irama musik yang diputar keras-keras.

Di pojok lain, beberapa tamu berjoged bareng.

Suasana di dalam Heli Lounge Bar. [Foto: Makmur Dimila]

Di bar, pria mengenakan baju pilot menyeduh minuman, seumpama wisky, vodka, tequila, dan cocktails. Pelayan dengan baju yang sama, melayani setiap tamu.

Kami duduk di dekat dinding di meja kecil dengan dua cangkir berisi satu-satunya minuman ringan non alkohol-saya lupa namanya, yang disediakan untuk pengunjung tengah malam.

“Juice, air mineral, dan soft drinks lain hanya tersedia di happy hours. Khusus tengah malam kita sedia minuman beralkohol dan cuma ini sahaja yang tidak guna alkhol,” kata seorang resepsionis tadi.

Ya, saat masuk tadi, kami syok dengan sederet menu minuman. Dan mereka mungkin juga kaget dengan kemunculan kami: betapa dua pria muda dengan wajah lelah dengan tas carrier datang ke bar tengah malam, lalu memesan minuman non alkohol?

Bodo amat! Kami sungguh terniat untuk merasakan pengalaman melihat KL dari Heli Lounge Bar. Konon lagi tempat ini di-branding sebagai KL’s Best Kept Secret. Makin penasaran dong.

Hanya saja, saat reservasi, kami hampir tak dibolehkan masuk, saat saya menanyakan apakah tas dan barang bawaan kami boleh dititip?

Resepsionis tak berani kasih jawaban lalu diketahui gelagatnya oleh sang manager dan memarahi mereka, seraya menyuruh kami segera masuk, dan para resepsionis mengangkat bawaan kami ke ruangan khusus.

Yes, kami sedang di rooftop bar. Di lantai 34 Menara KH Kuala Lumpur. Destinasi city tour yang sedang in di Malaysia. 

Saat kami datang, malam Sabtu, rooftop sedang ditutup sesaat. Sebab hujan ringan sedang mengguyur langit KL. 

Malam dari rooftop bar. [Foto: Makmur Dimila]

Tapi usai menunggu setengah jam dengan gemerlapan duniawi dari dalam Heli Lounge Bar, hujan reda, rooftop pun dibuka. 

Para tamu yang hanya bisa dihitung jari, sebab tengah malam, naik ke atap menara. Sebuah landasan pendaratan helikopter yang disulap menjadi bar. Ada banyak meja dan kursi tertata rapi.

Skyline Kuala Lumpur dari atas sini cukup syahdu. Kami bisa menatap 360 derajat. Gumpalan awan berarak pelan menyapu bangunan pencakar langit yang hanya tampak bayangan dengan cahaya lampu ruangan seperti kunang-kunang.

Segelas Menara Kembar Petronas

Kami berada di jantung kota, seakan-akan seluruh bangunan di sekitar hendak mencengkeram kami!

Turis biasanya ramai ke sini di sore hari, menanti sunset sambil menikmati skyline ibu kota negara Malaysia dari salah satu dari 5 rooftop tertinggi di KL. Akan tampak jelas, KLCC Twin Tower dan KL Tower dari puncak ini.

Sore hari, ada banyak menu halal disediakan. Kamu akan mudah menemukan jus, makan pengganjal lapar, yang disajikan halal. Tapi untuk jadwal malam hari, kamu harus pandai-pandai menyesuaikan diri.

Saya pikir, Malaysia memang lebih cerdas dalam menarik perhatian turis internasional, kalau boleh saya bandingkan dengan negara asal kami, Indonesia.

Puas menikmati rahasia kemegahan di Heli Lounge Bar, sekitar jam 1 dini hari, kami keluar. Lalu memesan Grab Car ke KLIA 2 Airport. Paginya kami akan kembali ke Banda Aceh. 

And, we did a rooftop bar.

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here