“LEWAT mana kalau mau ke bukit?” tanya Mufti, teman saya dari Pers Mahasiswa Sumberpost, UIN Ar-Raniry. Gak tau, jawab saya.

Kami hendak menuju bukit Lhok Eumpe, Gampong Nusa, Aceh Besar. Tempat dilaksanakanya Kemah Jurnalistik. Kami pergi agak terlambat, teman-teman yang lain sudah di atas. Langit yang bewarna jingga perlahan gelap.

Saya dan Mufti memutuskan menyusuri jalan lurus beraspal ini—setelah ngebut di jalan Lhoknga dan belok kiri, masuk persimpangan tiga yang hanya beberapa meter dari Nusa Swalayan.

Sepanjang jalan sepi, hanya satu-dua orang yang berlalu-lalang. Beberapa putaran roda sepeda motor ke depan, kami menemukan anak-anak bersepada. Tepat saat melewati polisi tidur, saya melempar senyum kepada mereka dan dibalas dengan muka datar.

Bermalam di Nusa Safariku 8
Suasana di Gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar. FOTO: Adli Dzil Ikram/Safariku.

Kami tiba di ujung jalan beraspal ini, ada gapura dan setelah melewati gapura itu jalan sudah tak beraspal. Suara lantunan yang barangkali dari meunasah di sebelah kanan kami, membuat Mufti harus memelankan gas kemudinya. Kami masih bingung harus lewat mana.

Di sekitar kami pemandangan: bukit-bukit hijau, persawahan dan air sungai kecil sedang mengalir di bawah jembatan ini. Indah? Tapi semua itu diselimuti langit yang kian gelap.

Apa yang paling pukimak lagi, gawai saya tak ada daya. Hal-hal semacan itu, sering terjadi jika situasi genting seperti ini. Mufti menelpon salah satu teman, tak ada jawaban. Akhirnya, kami berbalik arah, menuju jalan beraspal.

Saya menebak, “mungkin lewat jalan di samping masjid tadi?”

Mufti mengiyakan dan melajukan sepeda motornya ke sana. Tapi, sebelum kami tiba di sana gawai Mufti berdering. Lalu, ia menyerahkan gawainya pada saya. Itu panggilan dari salah satu teman kami. Saya mengangkatnya.

“Kalian tunggu aja di depan basecamp Nusa. Tau kan? Rumah yang berwarna-warni, lurus aja, agak ke ujung. Ini masih magrib, nanti ada yang antar kalian. Udah kami bilang tadi,” jelasnya

“Oke.”

Kami berhentikan sepeda motor di sebelah kiri jalan, bersebelahan dengan sebuah lorong. Ada beberapa rumah bercat warna cerah dan gelap. Sebelah kanan, di badan sebuah pondok, samar-samar saya melihat tulisan “Gampong Nusa” yang disusun dengan tutup botol beberapa jenis minuman.

Rumah-rumah di sini, umumnya berpanggung dan berdinding kayu. Suasana kampung masih terasa kental.

Bukan Kali Pertama ke Nusa

Sebenarnya, ini bukan pertama kali saya berkunjung ke Nusa. Saya hadir dalam beberapa acara yang diadakan di sini, seingat saya—The Art of Color, Festival Gampong Nusa. Tapi untuk bermalam di atas bukit Lhok Eumpe akan menjadi pengalaman pertama.

Sudah lima menit kami berdiri di sana. Belum ada tanda-tanda. Sebagian langit sudah gelap, sebagian lagi masih bewarna jingga. Kami berbicara untuk melawan keheningan yang tak ada duanya.

“Eee! Mau ke bukit ya?” sapa perempuan yang keluar dari kegelapan di balik pondok itu.

Bermalam di Nusa Safariku 7
Anak-anak ikut lomba memancing di sungai Gampong Nusa. FOTO: Adli Dzil Ikram/Safariku.

Itu Kak Nurhayati, tiga hari sebelum hari ini, saya bertemu dengannya menemani Indra—ketua panitia acara Kemah Jurnalistik untuk mengurus admintrasi. Kami membayar 35 ribu per orang. Dan yang paling penting, jika ingin camping di sini, surat pengajuan dan nama-nama peserta harus diurus seminggu sebelum acara. Sebab, para pengurus wisata di sini, harus menyerahkan nama-nama itu ke Kapolsek setempat.

“Tunggu ya, orang yang antar kalian lagi makan,” lanjutnya setelah berlalu dari kami sejenak.

Baca juga:

Hari sudah gelap, tak ada warna jingga lagi di langit. Hanya saja, lampu jalan bercahaya kuning di atas kepala, menerangkan pembicaraan kami.

Satu per satu kaum hawa keluar dari rumah dengan pakaian rapi dan menyapa kami. Mereka hendak pergi samadiah. Sejurus kemudian, dua pria datang dengan sepeda motornya. 

Bermalam di Nusa Safariku 1
Anak-anak bermain di sungai di Gampong Nusa. FOTO: Adli Dzil Ikram/Safariku.

“Yok, Bang, kita naik sekarang,” ujarnya dengan logat bahasa Aceh. Sebelum kedua roda sepeda motor kami melaju, Mufti melempar pertanyaan, “bisa naik motor kan?”

“Aman, Bang!”

Kami belok kiri dari tempat pemberhentian tadi. Semilir angin mulai terasa. Hamparan sawah di kiri-kanan, Mufti memelankan gas sepada motornya.

Kini suasana benar-benar gelap, dedaunan dan ranting pohon berserakan dan jalan berbatu tebal.

Lima belas menit kemudian, kami tiba. Tapi saya harus turun, sebab sepada motor tak sanggup menarik beban badan saya, jika menaiki tanjakan separah ini. Tapi, kami akan benar-benar tiba.

Saya berlari tipis menuju puncak. Mufti dan dua pria tadi memakirkan kendaraannya dengan rapi, berjejer dengan sepeda motor lainnya.

Saya menyapa teman-teman yang sedang sibuk memasak. Bagaimanapun, ini waktu makan malam. Mie dalam kuali hampir matang. Beberapa teman lain sedang berbagi pengalaman kepada keluarga baru Sumberpost. Ini adalah kemah jurnalisme yang dibuat untuk menyambut anggota baru.

Bermalam di Nusa Safariku4
Berkemah di bukit di Gampong Nusa. FOTO: Adli Dzil Ikram/Safariku.
Bermalam di Nusa Safariku 5
Gelar hammock di camping ground-nya Gampong Nusa. FOTO: Adli Dzil Ikram/Safariku.

Bagi saya, Gampong Nusa tempat yang tepat untuk mengadakan acara seperti ini. Suasana elok dan tidak jauh-jauh amat dari Kota Banda Aceh. Kita dilayani, air untuk mencuci tangan dan sejenisnya akan dibawa dari bawah oleh petugas wisata di sini.

Sembari menunggu makan malam, saya mengeluarkan kamera dan mulai memotret sekitar. Pemandangan di hadapan adalah lampu-lampu dari setiap bagunan di jalan sana, tak jarang suara knalpot ‘brisik’ terdengar. Di belakang kami, hutan dan bukit barisan yang akan indah dipandang ketika pagi hari.

Pada 2004, gempa dan tsunami Aceh ikut menghantam Gampong Nusa. Namun, bagaimanapun desa ini telah tumbuh dengan wisatanya.

Selepas makan malam, sesi sharing berlanjut. Angin kian menusuk. Saya menghangatkan tubuh pada api. Keadaan kadang hening, kadang berubah tawa.

“Udah hampir jam sepuluh, yang cewek siap-siap untuk turun ya!” seru Kak Ru—salah satu pengagas wisata di sini.

Beberapa teman perempuan saya memelas, mereka ingin tetap di sini. Tapi ini peraturan setempat, bahwa para perempuan harus turun dari bukit dan tidur di home stay.

Sembari kaum hawa turun, saya merapikan terpal agar ngobrol dan rebahan jadi lebih nikmat.

Di bawah cahaya bulan, kami berbicara banyak hal malam itu. Waktu sudah lewat tengah malam, saya kedinginan. Sesekali duduk di dekat api. Lalu masuk ke dalam tenda dan tertidur pulas di dalamnya.

Robohnya Pohon Besar

Bermalam di Nusa Safariku 6
Pohon besar yang sangat ikonik di Gampong Nusa. FOTO: Adli Dzil Ikram/Safariku.com

Beberapa hari yang lalu, ketika akhir pekan pertama di tahun 2020. Saya kembali berkunjung ke Gampong Nusa sambil menyambi.

Berkendara sepeda motor dari Banda Aceh, saya tiba di sana pukul 15.00 kurang sedikit. Saya langsung menuju sungai kecil, dari belakang meunasah dan memakirkan sepeda motor di halamannya.

Pertama saya kaget, pohon besar yang biasa di tepi sungai sudah tidak ada. Kini, keadaan di situ panas, tidak teduh lagi. Padahal itu adalah sport favorit saya jika setiap kali berkunjung ke Nusa.

Anak-anak kecil yang sedang bermain di sana, menoleh ke arah saya. Saya melempar senyum, mereka membalasnya.

Bermalam di Nusa Safariku 1
Jalan di Gampong Nusa. FOTO: Adli Dzil Ikram/Safariku.

Sehabis dari sana, saya langsung menuju ke rumah Kak Nurhayati untuk sekedar menyapa dan mendapati sepasang manusia yang jauh lebih tua dari saya di pondok depan rumahnya.

“Asalamualaikum!” saya langsung menyambung, “ada Kak Nurhayati?”

“Lagi tidur kayaknya. Duduk dulu, Dek, biar dipanggil.”

Dua menit berselang, Kak Nurhayati keluar dengan wajah berantakan. Saya merasa tak enak, saya langsung menyalaminya.

Ia mengajak saya duduk di bascamp Gampong Nusa. Kami banyak mengobrol. Saya bertanya berapa jumlah home stay di sini. Berjumlah 32, jawabnya.

“Kenaknya giliran, jadi setiap rumah yang terdaftar sebagai home stay akan diinap tamu secaa bergilir,” ia menambahkan, “Kalau gak dibuat gitu yang kaya ya rumah itu-itu aja.”

“Kak! Kenapa pohon besar itu ditebang padahal di sana paling nikmat duduknya?” tanya saya.

“Pohon itu jatuh sendiri. Hari itu jatuhnya ke arah sungai. Karena anak-anak lagi belajar di Paud sebelahnya.”

Setelah percakapan kami yang berdurasi dua puluh menitan itu, saya pamit dan meminta izin untuk melihat-lihat sekitar dan jembatan yang baru jadi tapi belum diresmikan di utara sungai kecil itu.

“Perlu ditemani?” tawarnya. “Gak usah, Kak.”

Saya berjalan menuju sungai. Sejuah mata memandang, ada jembatan kayu yang bercat hitam. Ada anak-anak di pondok cokelat, tepat sebelum jembatan itu.

Ternyata tak hanya jembatan yang baru, di tepi sungai itu sudah dipoles dengan bangku dan bunga-bunga cantik. Ini akan menjadi suasana yang jelas indie.

Baca juga:

Saya menyapa mereka dan ikut duduk di pondok itu. Mereka banyak tanya, siapa saya. Saya bertanya tentang mereka dan desa wisatanya.

Pokoknya, tugas mereka hanya menerima tamu dan bersikap ramah. Begitu kata salah satu anak perempuan berbadan gendut.

“Pohon besar itu kenapa ditebang?” saya masih penasaran dengan pohon itu.

“Bukan ditebang, jatuh sendiri.”

Anak lelaki yang di sebelah saya menambah, “orang ni bilang, Bang, itu gara-gara toa masjid yang di pohon itu dulu dipindah.”

Saya tertawa. Azan ashar baru saja selesai. Kami banyak bertukar cerita. Matahari pun perlahan tenggelam dan saya pulang ke Banda Aceh.[]

By Adli Dzil Ikram

1 COMMENT

Leave a Reply