Pantai Dedap, Pulo Nasi, medio Juni 2014.

ALAM memang guru terbaik, seperti kata orang bijak. Saya punya cerita kegagalan mencapai objek wisata di saat musim timur. Barangkali menjadi pelajaran bagi kamu dan para traveler penyuka petualangan di alam terbuka. Saya merasa terbeban bila tidak menuturkan tiga pengalaman dalam dua bulan terakhir 2014 ini.

Saya berhasil menikmati keindahan Pantai Meumong pada 6 April 2014, tapi tidak demikian ketika saya membawa kawan seminggu berikutnya. Eksotisme pantai kecil di balik bukit yang menghadap Pantai Lampuuek ini sirna. Si Puja Dias pun kecewa dan menyatakan Meumong tak seindah tulisan saya di blog Koki Kata. Rupanya, kunjungan pertama saya ke Meumong belum memasuki musim timur seperti perjalanan kedua kami.
Garis Pantai Lampuuek dari Meumong, dalam kunjungan pertama.
Pada 1 Juni, saya ikut rombongan para penyelam ke The Canyon Dive Site di Pulau Weh. Spot diving nomor dua terindah—menurut cerita sejumlah diver—di perairan Sabang ini berdekatan dengan Tugu KM 0 Indonesia.
Untuk kesana dari Pantai Teupin Layeue, Iboih, butuh waktu sekitar 10 menit menumpangi speedboat. Namun Minggu pagi itu, tekong boat harus menghadapi ombak ganas, meliuk-liuk di antara dinding ombak besar. Dan kami terpental-pental di dalam boat. Akhirnya, tekong memutar kemudi dan kembali ke arah Pulau Seulako, menyelam di spot diving yang lain.
Percikan ombak dari speedboat menuju The Canyon, dengan latar Pulau Seulako dan Pulau Rubiah.
Pengalaman terakhir, saat menemani kawan ke Pulau Bunta pada 18 Juni. Pagi itu, kru TV Perancis hendak mewawancarai fotografer lokal dengan latar gambar pulau eksotis di Aceh. Namun tekong boat tak bisa memaksa lempar sauh di dekat dermaga Pulau Bunta, karena ombak ganas.
“Biasanya kami memang tidak melayani trip ke Pulau Bunta kalau sedang angin barat (musim timur),” ungkap Patra, pemilik boat yang kami tumpangi.
Beruntung, tekong boat Afrizal, berhasil melintasi Arus Cut—pusaran air yang paling ditakuti di rute penyeberangan ke Pulo Aceh—sebelum mencapai Pulau Bunta. Inisiatif lain, kami berlabuh di Pantai Dedap, Pulo Nasi, Pulo Aceh.
Beberapa hari sekembali dari Pulo Aceh, saya cerita pada Yusuf S. Paru, seorang Pidie yang paham fenomena alam. Menurutnya, pantas saja saya gagal ‘mendarat’ sampai tiga kali dalam kurun dua bulan: Mei-Juni. Sebab saat ini Aceh—laut Indonesia umumnya—sedang menghadapi angin ‘musem timu’ alias Musim Timur.
Berbagai referensi terkait gejala alam menyebutkan, angin moonsun atau muson adalah angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan). Polanya akan berlawanan antara periode yang satu dengan yang lainnya. Berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun.
Angin periodik ini melanda Indonesia saban tahun. Angin muson (musim) timur di belahan bumi selatan dan angin musim barat di belahan bumi utara. 

Angin musim barat adalah angin yang berhembus dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas). Angin musim barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan, yaitu antara Oktober sampai April.
Angin musim timur adalah angin yang berhembus dari Benua Australia (musim dingin) ke Benua Asia (musim panas). Angin melewati celah-celah sempit dan berbagai gurun yang menyebabkan Indonesia mengalami musim kemarau, yaitu antara April-Oktober dan puncaknya pada Juni, Juli dan Agustus.
Perhatikan peta. Bila musim timur, angin bergerak dari Australia ke barat daya, belok kanan menuju Asia sehingga menghasilkan ‘angin barat’ yang mental ke timur.
Pada musim timur, angin muson bergerak dari Australia ke barat daya, belok kanan menuju Asia. Dari timur (Samudera Hindia) berhembus ke barat dan mental ke timur. Indonesia yang berada di Asia Tenggara rentan diterpa angin muson. Sebaliknya pada muson barat, angin bergerak dari Asia menuju Australia dan mental ke barat.
Suatu daerah yang semakin dekat dengan garis khatulistiwa akan semakin sering dilanda angin muson. Sebaliknya, semakin jauh dari garis tengah bumi ini akan semakin jarang diterpa angin muson. Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, tentu akan sangat sering mengalaminya.
Nah, jika kamu sedang mengatur jadwal perjalanan menyeberangi lautan, sebaiknya perhatikan gejala alam. “Kamu tak bisa menyombongkan diri dengan alam. Meskipun kamu bisa berenang, tetap bawa pelampung jika berlama-lama di lautan. Misal sedang dalam perahu, siap-siaplah mengumpulkan jirigen minyak untuk pelampung jika tak bawa life jacket,” ingat Yusuf S. Paru pada Safariku.[]
Writter: Makmur Dimila

2 COMMENTS

  1. Kalau lagi angin barat, emang sebaiknya ditunda dulu wisata ke pulau. Kadang-kadang tukang boat memaksakan diri untuk pergi karena mengingat bayarannya dan mengambil resiko dengan mengabaikan keselamatan diri sendiri dan penumpang.

    • Iya benar tuh. Pas ke Pulau Bunta kemaren memang diingatin sama pemilik jasa sewa speedboat, tapi karena menimbang keinginan TV Perancis untuk promosi wisata Aceh, akhirnya pergi juga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here