Pantai Nipah Pulo Nasi, Mandinya itu di sini

Pantai-Nipah-dari-Ketinggian
Nah, inilah alasan utama saya ingin ke Pulo Nasi tempo hari. Bahwa saya penasaran sekali dengan cerita-cerita keindahan pantai yang satu ini.

[hr style=”bar”]

Peta-Wisata-Pulo-Nasi
Di sini, di sini, di sini. 😛 Photo : Makmur Dimila

Pantai Nipah, namanya. Foto yang dipajang di kantor kami memperlihatkan garis pantai ini yang melengkung dengan taburan pasi putih–pengetahuan jamak bahwa pasir putih yang disebut di Indonesia adalah pasir yang sebenarnya terlihat berwarna krem. Dan saya ingin ambil gambar yang seperti itu.

“Kalau malam, bisa kita lihat temaram lampu Kota Banda Aceh dari Pantai Nipah,” ujar Bang Salman. Sayangnya, kami lebih memilih bermalam di Deumit.

Baiklah, di hari kedua, Minggu pagi. Kami meluncur dari penginapan. Mengambil jalan yang sama saat kami ke Mercusuar Pulo Nasi, melalui jalan S Desa Rabo dengan lanskap yang sama pula.

Pantai-Nipah-dari-Jauh
Pantai Nipah dari puncak ‘Jalan S’ Desa Rabo. Photo: Makmur Dimila

Tidak ada plang nama yang menunjukkan lokasi objek wisata di sepanjang jalan utama Pulo Nasi, tetapi Cek De yang pernah ke mari tahun lalu, langsung memandu kami untuk belok kiri ketik menjumpai lorong di kiri jalan–sebaiknya gunakan jasa guide jika tak mau tersesat, hehe.

Kami menerobos rusuk-rusuk hutan tropis. Tidak ada bau kulit manusia. Tetapi saya melihat dua cottage kayu tak terurus, sesaat sebelum mencapai pantai: bagai rumah hantu.

Hutan-Pantai-Nipah
Rimba sebagai gerbang masuk Pantai Nipah. Belum ada yang kelola. Photo: Makmur Dimila

Langit sedikit berawan meskipun hari cerah. Ombak agak tinggi walau jam 8 pagi. Saya dan Cek De, menyusuri pantai, belum ada bekas tapak manusia. Ampon dan Ikbal, seperti biasa, mencari sudut yang menarik bagi hobi fotografi mereka. Saya mencari papan untuk bermain selancar.

Tadinya, sejak menjelang berangkat dari Banda Aceh, saya ingin snorkeling di Pantai Nipah.

Mandi-di-Nipah
Rupanya, Ampont el-David sempat motret kami mandi. Thanks Bro.. 😀

Namun, cuaca buruk mengubah rencana, saya tak bisa menggapai titik terumbu karang yang jauh ke depan. Akhirnya saya keluar dari air dan mengajak Cek De cari papan selancar.

Ada aroma seram di pantai yang sepi ini. Ya, menurut cerita Abu Kasem Pantai Deumit, korban tsunami Aceh 2004 juga banyak hanyut dan tersangkut di bibir pantai-pantai di Pulo Nasi. Di antaranya Pantai Deumit dan Pantai Nipah. Pantas saja, saya tadi melihat kuburan massal di pinggir jalan Desa Rabo.

Dan, saya menemukan sepotong papan dengan panjang satu meter, selebar papan dinding rumah. Salah satu sisinya runcing. Saya balik badan dan mengajak kedua teman tadi melepas kamera dan mari berselancar.

Pasir-Putih-Pantai-Nipah
Indah, tapi sepi. Photo : Makmur Dimila

Air Pantai Nipah sangat jernih. Begitupun pasir yang lembut. Aman bagi kaki kita saat merendam diri atau sekadar have fun. Ketika ombak datang, saya meluncur dengan papan, tapi tak bergerak!

Kon meunan hai,” seru Ikbal dari tepian.

Dia akhirnya masuk air. Saya serahkannya papan selancar itu. Lihatlah, dia bagai peselancar yang mafhum sekali, pertama berjalan mencari titik ketinggian gelombang. Lalu, ombak datang..

Cuuuuuu… Ikbal benar-benar meluncur bersama papan itu hingga ke tepian.

Kuncinya, kayuhlah dengan tangan selagi dada menekan papan ketika meluncur. Tadi saya tidak kayuh, hanya memeluk papan. Haha.

Selalu ada solusi ketika berjalan bersama. Tetapi tidak ada yang memotret kebersamaan kami berempat pagi itu. Benar-benar “silent beach”. 😀

Pantai-Nipah-dari-Ketinggian
Memandang Pantai Nipah dari puncak Jalan S Desa Rabo. Andai ada kedai kopi di sini, hm.. Photo : Makmur Dimila

Sejam berlalu di Pantai Nipah, kami kembali ke Deumit. Di sana, di bibir pantai dekat penginapan kami, ada satu sumur berair tawar. Dengan air itulah, kami hapus rasa asin dari badan.

“Air ini bisa tawar karena tanah di bawahnya padat,” jelas Abu Kasem pada saya, sehingga air laut yang terpaut hanya 15 meter dengan sumur tidak sampai mempengaruhi keadaan air sumur ini.

Nah, alam menjelaskan banyak hal. Sepertinya, air tawar di sumur tua Pantai Sumur Tiga Sabang juga disebabkan oleh keadaan tanah yang padat.

Writer : Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

SEBELUMNYA, Kesejahteraan Nelayan Pulo Nasi

3 thoughts on “Pantai Nipah Pulo Nasi, Mandinya itu di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *