Wonderful Ramadhan in Aceh, Tak Usah Kemana-mana

Masjid Oman Banda Aceh

“Temanku yang fotografer bilang, aku salah mengatakan bukan waktu yang tepat ke Aceh saat bulan Ramadhan,” cerita Agustinus Wibowo, penulis buku Garis Batas. “Justru Ramadhan di Aceh sangat indah,” sambungnya dengan nada kesal.

Travel writer kondang itu beberapa kali mengungkapkan kekesalannya. Terakhir dilontarkannya saat kami bertemu ketiga kalinya di Banda Aceh, di bulan Ramadhan 1437 hijriah, di cafe berbeda dalam agenda buka puasa bersama.

— —

Selama bulan Ramadhan ini, saya tidak pernah melampaui garis batas Kota Banda Aceh. Tidak pernah ber#safariku kemana-mana. Di saat para ustad dan cendekiawan muslim lainnya justru bersafari Ramadhan ke mana-mana.

Saya sangat menikmati Ramadhan di Aceh tahun ini. Lebih-lebih di malam hari, Kota Madani ini riuh dan hidup.

Setiap malam adalah festival rakyat. Mulai dari masyarakat buka puasa bersama, shalat tarawih berjamaah, tadarus, hingga nonton bola bareng: Piala Eropa dan Copa America!

Siangnya, Banda Aceh adalah kota mati. Jalanan sepi. Warga merayapi kembali lekuk-lekuk ruas kota menjelang berbuka puasa; berburu takjil, atau ngabuburit, dan mungkin ngantor sehabis siang.

Foto kiriman Muksalmina Blc (@muksalmina.blc) pada

Ramadhan layaknya sebuah festival—momen yang dinanti-nanti—benar-benar terasa di Aceh. Sebagian kalangan, bahkan tidak bekerja selama sebulan itu. Melainkan pulang kampung, menghabiskan waktu bersama keluarga dan total beribadah.

Kamu perlu menyusuri perkampungan di Aceh, jika ingin menemukan suasana lebih meriah dari ibu kota provinsi.

Di setiap desa, kamu akan mendengarkan suara orang yang sedang tadarus dari meunasah—kamu bisa bergabung untuk ikut membaca Alquran bersama warga, dan barangkali akan dikejutkan oleh teriakan gol dari warung kopi.

Pun kamu akan menemukan kuliner yang khas, yang mustihal dicicipi di bulan selain Ramadhan. Baik penganan untuk berbuka puasa, semisal sambai peugaga, maupun untuk sahur seperti sambai gue awe–yang berbahan utama hati rotan.

Foto kiriman Makmur Dimila (@makmurdimila) pada

Maupun anak-anak yang antri di meunasah pada sore hari, untuk dituangkan kanji rumbi ke dalam mangkuk yang dibawanya dari rumah; lantas disantap sekeluarga.

Suasana itu tidak akan dirasakan orang Aceh yang tinggal di luar daerah. Saya mengalami itu, misalnya, pada Ramadhan tahun lalu.

Lebih dari separuh Ramadhan 1436 hijriah saya lalui di Pulau Jawa. Dan saya tidak menyesal.

Di luar Aceh, saya punya tantangan berat agar tetap bisa berpuasa. Godaan muncul dari mana saja. Dalam Transjakarta, jalanan, hingga di tempat tinggal.

Malam-malam Ramadhan di Pulau Jawa nyaris sama persis dengan malam-malam di bulan lainnya. Jam kerja tetap seperti biasanya.

Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu benar-benar menikmati Ramadhan di luar Serambi Mekkah. Lebih mudah jika kamu tinggal di kawasan yang dihuni oleh mayoritas dari komunitas yang sama.

Namun, di mana pun berada, saya akan (wajib) menyukai suasana saat itu. Bukankah itu inti sebuah perjalanan? Saya berharap tahun depan bisa Ramadhan di luar negeri. #Amin 😀

Foto kiriman Makmur Dimila (@makmurdimila) pada

— —

“Kawanku bangun pagi saat siang nanti. Aku tidak terbiasa tidak melakukan apa-apa di pagi hari. Aku mau lihat suasana, juga harus menunggu di malam hari. Pola hidupku berubah selama di Aceh.”

Agustinus biasanya tidur di awal malam dan bangun selepas tengah malam. Lalu meditasi, bekerja, dan siangnya ke lapangan jika dalam perjalanan mengumpulkan informasi. Dia ke Aceh menggali data untuk satu bab dalam buku terbarunya kelak.

Aku nyesal juga datang ke Aceh di bulan Ramadhan.”

Agustinus Wibowo di Aceh
Siluet Agustinus Wibowo di sebuah cafe di Banda Aceh. Selama di Serambi Mekkah, ia kerap mewawancarai orang-orang di warung kopi, setelah waktu shalat tarawih berlalu. Foto: Makmur Dimila

Tapi saya justru senang bertemu dengannya di bulan Ramadhan ini. Ada beberapa pelajaran hidup kutangkap dari pria berkacamata itu.

Di sisi lain, penyesalannya ke Aceh pada Ramadhan tahun ini, barangkali, akan membuatnya harus beterimakasih di masa depan. Bahwa pengalaman itu akan mewarnai narasi dalam bukunya nanti. Bahwa ia tidak salah ke Aceh di bulan puasa.

Itulah sepotong pesona Aceh, yang takkan ditemui di bulan lain. Kamu layak mengagendakan menikmati sensasi “Ramadhan in Aceh” tahun depan.[]

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

 

12 thoughts on “Wonderful Ramadhan in Aceh, Tak Usah Kemana-mana

    1. Kerennya, kami sama2 ga pernah ajak ketemuan. Selalu bertemu tanpa direncanakan. Hehe.
      Iya ya, dia nampaknya akan berkesan sekali dengan Ramadhan di Aceh. 😀

  1. Alhamdulillah, respon positif pertanda indahnya #RamadhandiAceh mesti jadi agenda tahunan untuk menikmati suasana yg memang beda. 🙂

    1. Iya memang sudah layaknya dijadikan agenda tahunan, lebih2 jika Aceh berhasil mendapat predikat destinasi wisata halal dunia tahun ini. Amin… 😀

    1. Hehe, ingin belajar juga dari dia.
      Sebaliknya, asik kali cerita dirimu temenin sang idolanya.
      (Saya pun setuju dengan komen Bang Agus soal video tsunami itu. Semestinya memang, setiap pengunjung yang masuk Museum Tsunami akan membawa pulang semangat hidup yang lebih kuat dari sebelum ia masuk, bukan malah bertambah kesedihannya. 😀
      Anyway, tampilan blog barumu itu bagus. Tapi kok ga bisa ditinggali komentarnya, dengan beberapa profil account yang sudah kucoba: Google dan Name/URL. Why? :D)

        1. Tadi coba lagi dengan browser Chrome ga bisa, pas dicoment di browser Safari langsung bisa tuh. Chrome-nya sudah harus diupdate kali. hehe

  2. Mw ikutan komen jugalah 😀
    Fotonya bagus 😀
    Semoga tahun depan bg makmur ramadhan di luar negeri. Aamin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *