Saya muslim dari Aceh, provinsi di ujung barat Indonesia yang dikenal daerah dengan penerapan hukum Syariah Islam, tengah berada di Melbourne, Australia, negara dan benua yang minoritas muslim.

Apakah saya akan baik-baik saja selama di sini?

Saya tepiskan keraguan itu. Sekarang saya sudah di luar negeri. Saya sedang diberi kesempatan melihat dunia.

Saya sudah di Australia. Saya sedang diberi kesempatan melihat hal-hal positif di Negeri Kangguru ini, hal-hal yang mungkin tidak saya dapat ketika hanya bermimpi ke benua ini tapi tak pernah mencoba mengunjunginya.

Memang, sebelum saya berangkat, saya dengar isu-isu islamofobia yang berkembang di Australia. Tapi di sisi lain, saya menguping, banyak orang Indonesia (yang mayoritas muslim) bisa betah tinggal di sejumlah negara bagian di Australia.

Sekarang lah saatnya saya membuktikannya.

Menemukan Makanan Halal

Saya berjalan kaki keluar dari Quest Carlton on Finlay, apartemen bintang tiga di kawasan Little Italy, Kota Melbourne. Tujuan saya mencari makanan halal, syukur kalau dapat makanan Indonesia.

Saya susuri jalan setapak Lygon Street, melewati blok-blok bangunan bergaya gothik. Dedaunan London Plane berwarna kuning kemerahan berserakan di taman. Suhu dingin belasan derajat Celcius menembusi jaket tebal yang membungkus badan saya.

Seraya menyilangkan tangan, saya terus berjalan menuju Argyle Street. Setelah 5 menit jalan kaki, saya melihat tulisan “Minang Indonesian Cuisine” yang menyempil pada bangunan di sebuah blok.

Menu favorit saya dari Noorsiah’s Kitchen. Foto: Makmur Dimila

Sudah empat hari di Melbourne belum sempat menyantap makanan khas negeri Ibu Pertiwi, lalu menemukan restoran Padang itu, orang Indonesia mana yang tak gembira?

Saya langsung masuk ke rumah makan ala Minang itu. Ada rendang, ayam goreng, nasi putih, dan ragam lauk khas rumah makan Padang lainnya. Nasi putih plus ayam dan bakwan, itu pesanan saya.

Seketika itu juga, saya merasa harus berterimakasih kepada Pak Rizal, seorang Indonesia yang sudah 40 tahun tinggal di Melbourne dan berprofesi sopir; dia yang memberitahu saya ada warung makan Padang tak jauh dari tempat saya tinggal. Sebelumnya kami bertemu di sebuah masjid.

Petualangan saya menemukan restoran halal tak berhenti di sini.

Esoknya, satu per satu saya buru restoran halal terutama yang khas Melayu.

Ternyata tak jauh dari Minang Indonesian Cuisine, ada Noorsiah’s Kitchen punya orang Malaysia. Di sini saya sering pesan ayam goreng (ala Upin Ipin) dan teh tarik khas Malaysia.

Dan tak saya sangka juga, ada Killiney Kopitiam, restoran Singapura, yang cuma dua menit jalan kaki dari apartemen saya. Di sini saya menyantap nasi uduk pakai teri dan kacang tanah goreng, ditemani secangkir kopi tiam yang berkarakter itu.

Di kemudian hari, saya jatuh cinta dengan Nelayan Indonesian Restaurant di kawasan CBD (Central Business District/Kawasan Pusat Bisnis) di Pusat Kota Melbourne.

NelayanRestorantMelbourne

Restoran ini boleh dibilang menyajikan menu terlengkap untuk lidah Melayu. Orang Indonesia seperti saya akan sangat senang makan disini. Saya biasa makan rendang, ayam penyet, teri, mi, hingga pempek.

The Uleg, dapur Indonesia di sudut kota lainnya, saya sambangi di lain hari. Di sini ada menu sate bakar, ikan sambal lado, cendol, dan sup sum-sum.

Saya yakin, masih banyak restoran halal lainnya di Melbourne. Namun beberapa nama tadi sudah cukup menjadi referensi bagi Anda yang butuh restoran halal di kota yang didapuk sebagai Kota Pusat Sastra Jalanan oleh UNESCO itu.

Salat di Bisa Dimana Saja?

Perputaran waktu di Australia lebih cepat 4 jam dari Indonesia. Soal waktu salat, saya cukup melihat di aplikasi panduan muslim dari smartphone, selain menandai gejala alam.

Misal bila Subuh datang, saya kerap mendengar gagak hitam ‘berkokok’. Tak ada kukuruyuk ayam. Gagak akan membunyikan “oak, oak, oak” sebagai alarm di keheningan fajar.

Suaranya cukup keras untuk membangunkan saya.

Agryle Park Melbourne
View dari Agryle Park Melbourne di malam hari. Foto: Makmur Dimila

Tapi sesungguhnya, persoalan di Aussie—sebutan warga untuk Australia—bukanlah waktu salat, melainkan bagaimana menemukan tempat ibadah atau “menciptakan” musala pribadi.

Kalau di tempat tinggal, gampang. Cukup tentukan arah kiblat dan salat di kamar. Tapi saat beraktivitas di luar, hal itu menjadi sebuah tantangan.

Pada hari kedua di Melbourne, saya menjumpai waktu salat Zuhur saat sedang santai di sebuah taman. Kebetulan dalam tas saya ada sajadah.

Karena sulit mencari masjid terdekat, saya pun menggelar sajadah di taman dipenuhi daun London Plane. Lalu salat di ‘musala pribadi’ itu.

Menurut kawan saya hari itu, sejumlah pejalan kaki melihat kegiatan ibadah saya, namun tak ada yang mencemoohinya.

Adapun masjid pertama yang saya jumpai di Melbourne adalah masjid milik Komunitas Muslim Albania Australia di Drummond Street. Itu hari Jumat pertama saya di Australia. Saya penasaran bagaimana atmosfir Jumatan di negara bekas jajahan Inggris itu.

Hari itu, saya minta izin break siang lebih cepat dari peserta lain. Dengan senang hati, sang pengajar mempersilakan saya untuk Jumatan.

Sangat welcome; betapa senangnya saya, kalau Anda bisa membayangkan di posisi saya saat itu.

Hanya perlu jalan kaki dua blok dari Ames Street, Carlton Utara, tempat saya belajar, saya menemukan Masjid Albania, yang disinyalir sebagai masjid pertama di Melbourne—diresmikan 1969.

MasjidAlbaniaMelbourneSafariku
Masjid Komunitas Albania, Melbourne. Foto: Makmur Dimila

Saya dapati beragam kultur dan etnis pada wajah jamaah Jumatan. Tak hanya orang Afrika, saya juga melihat orang-orang kulit putih, pun wajah Asia.

Menariknya, Khatib berceramah dalam dua bahasa. Pertama ia menyampaikan dalam Bahasa Arab, lalu diterjemahkan ke Bahasa Inggris.

Pengurus masjid mempertimbangkan, masjid ini bukan hanya untuk muslim Albania, tapi seluruh muslim dari berbagai latar yang ada di Aussie, bisa salat di sini.

Tahu apa? Di masjid inilah saya bertemu Pak Rizal, sopir taksi asal Indonesia yang merekom saya beberapa restoran halal tadi.

Belanja Makanan Halal

Saya sudah tahu beberapa tempat restoran halal dan masjid-masjid, berikutnya dimana kita bisa menemukan bahan makanan halal untuk dimasak sendiri di rumah?

Tenang! Ada pasar tradisional terkenal yang disarankan, yaitu Queen Victoria Market.

Para Melbournian—sebutan untuk warga kelahiran Melbourne—menyebut pasar yang diresmikan pada 1878 itu dengan akronim Vicmart (baca: Vikmart).

Vicmart dibagi dalam tiga blok: A, B, dan C. Masing-masing untuk pasar daging dan ikan, satu untuk buah-buahan dan sayur-mayur, satu lagi untuk pakaian dan suvenir.

VicmartMelbourneSafariku
Belanja di Vicmart tidak seperti kita belanja di pasar tradisional di kota kita. Disini bersih, rapi, dan nyaman. Foto: Makmur Dimila

Untuk mencari makanan halal, ada tiga tips dari saya. Pertama, lihatlah pedagang dari negara muslim. Kedua, tanyakan apakah itu diproses secara halal? Ketiga, pastikan sendiri makanannya memang halal baik dari sifatnya maupun pengolahannya.

Khusus makanan yang sudah di-packing, Anda bisa lihat label halal di kemasannya.

Selain di Vicmart, ada juga pasar modern yang direkomendasikan dan cukup populer di Melbourne, yaitu Woolworths. Melbournian menyingkatnya jadi Wool’s (baca: Wulis).

Di Wool’s inilah, saya bisa menemukan sembako. Apa yang dibutuhkan, ada. Anda cukup melihat label halal di setiap kemasan produk. Saya bahkan kaget saat melihat Indomie!

IndomiediWool's
Senangnya menemukan ‘surga Indomie’ di Wool’s. Foto: Makmur Dimila

Ya, ada rak yang menjajakan mi instan made in Indonesia. Di titik ini, saya merasa bangga menjadi Indonesia. He-he. Tentu, saya dan kawan memborong Indomie untuk dimasak di apartemen.

Melbourne yang Multikultural

Melbourne adalah ibu kota negara bagian Victoria, Australia. Populasinya mencapai 4,936 juta jiwa (2018) dan menjadi kota terpadat kedua di Australia.

Kota ini dipenuhi para imigran dari berbagai benua; saya bisa melihat itu dengan hanya menaiki trem atau jalan kaki di sepanjang pedestrian.

Melbourne juga meraih penghargaan kota paling layak huni di dunia atau the world’s most liveable city, bahkan secara beruntun dalam kurun 2011-2016.

FlindersStreetStationMelbourneSafariku

Penghargaan ini diberikan oleh Economist Intelligence Unit (EIU) Majalah The Economist, yang melakukan pemeringkatan 140 kota di seluruh dunia berdasarkan faktor pelayanan kesehatan, pendidikan, stabilitas, budaya, lingkungan dan infrastruktur.

Secuil pengalaman saya pada 2015, yang saya tuturkan tadi, membuktikan Melbourne memang kota layak huni di dunia. Tak ada islamofobia (ketakutan kepada pengaruh agama Islam), bahkan tak ada diskriminasi terhadap agama apapun.

Melbourne kota yang sangat ekspresif.

Saya menyimpulkan Melbourne sebagai kota pariwisata yang dibungkus dengan multikulturalisme; kota pariwisata yang memberdayakan kreativitas seluruh bangsa; kota pariwisata yang mempertemukan manusia di 2.000 lebih kedai kopi modern; kota yang saling menghargai.

Wisata Halal Australia

Makin kesini, Aussie makin gencar dengan program dan promosi wisata halalnya.

Setahu saya, Negeri Kangguru mulai memperkenalkan wisata halal pada 2016 dengan merilis sejumlah restoran halal di beberapa negara bagian.

Secara terang-terangan, Aussie mengembangkan wisata halal untuk pejalan muslim sejak 2018. Hal ini sejalan dengan indeks pertumbuhan wisatawan muslim global.

TamandiMelbourneSafariku
Taman dipenuhi dedaunan London Plane menjelang winter di Melbourne. Foto: Makmur Dimila

Untuk mengejar segmen wisata halal, Pemerintah Australia melalui Tourism Australia–agen Pemerintah Australia yang bertanggung jawab menarik pengunjung internasional ke Australia untuk tujuan liburan dan bisnis–melakukan sertifikasi halal terhadap restoran dan perhotelan.

Tourism Australia bekerjasama dengan Crescentrating, memberikan rate halal kepada penyedia jasa dan usaha pariwisata.

Melbourne, Sydney, Brisbane, Perth, Gold Coast, dan kota besar lainnya di Aussie, menjelma sebagai destinasi wisata halal dunia. Ragam paket wisata halal dipasarkan ke negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia.

Hal ini disambut pula oleh pelaku usaha pariwisata di Bumi Pertiwi, semacam Cheria Holiday, yang menawarkan variasi paket tur wisata halal Australia.

Wisata halal bukanlah tentang mengelompokkan destinasi wisata berdasarkan agama tertentu, tetapi bagaimana memenuhi kebutuhan muslim saat berwisata tanpa mengabaikan kebutuhan turis non-muslim.

Indonesia patut belajar dari Australia.

Saat menuliskan cerita ini, saya terpaut 7.030 km ke barat laut Melbourne. Saya yakin ada banyak hal yang sudah berubah di Melbourne, apalagi semenjak wisata halal bergemuruh. Berharap, saya dapat segera kembali dan tinggal di sana.[]

Writer: Makmur Dimila

Lomba Blog Cheria Holiday #9 2019

2 COMMENTS

  1. Bagus sekali tulisannya, menginformasikan pada pembaca bahwa makanan yang halal tak hanya pada zatnya, tapi juga bagaimana ia di proses sesuai dengan syariah islam. Hal yang sangat penting diketahui oleh muslim di negara minoritas, untuk wajib mengkonsumsi makanan yang halalan thayyiban 🙂

  2. Iya benar sekali, jangan mudah percaya dengan label halalnya. Sebagai smart moslem traveller, kita harus pintar2 memilih dan memilah makanan. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here