Sensasi Wisata Halal di Aceh Selatan #Cahaya Aceh (3)

wisata-halal-aceh-selatan

Setiap kali melintasi Kota Tapaktuan, selalu disuguhi kenangan baru. Di antara pegunungan dan lautan, daerah ini menyimpan ragam ‘Pesona Indonesia’ atau ‘Cahaya Aceh’ yang menjadi spirit kepariwisataan Nusantara saat ini: wisata halal.

Kamu barangkali akan lebih mengingat ibukota Kabupaten Aceh Selatan itu sebagai Kota Legenda atau Kota Pala.

Legenda, sebab cerita rakyat pertarungan Tuan Tapa dengan Naga yang masih dilestarikan hingga kini. Pala, sebab daerah penghasil terbesar di Aceh. Tapi memori saya tentang Tapaktuan lebih dari itu.

1.0. Ramah Wisatawan

wisata-halal-aceh-selatan
Abdul Muthaleb Depari warga melayani seorang Tim Famtrip Susuri Cahaya Aceh dari Pantai Barat, dari gubuk di tepi Pantai Lhok Pawoh, Sawang. Photo: Zulfan Helmi.

Kota Tapaktuan sejatinya menggambarkan sebuah destinasi budaya ramah wisatawan terbaik, di Aceh, kalau belum pantas disebut di Indonesia.

Beberapa kali saya melancong ke daerah ini, cermin hospitality (keramah-tamahan) saya rasakan begitu maha: satu unsur penting dari wisata halal.

Suatu pagi di bulan Juli 2016, saya berhenti di tepi jalan nasional Tapaktuan – Medan di Desa Lhok Pawoh, Kecamatan Sawang, Aceh Selatan, yang diapit pegunungan dan lautan.

Panorama Pantai Lhok Pawoh dari tepi jalan yang membuat saya dan kawan-kawan turun ke jalan. Niatnya berhenti sebentar saja.

Tapi tiba-tiba, seorang pria berusia 71 tahun, Abdul Muthaleb Depari, warga setempat, menawarkan kami untuk eksplor objek wisata alam tak jauh dari Air Terjun dan Pantai Air Dingin yang hendak kami tuju di depan.

Dengan senang hati, ia giring kami ke perkampungan. Ia kayuh sepeda dan kami mengekorinya dengan mobil. Ia cukup bersahaja menuntun kami masuki lorong desa, hingga 100 meter.

Di batas desa dengan kaki bukit, diperlihatkannya kami Air Terjun Tuwie Lhok yang asri.

wisata-halal-aceh-selatan-3
Kolam Air Terjun Tuwie Lhok. Photo: Makmur Dimila

Ada kolam besar di bawah air terjun itu yang biasanya menjadi kolam renang alami bagi turis lokal di hari libur.

Air Terjun Tuwie Lhok, menurut Abdul, sering didatangi warga Aceh Selatan, Aceh Barat Dayah, bahkan Subulussalam.

Deru air jatuh dari bukit cukup deras, mengalir melalui alur yang turun ke desa-desa. Pipa saluran air juga membentang di sekitar objek wisata.


TIPS: Pengunjung tidak boleh berbaur antara lelaki dan perempuan, serta harus sudah meninggalkan objek wisata itu pada jam 5 sore.

 

2.0. Taat Beragama

wisata halal aceh selatan
Pepohonan kurma menghiasi halaman Masjid Agung istiqamah Tapaktuan. Photo: Ikbal Fanika

Di pusat Kota Tapaktuan, kubah Masjid Agung Istiqamah ala Turki berkilau oleh sinar mentari, dengan pohon palem di halamannya.

Kuning keemasan dan merah bata mendominasi fasad masjid itu.

Seorang anggota famtrip, Yudi, sempat terhenyak oleh pertanyaan seorang jamaah, saat kami salat Zuhur di masjid itu.

Selagi duduk bersandar di salah satu tiang penyangga teras masjid, owner HikayatBanda.com itu disergah, “Hei! Tidak shalat?”

Pernyataan yang mungkin tidak akan didapatnya di kota-kota besar yang penuh birahi kesibukan dunia.

Tentu saja dia salat. Hanya, dia saat itu sedang berbagi tugas dengan bininya. Gantian salat demi menjaga sepasang anak mereka yang ikut dibawa famtrip, untuk membuktikan bahwa Barat Selatan Aceh family friendly untuk dikunjungi.

Saya sendiri mendapati, masjid-masjid di Aceh Selatan baik masjid mukim maupun di desa-desa, selalu bersih dan rapi saat dimasuki, meskipun tidak sedang masuk waktu salat.

Umumnya, masjid itu minimalis dan berkubah ala Timteng: bulat mulus dan runcing ujungnya.

“Tidak ada kubah salak,” kata kawan saya yang lain, Fakhri, merujuk fasad kubah masjid di Aceh pada umumnya, yang beberbentuk seperti kulit buah salak.


TIPS: Selama mengikuti adat dan budaya setempat, kamu akan aman-aman saja di Aceh Selatan.

 

3.0. Menjadi Manusia 

wisata-halal-aceh-selatan-8
Menuju situs Tapak Tuan Gunong Lampu dipandu oleh guide lokal. Photo: Zulfan Helmi.

Dari masjid, destinasi terbaik dan terdekat adalah Tapak Tuan Tapa di Gunong Lampu. Di situs itu, saya bernostalgia.

Tiga April silam, saya melihatnya dengan sempurna dari dinding Gunong Lampu, Kota Tapaktuan, yang diapit Samudera Hindia.

Jumat pagi itu, kaki saya harus melangkah hingga belasan kali untuk berhasil mengelilingi replika bekas pijakan tapak kaki kanan Tuan Tapa.

Saya bahkan menatapnya yang terlihat sekecil jempol tangan dari ketinggian menara di puncak Gunong Lampu.

Tapi pada akhir Juli lalu, tamparan ombak membuat kami dilarang menyentuh tapaknya itu.

Pemandu mengingatkan kami agar hati-hati, sebab gelombang laut sedang tak bagus.

“Jangan memaksa diri untuk turun kesana,” ujar seorang pemandu wisata.

Pengunjung memang harus turun ke tebing yang berbatasan langsung dengan laut lepas, jika ingin melihat dekat Situs Tapak Tuan Tapa. Tapi jika kondisi tak memugkinkan, bersabar sajalah.

Saat kami ke sana, belumlah genap 7 hari meninggalnya Darul Quthni (50). Penulis buku cerita legenda Tuan Tapa dan Puteri Naga itu mengembuskan nafas terakhirnya di objek wisata sejarah yang ditulisnya.

Almarhum pada pagi Jumat, 22 Juli 2016, mengambil lokasi syuting di situs Tapak Tuan Tapa, bersama kru Dai TV dari Sumatera Utara.

“Almarhum menolak ditemani. Dia bilang dia tidak perlu pemandu,” kata pemandu kami.

wisata halal Aceh Selatan
Beruntungnya, pada April 2014, saya dan teman dibolehkan naik ke menara di puncak Gunong Lampu untuk melihat Tapak Tuan Tapa dari ketinggian. Tapi belakangan, dilarang naik ke menara itu. Photo: Ikbal Fanika

Ketika pengambilan gambar berlangsung, tiba-tiba, ombak besar menerjang dari belakang. Menghempas Darul dan seluruh kru TV ke tebing gunung, lalu menyeret (hanya) pria asal Terbangan, Aceh Selatan itu ke laut hingga tenggelam.

Berselang lima menit, ia ditemukan sudah mengapung tak bernyawa, tak jauh dari lokasi syuting. Sementara kru TV berhasil menyelamatkan diri.

“Situs tapak Tuan Tapa itu keramat. Kita memang tidak boleh ria dan sombong jika ingin kesana. Alam akan memberikan tanda-tanda,” ujar Yusuf (55) warga Gunung Kerambil, Tapaktuan.

Dia suatu kali pernah membawa rombongan ke situs Tapak Tuan Tapa di Gunong Lampu. Dia sempat melakukan ritual “bertutur sapa dengan alam”.

Dia mengatakan kalau memang diizinkan melihat situs itu, maka lindungilah, tapi jika memang tidak dibolehkan, maka tunjukkanlah tanda-tanda.

“Pada Jumat pagi itu, tiba-tiba ombak menerjang besar. Kami yang masih menyusuri tepi tebing, akhirnya saya ajak meninggalkan tempat itu,” kenangnya.

Situs Tapak Tuan Tapa sering makan korban di hari Jumat. Ingat saya, saya juga ke objek itu dua tahun lalu pada Jumat pagi. Syukurnya, saya dan seorang teman asal Aceh Selatan, “diizinkan” menjejaknya.


TIPS: Biarkan pemandu wisata menemanimu selama mengunjungi Tapak Tuan Tapa. Mereka tidak mematok tarif, hanya sumbangan seikhlasnya.

 

4.0. Sadar Wisata

wisata-halal-aceh-selatan-7
Jambo yang mengawali pertemuan dengan warga Desa Ujong Pulo Raya, Kecamatan Bakongan Timur. Photo: Makmur Dimila

Di Tapaktuan, setiap orang menyapa bagai pernah bertemu. Setiap orang menjamu seakan-akan tak ingin berpisah. Setiap kisah terjalin seolah-olah tak pernah putus.

Harus diakui, Kota Tapaktuan memiliki unsur sapta pesona yang dibutuhkan setiap wisatawan: aman, tertib, besih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.

Namun tak hanya di Kota Tapaktuan, bahkan nyaris di seluruh kawasan Aceh Selatan menyimpan pesona budaya wisata halal.

Misal ketika kami singgah di Pantai Ujong Pulau Raya menyaksikan sunset di pengujung Juli lalu. Warga lokal yang tengah bercengkerama di kedai tepi pantai langsung menyambut dan menawarkan saya kacang rebus.

Belasan boat berjejer di tepi pantai. Kami mendekati nelayan yang hendak melaut. Kami dibolehkan ikut membantu mereka mendorong perahunya yang hendak mencari ikan ke laut.

Di seberang, membentang dua pulau kecil. Pulau Kayee dan Pulau Teungku. Populer disebut Pulau Dua.

wisata-halal-aceh-selatan-6
Panorama Pantai Ujong Pulau Raya, Bakongan Timur. Photo: Makmur Dimila

Jasmadi, warga Desa Ujong Pulau Raya, Kecamatan Bakongan Timur, pemilik perahu kayu yang kami dorong itu bilang, sudah sering wisatawan dari luar Aceh Selatan melancong ke Pulau Dua.

“Saya juga bersedia mengantar kalian ke Pulau Dua itu, jika mau,” tawarnya.

Pulau Kayee paling sering disinggahi turis. Biasanya untuk berkemah dan rekreasi. Hanya 15 menit naik boat dari tepi Pantai Ujong Pulau Raya ini. Jasmadi juga sediakan homestay bagi wisatawan.

Di barat, matahari mulai turun. Magrib menjelang. Kami pamit. Melanjutkan perjalanan ke Singkil, membelah rawa-rawa di tengah malam.[]


Dukung Aceh yang mewakili Indonesia di kategori The World’s Best Halal Cultural Destination pada kompetisi World Halal Tourism Awards (WHTA) 2016 yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pemungutan suara online (e-voting) akan berlangsung tanggal 24 Oktober – 25 November 2016.


Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

8 thoughts on “Sensasi Wisata Halal di Aceh Selatan #Cahaya Aceh (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *