Orang Pulo Aceh Ketika Dihibur

Likok Pulo Aceh

Gerimis tak mereda. Animo warga juga tak surut. Sebentar lagi digelar hiburan yang langka bagi masyarakat Pulo Aceh.

Isya baru tiba. Kerlap-kerlip lampu kendaraan menuruni bukit terlihat dari Pelabuhan Lamteng, Pulo Nasi.

Pelabuhan Lamteng Pulo Aceh
Pelabuhan Lamteng Pulo Aceh, siap menyambut kedatangan pelancong. Photo: Makmur Dimila

Pendar cahaya kendaraan-kendaraan itu baru padam di kompleks pelabuhan. Pengendarannya turun. Bergabung dengan sekitar dua ratusan orang lainnya yang datang dengan boat dari Pulo Breueh. Tentu juga para peserta Explore Destinasi Pulo Aceh.

Tadi seharian penuh. Para pehobi olahraga jet ski meliuk-liuk di perairan Pulo Aceh dan Banda Aceh.

Sejumlah diver dari komunitas selam menikmati ekosistem laut yang terawat di pulau kecil sekitar Teluk Lamteng, Pulo Nasi, juga para snorkel.

Awak media merasakan tantangan hebat dalam trip ke Mercusuar William’s Torrent, Pulo Breueh.

Sebaiknya dibaca: Terungkapnya Tantangan Mercusuar Williams Torrent


Dan malam ini. Masyarakat akan disuguhi seni tari. Kesenian hampir punah bagi generasi Pulo Aceh ditampilkan di event yang langka: Likok Pulo, di samping adu tangkas seniman Rapi Daboh antara Desa Rabo Pulo Nasi dengan Desa Meulingge Pulo Breueh.

Dalam remang-remang di bawah tenda dan sekitarnya, anak-anak hingga orangtua, tampak sangat menikmati tembang Aceh bertema cinta dari Marwan serta kalimat-kalimat jenaka dilontarkan oleh komedian Aceh seperti Udin Pelor, Kuya Ali dan Apa Lahu.

“Saya mencari seorang yang mampu berbicara banyak bahasa untuk saya orbitkan menjadi bintang.”

Kuya Ali yang mengenakan pakaian serba hitam: celana, jas, kecuali topinya, menguji masyarakat Pulo Aceh dari atas panggung.

Sebelumnya ia telah jelaskan, event ini digelar untuk mempromosikan potensi wisata Pulo Aceh. Kelak jika ada turis asing datang setidaknya ada warga yang bisa berbahasa Inggris.

Likok Pulo Aceh
Syekh berjalan di atas para penari pengapit dalam pertunjukan Tari Likok Pulo Aceh. Photo: Makmur Dimila

“Adakah di antara kerumunan penonton? Silakan naik panggung. Janji, akan saya jadikan bintang!”

Beberapa saat tak ada yang menyahut. Kuya kembali berseru dengan mikrofon. Penonton tiba-tiba bersorak saat seorang pria mungil naik pentas dari sisi kanan panggung.

“Apa Lahuuuu!” Sorak hadirin.

Pria itu komedian tersohor bagi masyarakat Aceh, ke pulau terisolir sekalipun. Banyak film layar lebar Aceh laris gegara penuturan konyolnya yang jenaka dan berbobot.

“Kalau ada dua bule datang ke Pulo Aceh, bagaimana bahasa Inggris-nya?”

Kuya Ali tanyai Apa Lahu soal kemampuannya berbahasa Inggris.

Tourist,” sahut Apa Lahu merujuk asal kata ‘dua’ kepada ‘two’.

Joke komedian terus berantai hingga setengah jam lebih. Cukup memulihkan haus hiburan masyarakat Pulo Aceh, tapi tidak bagi saya.

Hias Inai Pulo Aceh
Anak-anak usia dini dihias inai, salah satu daya tarik dari hiburan malam Explore Destinasi Pulo Aceh Photo: Makmur Dimila

Menjelang pergantian hari, barulah muncul yang saya nantikan.

Dua belas remaja — salah satunya ketua tim yang disebut Syekh — menampilkan gerakan kepala, tangan dan badan, dengan serentak dan lincah.

Gerakan-gerakan mengikuti bacaan syair Aceh oleh Syekh dan tabuhan gendang rapai itu disebut likok oleh masyarakat Pulo Aceh. Pun diperkuat dengan penyelipan property buah likok khas Pulo Aceh di jemari tangan para penari untuk menghasilkan suara “trak, trak, trak” ketika kedua tapak tangan bertemu.

Penonton dibuat histeris pada fase akhir.

Syekh melangkah hati-hati di atas “jembatan” tangan penari lainnya yang tetap bersimpuh. Di tengah-tengah, dia berhenti sejenak, lekas merunduk: menandai penampilan sudah berakhir.

Adegan itu tak pernah saya lihat dalam pertunjukan likok pulo sebelumnya. Malam ini benar-benari tari Likok Pulo Aceh.

Mereka turun.

Beberapa lagu cukup menyita perhatian penonton. Pengumuman MC akan tampilnya Rapai Daboh mendorong saya kembali ke sisi panggung.

Tim dari Pulo Nasi mendapat giliran pertama.

Para pemukul gendang rapai yang berusia 50-an duduk melingkar, sementara satu sampai tiga pria berusia lebih muda menghunus benda-benda tajam: pisau, silet, dan rencong (sejenis keris).

Mereka berlenggak-lenggok ikuti irama tabuhan rapai. Dan saat spiritnya membuncah, benda-benda tajam itu dilayangkan ke lengan atau paha mereka berkali-kali.

Berkali-kali pula, tusukan itu tak melukai hatimu meski ringis sakit terungkap jelas oleh ekspresi wajah mereka.

Penonton tercengang. Pun sederet anak-anak usia dini di hadapan panggung. Dan saya bisa melihat kegilaan seniman itu dari viewfinder kamera smartphone, yang juga dilakukan oleh penonton lain yang berdiri di kedua sisi pentas maupun berjongkok sejajar lantai panggung dari depan.

“Dengan pertunjukan Rapai Daboh nanti malam, kita ingin tunjukkan bahwa masyarakat Pulo Aceh juga punya seni dan budaya,” saya teringat ucapan Ismuha, Sekretaris Desa Meulingge, tadi siang, saat kami berjumpa di Pulo Breueh.

Ya, itulah seni masyarakat (Pulo) Aceh yang melekat dalam budaya masyarakat Aceh ketika berkumpul. Ada saja yang ditampilkan atau diceritakan jika sudah bersama-sama.

Hiburan yang tak hanya untuk menghilangkan suntuk di malam hari. Tapi juga bernilai edukasi: seni dan budaya mesti ditampilkan untuk memantik semangat generasi muda Pulo Aceh agar mempelajarinya.

Cukup meriah memang. Tapi ironis saat saya tanyakan pada Muslem, Ketua Tuha Peuet Desa Meulingge yang juga salah satu tim Rapai Daboh Meulingge, terkait kebanyakan orang tua yang tampil. Apakah generasi muda tak minat (pada Rapai Daboh)?

Sebaiknya dibaca: Pesona Pulo Breueh yang Tak Perlu Dihias


“Sebenarnya bukan tidak berminat. Kami telah buat pembinaan kepada anak-anak muda secara swadaya. Kadang itu butuh biaya. Ketika kami minta masyarakat kumpul dana secara patungan, mereka acuh tak acuh,” ujar pria berbadan mungil berusia 45 tahun ini.

“Perihal itu disebabkan oleh ketidakpedulian ‘atasan’,” sebutnya sebelum ia tampil, “dan kami harus buat pertunjukan sendiri setidaknya sekali dalam setahun, untuk menjaga budaya ini.”

Dia bicara panjang-lebar hingga tiba gilirannya mentas.

Malam semakin larut. Mata berat sekali. Angin laut menghembus kian dingin. Saya kembali ke tenda di tepi Pantai Deumit. Tabuhan rapai dari pentas masih terdengar, samar-samar. Seakan seni itu tak boleh diabaikan.[]

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *