Mengapung di Bekas Keperkasaan Malahayati

Cover Mengapung di Bekas Keperkasaan Malahayati

Situs-situs yang menunjukkan bekas arena pertempuran Laksamana Malahayati dengan pasukan Portugis tak saya temukan, meskipun saya sedang mengapung di perairan Teluk Krueng Raya.

Duduk bersila di atas “Rakit Busa” putih, saya hanya melihat air hijau pekat di sekitar saya. “Kita sedang di atas palong—palung laut,” ujar Ajir, yang lekas menyalakan kamera smartphone.

Kami sudah terpaut 100 meter ke barat tebing Teluk Krueng Raya, atau, sekira setengah kilo meter ke utara Pelabuhan Malahayati. Tapi masih bisa saya lihat beberapa pemuda pemancing yang menyewa Rakit Busa ini dari seorang pria tua, Yahwa Karya.

Setengah jam lalu, ketika saya istirahat di daratan bersama kawan-kawan perjalanan, seorang dari pemuda itu tanyakan kami apakah ada yang bawa pisau. Selagi bersantai di dahan pohon tepi pantai, saya sahuti tanpa tanyakan untuk apa.

Setengah jam berlalu, pisau banyak mata made in Swiss kesayangan saya itu tak kembali. Saya menyusul pemuda itu bersama Ajir: badannya berotot. Saya punya bodyguard, kalau-kalau pemuda tadi macam-macam.

Di balik tebing ke utara sana, di tepian jurang, pemuda itu rupanya hendak membakar hasil pancingan bersama kawan-kawannya. Saya tak jadi mendekat. Tapi berhenti di dekat Rakit Busa yang dilabuhkan di tepi pantai dipenuhi batuan karang nan cadas.

Busa selebar (sekitar) 1 meter kali 50 cm dengan ketebalan sejengkal itu teronggok berguncang-guncang oleh riak. Sekeliling sikunya dikepit dengan belahan bambu tua yang direkatkan dengan tali.

“Bang, kami pinjam rakitnya, ya,” saya sedikit berteriak, berniat barter.

Mereka mengangguk. Senangnya saya. Sebab sejak tiga jam yang lalu kami tiba di tepian tebing Teluk Krueng Raya ini, tiga Rakit Busa milik Yahya Karya sudah disewakan ke para pemancing yang datang lebih dulu dari kami.

Saya ingin menyewanya bukan untuk memancing ikan, tapi menjala sensasi mengapung di atas palung laut bekas arena perang pasukan janda yang dipimpin Warlord Malahayati.

Jadi saya tak perlu mengeluarkan uang. He-he-he.

Kami melepas tali jangkar Rakit Busa. Mendorongnya ke permukaan air yang rata. Saya bersila di belakang sebagai skeeper dan Ajir di depan layaknya captain.

Naik Rakit Busa di Malahayati
Selfie itu bahaya! Sangat tak dianjurkan jika merasa ragu. FOTO: Ajir

Dan mulai mengayuh dengan alat kayuh yang telah disediakan. Terik mentari tak mengalahkan obsesi kami. Bahkan kami tak mengenakan penutup kepala layaknya pria-pria pemancing yang duduk mengapung di atas dua Rakit Busa lainnya.

Seumur-umur, baru kali ini saya mengayuh di laut, meskipun hanya di atas rakit ala-ala. Kami mengayuh menjauh dari daratan, menuju palung yang hitam itu.

Di selatan, Pelabuhan Malahayati sejajar dengan Pantai Leuen Lhok, yang menghubungkan ke Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Leuen Lhok di Dusun Alue Tho, Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

Saya masih ingat hampir dua tahun lalu, 1 November 2014, bersama rombongan penelitian bawah laut, melintasi Teluk Krueng Raya menggunakan boat nelayan menuju Batu Amat Ramanyang.

Pantai Leuen Lhok Malahayati
Pantai Leuen Lhok, ketika banyak perahu ditambatkan nelayan, 1 November 2014. FOTO: Makmur Dimila

Situs batu tangkuban perahu itu tak kelihatan dari tempat kami mengapung ini, tertutup bukit. Tapi saya tak ingin mengayuh lebih jauh ketika sudah melewati beberapa meter dari batas palung dengan terumbu karang, meski Ajir mengajaknya.

Kami tak punya safety apa-apa, tapi hanya ingin memenuhi merasakan sensasi naiki rakit made in Yahwa Karya.

Sejenak kami mengapung di atas palung yang… diam namun dalam.

Tapi, selain Benteng Inong Balee yang kami lewati tadi dalam perjalanan, saya tak dapat menikmati pengalaman berperang layaknya pasukan Laksamana Malahayati dengan tentara Eropa—yang konon katanya, pahlawan perempuan Aceh itu gugur di perairan ini saat melawan Portugis.

Tapi syukurlah, Yahwa Karya yang menduda itu membuat rakit ini, sehingga saya bisa berlayar kemari, meskipun tak bisa dipastikan bahwa saya benar-benar berada di bekas area perang laksamana perempuan pertama di dunia itu.

Perlahan kaki saya terasa perih. Darah menyembul di mata kaki kiri. Padahal saya tak sedang berperang! Oh, saya ingat, tadi saat mendorong rakit, kaki saya sempat membentur batuan karang yang cadas.

Foto kiriman Makmur Dimila (@makmurdimila) pada

Lekas saya sentuh darah itu. Lekas pula pikiran saya membayangkan sederet film hiu semisal Shark Attack, Jaws The Revenge, dan Great White. Lekas pula saya usap darah di jemari ke alas rakit.

Saya tak cuci jemari ke air laut, takut memancing kedatangan hiu, meski tak ada yang pernah bilang ada ikan bergigi chainsaw itu di perairan dekat Malahayati Port ini. Saya jadi parno sendiri. Duh.

Hanya beberapa menit, kami kembali ke daratan. Kembalikan rakit dan ambil pisau. Kembali ke lapak kami. Saya hanya bisa ucapkan terima kasih ke Yahwa Karya, hasrat saya menaiki rakitannya terpenuhi juga akhirnya.

Pria asal Montasik itu sudah lumayan lama tinggal di tepi laut ini, di lereng bukit antara Bukit Kuta Lubok dan Bukit Inong Balee. Ia men-jomblo tua. Namun tinggal di alam sendirian membuatnya hidup cukup tenang.

“Saya tak mau kembali,” ujarnya ketika ditanya seorang pemancing yang duduk di sisinya menunggu kepulangan Rakit Busa.

Menyeberang Laut

Basah di Malahayati
Demi Adek, laut pun Abang seberangi. 😀 FOTO: Hamzah Hasballah
Mengapung di Malahayati
Mas Bro Muksalmina tidur di atas air, pakai tenaga dalam. FOTO: Makmur Dimila
Foto di Pelabuhan Malahayati
Demi pose terbaik, rela panjat tebing. FOTO: Makmur Dimila

Saya puas sekali. Sebuah trip yang sederhana tak terencanakan. Pagi Minggu kedua April 2016 itu, begitu bangun tidur, saya diajak pergi ke Teluk Krueng Raya.

“Orang ini bawa snorkel,” Hamzah menggoda saya.

“Serius?” Saya paling suka dengan snorkeling, tapi tak percaya di Teluk Krueng Raya ada terumbu karang dan ikan hias.

“Kapan aku pernah bohong?”

Tanpa persiapan apa-apa, saya menyusul dia dan beberapa kawan yang lebih dulu meluncur dari Kota Banda Aceh ke arah Krueng Raya. Bertemu di sekitar Pelabuhan Malahayati, kami memasuki TPI Leuen Lhok jelang tengah hari.

Dari Pantai Leuen Lhok, yang melengkung menghubung ke Tebing Krueng Raya di timur, kami susuri pasir pantai hingga menemui ujung tebing.

Hamzah yang memimpin trip itu, seakan bercanda, berujar akan bawa kami seberangi laut susuri tepi tebing dan harus setengah telanjang. Dan itu serius.

Bukan melalui bukit? Bukan!

Mengusung pakaian dan bekal makan siang, saya ekori Hamzah yang memimpin jalan. Membelah lautan yang tenang dan berair jernih. Kecuali dia, saya dan kawan-kawan agak takut dihempas ombak atau tiba-tiba menemui satu rintangan.

Tapi perlahan, kami justru menemukan sensasi lain. Saya terus merasakan ayunan langkah mendobrak gelombang laut dan tubuh basah sudah sedada.

“Inilah sensasinya,” Hamzah meyakinkan bahwa ia memilih jalur yang tepat.

Saya dalam hati sudah berterima kasih kepada pemuda brewokan itu. Apalagi ketika kami berhenti di sebuah lereng bukit.

Di atas bibir tebing yang membatasi peraiaran Krueng Raya menjilati tebing, saya menenggak air mineral. Lantas, berfoto ria. Kami membuat gambar kenangan yang baru, mencoba sedikit angle berbeda agar orang nantinya salah menebak lokasi kami. #LebaySikit

Ya, lihatlah, dengan volume air seperti ini, gambar brikut mirip di Iboih Sabang, jika kamu pernah menyusuri tepian Iboih.

Tapi kamu akan terkejut melihat rekaman saat kami pulang di lokasi sama dan pose yang dimirip-miripkan, jelas salah tebakanmu.

Selfie Pergi di Malahayati
Selfie saat pergi (before). FOTO: Hamzah Hasballah
Selfie Pulang di Malahayati
Selfie saat pulang (after). FOTO: Hamzah Hasballah

Belum setengah jalan, kami kembali susuri sisi tebing. Semakin mendekati tujuan semakin terlihat keindahan.

Saya pun menangkap para pemancing yang mengapung dengan rakit berwarna putih, yang kelak membuat saya penasaran ingin mencobanya.

Kami terus mengarungi lautan. Melewati situs Benteng Inong Balee. Pada satu titik tepian tebing, Hamzah mengajak berpose.

Di tepi tebing itu, ada empat lobang dinding menyerupai mulut gua, persis seperti mulut Guha Sarang yang tahun lalu saya lihat di Sabang.

“Ini momen lagi bagus, jangan harap nanti ada lagi,” Hamzah memastikan.

Sebenarnya tadi kami tak berniat. Tapi serius, tak sia-sia, hasilnya memang sesuai harapan—yang muncul setelah Ajir memperlihatkan foto yang direkam dengan ponselnya.

Setidaknya saya berharap, foto itu dianggap: kami sedang di depan mulut Guha Sarang, Sabang. 😀

Lihat pula gaya kami bergelantungan berikut. Saya tak tahu kenapa, asal sudah bersama-sama anak muda, sifat kedewasaan itu sejenak hilang, seketika menjadi lebay, alay, atau kekanak-kanakan.

Guha Sarang Malahayati
Empat mulut gua seperti di Guha Sarang, Sabang. FOTO: Ajir
Gelantungan di Malahayati
Bergelantungan di pepohonan yang menjorok ke laut. Anggap saja anak-anak. FOTO: Ajir
Rakit Busa di Malahayati
Satu Rakit Busa bisa muat sampai empat orang. FOTO: Makmur Dimila

Barangkali, memang itu yang diharapkan ketika kunjungi suatu tempat: melepas haus hiburan. Alam bawah sadar pun bekerja, membuat kita melakukan hal-hal yang di luar batas.

Tapi kamu perlu membuat batas. Belakangan ada dua kasus di objek wisata Aceh, pelancong lokal yang meninggal gara-gara berselfie tanpa peduli safety.

Finding Nemo

Orange Skunk Clowfish di Malahayati
Orange Skunk Clowfish seperti inilah yang saya jumpai di batas palung laur. FOTO: manhattanreefs.com
Santai di Malahayati
Santai di halaman rumah Yahwa Karya (paling kanan) yang rindang. FOTO: Makmur Dimila
Kibo di Malahayati
Ngeri kalilah Bang Kibo, minumannya lensa kamera. 😀 FOTO: Ajir

Usai rehat siang, saya tak sabar ingin snorkeling. Hanya ada dua snorkel. Oh, menjadi tiga, setelah Kibo menyusul kami. Dia pula yang menuntun saya sekitar 100 meter mendekati palung laut.

Terumbu karang mati kami lalui, namun banyak ikan hias berseliweran. Kibo yang mengapung di depan, selalu menyembul kepalanya ke udara setiap menemukan gerombolan ikan cantik, lalu, tangannya memberi kode ‘finding nemo’ untuk saya dekati.

“Ada nemo, sini!”

Saya mendorong tubuh dengan kedua tangan ke arah Kibo. Di antara ikan dan terumbu karang mati, saya melihat sarang anonemonefishes yang masih segar; ‘tumpukan jemari’ itu bergerak-beralun-berirama-menari.

Satu sampai tiga nemo Orange Skunk Clownfish berhenti di antara sarangnya dan balik menatap saya. Macam patung. Garis putih memanjang dari mulutnya sampai ke ekor. Body-nya oranye kecokelatan.

Cantiknya… Sayang, tak bawa kamera underwater.

Di seberang sarang sepesies ikan badut itu, di bawah kaki Kibo, saya melihat jurang laut yang gelap: palung.

Tapi saya sama sekali tak melihat—barangkali—sisa-sisa perang Laksamana Malahayati dengan Belanda dan Portugis. Mungkin saya harus menyelam lebih dalam. Atau, ada orang yang khusus menelitinya.[]

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂 

 

2 thoughts on “Mengapung di Bekas Keperkasaan Malahayati

  1. Jadi di bawah Benteng Inong Balee, lautnya aman untuk direnangi? Tempo hari melihat dari atas tampak sangat biru menggoda, cuma tak tahu bagaimana cara turun ke bawah sana, hehehe..

    1. Sepertinya aman sampai batas palung lautnya. Palungnya dalam banget. Tapi saya pernah dengar ada mahasiswa Unsyiah yang pernah diving untuk penelitian bawah laut di sekitar Teluk Krueng Raya. Tapi kebanyakannya dikunjungi pemancing yang kemudian menyewa Rakit Busa itu.

      Turun ke sini bisa melalui lereng bukit Benteng Inong Balee atau melalui lereng bukit yang ada bekas bangunan ke timur Benteng Inong Balee. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *