Pulau Bunta (kanan).
TEKONG memelankan laju boat berkanopi ini saat berada di Arus Cut, arus paling berbahaya di rute penyeberangan ke Pulo Aceh. Beberapa pemancing berlayar di kanan kami dengan boat kayu alias jalo tep-tep.
Dari balik bulir air yang terus menerpa wajah, saya dapat melihat Pantai Lhok Mata Ie di timur saat kami melewati Arus Cut. “Di sebelahnya itu Lhok Keutapang,” terang Patra.
Lhok Mata Ie pernah terkenal dengan pantai tersembunyi di barat Sumatera sebelum dikunjungi banyak traveler. Saya sendiri menikmatinya pada Mei 2012. Dari pantai berpasir putih itu, pengunjung dapat melihat beberapa pulau kecil, salah satunya Bunta yang akan kami singgah.
Gelombang makin besar. Boat harus merayap di samping Pulau Kleueng. Di bawah kami, kata Patra, ada beberapa spot diving, seperti Olivina Dive Site dan Red Bonsai Dive Site. Tapi sepertinya kru tivi Prancis tak butuh gambar bawah laut.
Boat menyisir pinggiran pantai Pulau Bunta. Gradasi air laut yang biru seperti kolam renang di hotel menyambut kami. Kru tivi kembali mewawancarai Naldi soal pulau yang mulai populer sejak 2013 itu.
Saya ingin memotret, tapi iPad mini terjebak di tas yang ditumpuk di bagian depan boat agar tak basah. Tak mungkin halangi mereka yang sedang berkarya di depan saya. Biar saya gambarkan saja di kepala. 
Pulo Bunta tak ada teluk. Pasir putih. Ditumbuhi banyak pohon kelapa. Hanya bisa saya lihat dua rumah kecil di antara pepohonan dekat pantai. Tiang menjulang di depan jalan masuk rumah itu. Bendera kecil di ujung tiang berwarna merah-putih, seperti di KM 0 Indonesia di Sabang. 
Dermaga kayu menjorok ke laut, tak jauh di hadapan tiang bendera. Tak ada orang yang menunggu kami. Seperti pulau mati. Boat terombang-ambing oleh gelombang.
“Bisa ambil gambar di Pulo Bunta,” tanya Olivier, saat kami mulai menyisir pinggir pantai berpasir putih. 
“Kita tak bisa merapat ke dermaga, ombaknya besar,” kata tekong.
Kami saling menatap. Dan mencari pelabuhan alternatif. “Kita turun di Pulo Nasi saja,” saran Naldi begitu boat sudah belok kanan mengarah Pulo Aceh. 
“Saya sering bawa tamu diving dari luar, kemarin saya tolak tamu yang mau ke Bunta,” ujar Patra yang juga pemilik boat ini. “Tak mau ambil risiko, kecuali yang mau diving saja,” tambahnya.
Menurutnya, ia hanya bawa turis ke Pulo Bunta jika sedang musim angin timur saja, saat laut tenang.

Tiba di Pantai Dedap, Pulo Nasi.

Bassompierre langsung merekam dari dermaga.
Gagal deh ke Bunta. Tapi tak apa, saya akhirnya justru berlabuh ke Pulo Nasi untuk pertama kalinya. Pulau dengan panorama pantai bagai Pulau Gili di Lombok menyambut dengan irama riak yang syahdu.[Makmur Dimila]
Bersambung..

Sebelumnya, baca di sini.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here