Danau Jagong
Boy, my travelmate ke Jagong Jeget. Photo: Makmur Dimila
Ingin menikmati cuaca paling dingin di Takengon, saya justru mendapat pengalaman mengesankan dari tur kebun kopi yang sederhana.

Hasrat bertualang membuncah begitu saya mendengar Kecamatan Jagong Jeget adalah kawasan paling dingin di Takengon, Aceh Tengah. Pada suatu kesempatan, saya pun merasakan langsung atmosfir suasana es itu.

Saya dan seorang teman mengendarai sepeda motor dari Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie, menuju Aceh Tengah. Setelah melalui perjalanan darat selama enam jam, kami melipir dulu ke rumah saudara di Kayu Kul, Kecamatan Pegasing.

Esok paginya yang diselimuti kabut, kami mengisi perut dengan dua buah durian kutacane yang dagingnya tebal nan manis.

Sebagai temannya, kami dibelikan pulut ketan bakar. Tapi hangatnya hilang begitu daun pisang yang membungkusnya saya lucuti. Untung, tuan rumah sudah menyajikan kopi hitam yang menambah energi kami untuk berangkat ke Jagong Jeget.

durian kutacane
Tekstur biji durian kutacane kecil tapi dagingnya tebal. Photo: Makmur Dimila

Jumat pagi itu saya sempat khawatir karena harus menempuh perjalanan jauh dengan medan berupa kelokan menanjak yang dibatasi jurang.

Apalagi beberapa hari sebelumnya, tersiar kabar di media lokal tentang jatuhnya mobil ke jurang di Jalan Atu Lintang – Jagong Jeget dalam Kawasan Gunung Jejem.

Baca juga: Pelajaran dari Jagong Jeget 


Tapi dengan hati-hati, kami berhasil menaklukkan jalan berkelok di tengah-tengah pegunungan, hingga singgah di satu sudut dengan panorama sebuah danau kecil bernama Danau Jagong.

Dari sela-sela alang-alang di tepi jalan, saya berdiri merentangkan tangan, menghirup udara menyejukkan.

Saya pun merasa, belum apa-apa sudah mendapatkan bonus dalam trip ke Jagong Jeget. Takkan pernah tahu ada Danau Jagong di Takengon seandainya saya batal melakukan perjalanan akhir Juli 2015 ini.

Di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), Danau Jagong tak seluas Danau Lut Tawar, tapi terlihat cukup adem dari tepi jalan.

Foto kiriman Makmur Dimila (@makmurdimila) pada

Ia terbentuk secara alami dengan kedalaman antara 3-6 meter. Ia bukan juga objek wisata mainstream, hanya dijadikan lokasi mancing oleh warga sekitar.

Kami lantas melanjutkan perjalanan. Tak begitu lama, tibalah di pusat Kecamatan Jagong Jeget. Hari terik. Jalan aspal mulus diapit oleh pertokoan, kedai-kedai, hingga rumah warga.

Namun saya belum merasakan dingin yang membahana seperti kata orang-orang, berkisar antara 15 – 18 derajat celcius. Apa karena kami tiba di sana menjelang siang?

Belum ada jawaban pasti, hingga kami mengakhiri trip ke tujuan utama hari itu setelah dua jam lebih di jalan, di Gegarang, salah satu dari 10 kampung di Kecamatan Jagong Jeget.

Ke kampung ini pun, kami harus melalui jalanan berkerikil diapit perkebunan warga. Gegarang dan kampung lainnya di Jagong Jeget berada pada ketinggian antara 1.400 – 1.500 mdpl.

Jalan ke Jagong Jeget
Harus meliuk-liuk di jalan diatas perbukitan. Photo: Makmur Dimila

Menurut Isa, seorang guru di Gegarang, saat kami menikmati kopi arabika hangat di rumahnya menjelaskan, kampung ini memang dialokasikan Pemda sebagai kawasan transmigran. Di sana hidup rukun antara suku Aceh, Gayo, Jawa dan Sunda.

Ada dari orang Jawa itu kemudian tak ingin kembali ke daerah asalnya. Karena mereka merasa bisa hidup sejahtera di Jagong Jeget dari hasil berkebun,” ujar Isa yang putra asli Gayo.

Kami duduk bersimpuh di teras bagian dapur rumah Isa, bersama anaknya yang juga teman saya, Dhani. Dalam adat masyarakat Gayo, menjamu tamu di ruang dekat dapur bermakna tamu itu istimewa.

Apakah saya seorang yang seperti itu bagi mereka?

Saya justru ingin mendengar hal lain, kenapa saya tak merasa begitu dingin, padahal Jagong Jeget dikenal kawasan penduduk yang paling dingin di Aceh Tengah.

“Dulu memang di sini sangat dingin. Sekarang tidak lagi. Mungkin karena faktor perubahan alam,” jelas Isa. “Tapi kalau malam tetap sangat dingin,” sambungnya.

Sayangnya, kami tak berniat bermalam. Dan kemudian selepas Jumatan di masjid Kampung Gegarang, saya dan teman juga dijamu makan siang.

Kami kurang beruntung hari itu. Biasanya tamu akan dihidangkan sambal daun gegarang yang bercitarasa spesial, tapi mereka tidak punya stok saat itu.

“Jadi nama kampung ini konon diambil dari nama tanaman yang orang Gayo sebut dengan gegarang.”

Dhani memperlihatkan sebatang gegarang yang baru saja dipetik dari sekitar rumahnya. Ia tanaman kecil dengan tulang daun menyirip dan bergigi di bagian tepi daunnya.

Daun Gegarang
Daun gegarang yang meninspirasi nama desa. Photo: Makmur Dimila

Setelah itu, kami diajak melihat-lihat tanaman kopi milik keluarga Isa seluas 2 hektare lebih di belakang rumah.

Bagai mengikuti plantation tour, saya diperkenalkan varian kopi arabika yang tumbuh di sana, seperti Ateng, Ateng Super, dan Tim-tim.

Tim-tim ialah kopi arabika berasal dari Timor-Timur (sekarang Timor Leste) yang ditanam di Tanah Gayo pada masa pendudukan Belanda di Indonesia. Sementara kopi Ateng disebut demikian karena batangnya (konon) pendek seperti Ateng komedian Indonesia.

“Tapi Ateng Super lebih pendek dari Ateng,” Dhani menunjukkan batang kopi yang tumbuh hanya selutut saya.

Setelah satu jam di kebun kopi yang berada di antara lereng perbukitan, kami pamit pulang. Diberikan sekantong bubuk kopi siap seduh buat kami.

Tak lupa, jeruk yang tumbuh di antara tanaman kopi yang kami petik tadi, ikut menyertai perjalanan pulang ke Kota Takengon.[]

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

Artikel ini telah diterbitkan di Rubrik WISATA Tabloid Pikiran Merdeka edisi 108 (25 – 31 Januari 2016)

Jagong Jeget PM
Publikasi itu penting. 😀

4 COMMENTS

  1. Biasanya udara terdingin itu pada malam-malam selama musim kemarau. Pengalaman pribadi sewaktu ke Dieng di bulan terdingin (Juli-Agustus), suhu malam hari bisa mendekati nol derajat, dan jalanan dilapisi es.

    Parahnya, waktu itu kami cuma berbekal sarung sama jaket tipis, hahaha! Untung penginapan sedia selimut2 tebal.

    • Dieng secara geografis mungkin hampir sama dengan Gayo ya, sebagai Dataran Tinggi. Waktu itu kami ke Jagong (Gayo) juga di bulan Juli, saat-saat kemarau. Dan mungkin benar kata tuan rumah, saya akan merasa dingin yang maha jika saja menginap. 😀

      Sbg info tambahan, setiap masyarakat Gayo pun menyediakan selimut cadangan bagi tamu. Jadi misal kita ke sana tanpa bawa selimut, tak perlu khawatir. Hehe

  2. Bisa dibilang Gayo adalah surganya Indonesia, mengingat beberapa tahun lalu saya pernah menetap di Jagong Jeget ketika masih didinas dan pada akhirnya kembali lagi ke kota gudeg, Yogyakarta. Pemandangan alamnya sungguh eksotis, keramah tamahan penduduknya juga bikin rindu siapapun yang pernah berkunjung kesana.. Insya Allah suatu hari nanti saya bisa menikmati indahnya alam Jagong dan segarnya udara dingin disana..

    ” Inilah Negeri Diatas Awan “

    • Aha, beruntunglah Mas sudah sempat ke Jangong. Masyarakat dan alamnnya memang bikin betah, Mas harus kembali dan ajak kawan yang rame biar makin seru. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here