Air-bunga
Para petani usai menyantap khanduri blang, menuangkan atau memercikkan ie bungöng (bahasa Indonesia: air bunga) ke dalam tanaman padi, sebagai tanda sudah masanya berbuah. Photo : Makmur Dimila
Saya melintasi jalan yang setiap hari saya lalui waktu kecil. Saat pulang sekolah ketika musim tanam padi, saya dan teman se-SD sering ketiban rejeki. Tak jauh dari jalan itu, ada sebuah bukit bernama Cot Bale yang akan membuat perut kami buncit.

[hr style=”bar”]

Ya, seperti hari itu, 11 Januari 2015, bertahun-tahun dari masa kecil saya, Cot Bale kembali diincar anak-anak berseragam Merah-Putih. Saya melihat bocah SD datang saat pembacaan Surah Yasin berlangsung. Mereka khidmat mengikuti orang-orang tua yang sedang melaksanakan tradisi khanduri blang.

baca-yasin
Prosesi doa bersama dimulai dengan samadiah lalu baca Surah Yasin. Photo : Makmur Dimila

Beruntungnya saya dalam rangka liburan awal tahun di kampung halaman. Selain sudah masuk bulan maulid Nabi, di tanah lahir saya Desa Blang, Kemukiman Metareuem, Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie, juga tengah memasuki “musim semi”.

Semenjak bertahun-tahun silam, setiap musim tanam padi, masyarakat Pidie tak lekang dari tradisi khanduri blang (bahasa Indonesia: kenduri sawah). Hingga hari ini, adat sawah yang digulirkan turun-temurun itu berlangsung damai, meskipun pelaksanaan prosesinya sedikit tergerus zaman.

Di kampung saya, khanduri blang berlangsung empat kali dalam setiap musim tanam padi. Wow!

Dimulai dengan khanduri keuneuk trȏn blang (memulai turun sawah) yang dipimpin oleh Meuntri Lueng/Keujruen Blang–Menkokesra-nya kampung; sebagai tanda mengawali bajak sawah dengan kerbau, disusul khanduri trȏn blang sebagai tanda mengolah sawah bagi petani, khanduri peuphȏn seumula (memulai tanam tunas padi) dan khanduri tȏp blang (tutup sawah).

Nah, saya ketiban khanduri blang tahap akhir.

Khanduri tȏp blang ditandai dengan tidak ada lagi aktivitas petani yang seumula. Semua petak sawah pada masa ini sudah ditumbuhi batang padi yang siap berbuah.

buah-padi-perdana
Bahkan, ada padi yang mulai berbuah. “Kali ini khanduri top blang agak telat, karena ada banjir kemarin,” kata seorang warga. Photo : Makmur Dimila

“Dengan membaca Yasin, kita mengharapkan kemudahan rejeki dari Allah SWT dan tanaman padi kita dijauhkan dari hama,” ujar Teungku Juanda yang memimpin munajat usai baca Yasin.

Sebelum acara doa bersama, Meuntri Lueng menyembelih seekor kambing di Cot Bale pada pagi hari, dibantu Teungku atau tokoh masyarakat. Daging dibagi-bagi atau dijual dengan biaya rendah kepada setiap kepala keluarga yang berpartisipasi dalam khanduri blang.

Kaum ibu, sejak pagi pula, mengangkut perkakas masak ke sawah. Mereka mencari tempat yang teduh seperti bale blang (saung bambu) di pinggir sawah dan sungai kecil. Sebagian masak di rumah dan membawa ke lokasi doa bersama menjelang siang.

masak-di-pinggir-kali
Damainya masak di antara persawahan dan sungai kecil. Photo : Makmur Dimila

Dulunya, semua istri petani ini kompak memasak di Cot Bale. Anak-anaknya datang membantu, mencari kayu bakar, menyiapkan piring-piring untuk disajikan kepada hadirin. Pada masa itu, aroma kari kambing menguar dan sesekali digiring angin hingga tercium ke ruang belajar kami di SDN Metareuem yang terpaut sekitar 400 meter dari Cot Bale.

Namun hari itu, nyaris tak ada yang masak di Cot Bale. Pun begitu, mata saya benar-benar fresh dengan hamparan persawahan yang hijau berkilau di sekeliling bukit landai ini.

Sekilas pandang kemudian, di samping dua makam tua dengan nisan berinskripsi, Yasinan berakhir, dilanjutkan dengan bermunajat, dan ditutup dengan mengantarkan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

nisan-tua
Doa digelar dekat dua makam tua dengan nisan berinskripsi. Sebagian sisi nisan (di bagian kaki sepertinya) sudah dijadikan batu asah. Photo : Makmur Dimila

“Silakan diambil masing-masing satu kantong,” seru Bang Imran, Meuntri Lueng Desa Blang, begitu doa bersama usai.

pulang-via-pematang
Enaknya bawa pulang makan, hm, lapeeer jadinya. Photo : Makmur Dimila

Segera, nasi bungkus bercampur kuah kari kambing yang dikantong, lenyap oleh tangan-tangan warga lelaki, tua maupun muda. Sebagian langsung melucuti bu kulah (nasi bungkus) di lokasi doa bersama, sebagian bawa pulang ke rumah, dan sisanya mencari tempat sendiri yang nyaman.Saatnya Makan

pulang-dan-makanSaya, Tawakkal, Fahrijal, dan Azizul cucunya kakak sepupu saya, memilih makan enak di bale blang; sebuah saung bambu tempat berteduh para petani, tak jauh dari Cot Bale.

Di bale itu pula, Syik Muda ibunya Tawakkal memasak kari kambing dan nasi sebelum diantar ke Cot Bale. Di sana pula, putri sepupu saya dari Medan, Indah yang berusia 6 tahun, asik melahap bu kulah khas Aceh.

Jih jak berwisata keunöe u blang/Dia pergi berwisata ke sawah,” tutur Syik Muda mewakili keceriaan Indah.

Ya, saya juga merasa seperti berwisata, meski di kampung sendiri. Jarang-jarang ada pengalaman menyantap kuliner seperti ini, apalagi ketika saya harus kembali berkutat dengan perkembangan ibu kota.

Indah dan saya harus berada di Metareuem dalam waktu yang sama karena ada acara keluarga. Ia dibawa ibunya, saya pulang membantu ibu dan keluarga. Menghadiri khanduri blang salah satu kegiatan Safariku di kampung halaman yang menyenangkan.

Tradisi itu juga menginspirasi saya untuk berusaha mengkuti empat rangkaian khanduri blang pada musim tanam padi selanjutnya, untuk suatu keperluan, amiin.. 🙂

Writer : Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here