Terungkapnya Tantangan Mercusuar Williams Torrent

Sebelum melanjutkan perjalanan, saya memohon pada naluri saya sendiri agar hari ini benar-benar menjadi pengalaman pertama ke objek wisata terpopuler di Pulo Breueh, Mercusuar Williams Torrent, meskipun izin masuk ke sana sedang dalam masa pause untuk sementara.

Sebaiknya dibaca: Pesona Pulo Breueh yang Tak Perlu Dihias


Teungku Samad, pendamping tim Media Field Trip dari pihak BPKS, kini memimpin kami dari depan. Putra asli Pulo Breueh itu menunggangi motorcross yang didesain khusus untuk medan off road.

Di belakangnya, Awok, dari koran The Jakarta Post, siap dengan beberapa kamera di tangan dan pinggangnya.

Jalan Masuk Mercusuar Williams Torrent

Awok dan Teungku Samad. Mereka enak, ada motorcross. Photo: Makmur Dimila

“Bagaimana, Pak? Masih aman, kan?”

Saya ingin meyakinkan Fauziyun. Sebenarnya pertanyaan ini tak perlu diajukan. Seolah-olah saya meremehi kendaraannya dan kemampuannya.

“Insyaallah.”

Saya kembali dilarang duduk ngangkang di belakangnya. Berharap motor ini kuat hingga tiba ke Mercusuar Williams Torrent di Ujong Peuneung.

(Orang Aceh selalu menyebut tanjung—daratan yang menjorok ke laut—dengan Ujông).

Treknya langsung menanjak. Seketika semua penumpang terpaksa turun. Sepeda motor yang beragam menghasilkan raungan berbeda pula, menaklukkan elevasi bukit sekitar 30 derajat.

Dorong ke Mercusuar Williams Torrent

Ayo, Bang… semangat! Photo: Makmur Dimila

Saya melihat Fauziyun berjibaku dengan jalur yang tampak seperti galian selokan. Asap mengepul dari mulut knalpotnya. Inilah yang harus dihadapi semua sepeda motor, bukan kemiringan bukit.

Namun tersaji pemandangan indah ketika saya berbalik badan, sembari menunggu driver mencapai medan rata. Dari titik ini, ada persawahan menghijau di belakang SD Meulingge diselingi belukar, rumah, serta Samudera Hindia pada tatapan terjauh.

Selanjutnya, pengendara terus melibas jalan berkontur tanah yang dipenuhi bongkahan batu gunung di kedua sisi lajur kendaraan.

Jalur dengan kerumitan lain menanti: trek sebatas bisa dilalui kendaraan roda dua yang kiri-kanannya diapit semak belukar seperti bak sikhôh-khôh (Chromolaena odorata). Jalan tikus.

Bertukar cerita, saya dan Fauziyun lakukan untuk menepis lelah. Sebenarnya saya yang banyak bertanya.

Bagi saya, dialah satu-satunya yang bisa diandalkan untuk mengetahui hal-hal menarik di Pulo Breueh selain Mercusuar Williams Torrent, sebab turisme di Pulo Aceh belum didukung oleh tour guide bersertifikat.

Saya kadang menggali cerita hidup Fauziyun. Misal ia kehilangan istri dan seorang putrinya saat tsunami melanda Aceh pada 2004. Saat itu, dia dan dua putrinya lagi, yang kini sudah SMP dan SMA, menyelamatkan diri ke gunung.

Masyarakat Pulo Breueh umumnya melaut, bertani, dan berkebun. Sebelum tsunami, pulau ini produktif menghasilkan komoditas pala.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat hanya menanam cengkeh, pinang, dan cabai yang menjadi andalan baru pekebun.

Percakapan terhenti saat menghadapi suatu tanjakan lagi.

Hönda nyce biasa lôn pakèk ék u glé, pèr sök mantöng gët that,” ucap Fauziyun, menyatakan bahwa sepeda motor ini biasa dipakainya untuk naik gunung dan shock breaker-nya masih sangat lembut.

Jalan Mercusuar Williams Torrent

Semakin sulit tantangannya, semakin besar tekad ke tujuan. Photo: Makmur Dimila

Kini ia menempuh medan lebar namun penuh undakan. Berkali-kali, kami harus turun agar sopir lebih enteng menaklukkan tanjakan.

Begitu juga terhadap turunan yang kadang licin dan berlubang. Sampai-sampai, ada beberapa yang terpeleset.

Pun Fauziyun. Tepat ketika rasa was-was saya dalam eksplorasi Mercusuar Williams Torrent ini mencapai klimaks, ban depan Supra Fit-nya lengser ke kiri jalur akibat licin, sementara roda belakang ketahan dalam ‘selokan’.

Saya melompat. Reflek. Tampak asap menggumpal dari knalpot. Seketika Don Paloh menggelak tawa yang menguntit di belakang kami.

Bèk ka peukhém kamöe, hai, Don!”

Fauziyun melepaskan uneg-unegnya kepada Don Paloh. Sementara saya mendorong motornya dari belakang. Namun, Don menunggu kami lepas dari ujian ini, baru ia jalan kembali mengekor.

Nyöe phôn lôn jak u Lampu röt nöe.”

Pada saya, Fauziyun mengaku baru pertama kali pergi ke Lampu, sebutan masyarakat Pulo Breueh untuk Mercusuar Williams Torrent.

Sungguh?!

Sebelumnya ia mencapai Ujong Peuneung dengan naik boat dari Dermaga Lampuyang ke satu dermaga di Pantai Ujong Peuneung, kemudian jalan kaki tak jauh lagi ke Lampu.

Mercusuar Williams Torrent

Plis… bawa saya naik ke puncaknya. Photo: Makmur Dimila

Jalan menuju dermaga itu dapat kami lihat saat trip ke Lampu hampir berakhir. Ada perisimpangan yang ke kiri akan menuju mercusuar dan lurus tembus ke dermaga yang dimaksud Fauziyun.

***

Huf!

Perjalanan yang melelahkan. Kami berhasil menaklukkan tantangan 30 menit dari SD Meullingge plus satu jam dari Lampuyang.

Saya tak pernah membayangkan medannya akan sesulit itu. Sebab dari cerita-cerita yang saya baca dan dengar, tak dijelaskan detil bagaimana jalan menuju Mercusuar Williams Torrent.

Syukurnya, perjuangan kami dibayar tuntas oleh izin masuk ke dalam mercusuar.

Izin ini diberikan Kepala Pos Penjaga Mercusuar Williams Torrent yang sudah diberitahu kedatangan kami oleh Pihak BPKS. Padahal, di sekitar menara, belasan pria tengah kerjakan rehabilitasi bangunan pos.

Siang itu, kami menikmati keindahan alam Pulo Breueh dari puncak mercusuar.

“Subhanallah pemandangan dari atas ini,” terlontar dari mulut Salman Mardira.

Bayangan Mercusuar Williams Torrent

Para driver berteduh dalam bayangan mercusuar di bawah. Photo: Makmur Dimila

Selain melampiaskan keberhasilan dengan bersyukur, ada juga yang selfie ria di pagar pengaman teras. Ada yang sibuk memotret panorama, hingga menyampaikan “I Love U” melalui selembar kertas.

Seriusss … Wartawan satu ini, sebut saja namanya Bunga, bahkan minta saya menuliskan ucapan itu karena menurutnya tulisan tangan saya bagus. Padahal saya belum pernah ketemu dia sebelumya.

Duh! Kalau memang cinta, bawa juga dong Bang pacarnya ke Mercusuar Williams Torrent. 😀

Namun ada satu nama perempuan yang terlintas dalam benak saya. Tapi saya belum berani menuliskannya.

Itu wajar. Sebab belum ada ikatan apa-apa di antara kami. Jadi nikmati aja anugerah yang indah ini. #Ayo yang jomblo tunjuk tangan. 😀

Kami hampir lupa daratan, jika saja saya—yang dipercayakan sebagai team leader—ingatkan bahwa waktu tersedia di atas Mercusuar Williams Torrent sangat terbatas. Harus kembali berada di Dermaga Lampuyang pada jam 2.30 untuk dijemput pawang.

***

Cita-cita saya ke Mercusuar Williams Torrent akhirnya tercapai. Ini tak terlepas dari dealdeal antara peserta dengan panitia tadi malam saat coaching kegiatan. Panitia hanya berangkatkan 10 orang dari 30-an peserta kuli tinta yang sudah hadir ke Pulo Nasi.

Rossi Mercusuar Williams Torrent

Reza “Rossi” Fahlevi melancong ke Pulo Aceh usai berakhirnya Moto GP. 😀 Photo: Makmur Dimila

“Kepada kawan media yang ingin ikut Media Field Trip ke Pulo Breueh besok, silakan tunjuk tangan,” ujar panitia, demokratis.

Saat itu saya tak melihat sepuluh tangan. Hanya setengah. Beberapa orang celingak-celinguk di dalam tenda yang digelar di tepi Pantai Deumit, Desa Rabo.

“Makmur, ke sana ya?” Seorang senior mengusulkan nama saya.

With my pleasure. Hati saya berbinar, meskipun wajah biasa-biasa asja. Saya pun memprovokasikan teman media lain agar mau kesana.

Hingga lengkaplah 10 orang yang terdiri atas Alfiansyah Ocxie (KanalAceh.com), Fendra (Pewarta Foto Indonesia Aceh), Reza Fahlevi (Harian Analisa), Kentjono Seto W alias Awok (The Jakarta Post), Salman Mardira (Okezone.com), Fadel (ANTV), Khalis (SuaraKomunikasi.com), saya, Yudi Randa (Hikayatbanda.com), dan Mamu (WarnaNusantara.com).

Nah, di antara 9 orang selain saya, siapakah yang menyampaikan “I Love U” kepada pasangannya? Yang manakah Si Bunga? 😀 []

Tips ke Mercusuar Williams Torrent:

  • Bawalah kendaraan roda dua atau bersepeda jika ingin ke mercusuar via darat.
  • Komunikasikan dengan perangkat Desa Lampuyang jika ingin pergi dengan boat via laut
  • Pergilah di pagi hari untuk mendapatkan hasil foto yang bagus, jangan lupa tripod untuk foto terbaik.
  • Pesan nasi pada warga lebih awal untuk dibawa serta sebagai persiapan makan siang. Juga air mineral yang banyak, karena belum ada warung nasi di Pulo Breueh.
  • Boleh bawa makan ke puncak mercusuar asal bawa turun kembali sisanya dan tak buang ke bawah.
  • Dari Banda Aceh, bisa menumpangi boat nelayan di Dermaga Peunayong jika ingin langsung ke Dermaga Meulingge, Pulo Breueh.
  • Bisa juga naik kapal motor di Dermaga Ulee Lheue tujuan Dermaga Lamteng (setiap pagi hari) atau KMP Papuyu di Pelabuhan Ulee Lheue tujuan Lamteng (setiap Senin, Rabu, Jumat dan Sabtu), jika ingin lebih dulu menikmati Pulo Nasi.

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

[Bersambung]

Mendaki ke Mercusuar Williams Torrent

Trek menanjak langsung menyambut di depan SD Meulingge. Photo: Makmur Dimila

Semangat ke Mercusuar Williams Torrent

Don Paloh, selalu dengan senyuman. Photo: Makmur Dimila

Makmur Dimila Mercusuar Williams Torrent

Abang lelah, Dek. 😀 Photo: Mamu

Pose Mercusuar Williams Torrent

Awok dan Yudi Randa. Bahagianya. Photo: Makmur Dimila

Selfie Mercusuar Williams Torrent

Selfie yang terlalu happy. Tongkatnya pake pipa bangunan. Photo: Makmur Dimila

Lampu Mercusuar Williams Torrent

“Lampu ini masih berfungsi sebagai navigator bagi kapal,” kata Don Paloh. Photo: Makmur Dimila

Selfie Unik Mercusuar Williams Torrent

Ini paling penting. Biar tidak dibilang hoax ya Om. 😀 Photo: Makmur Dimila

Dua Kamera di Mercusuar Williams Torrent

Saya memang suka membingkai diri dalam kacamata objek foto saya. Photo: Makmur Dimila

Bareng di mercusuar williams torrent

Pelampiasan atas kelelahan yang membara. Photo: Awok/Mamu

Jendela Mercusuar Williams Torrent

View dari balik jeruji jendela mercusuar. Photo: Makmur Dimila

Pos Mercusuar Williams Torrent

Pos-pos inilah yang sedang direnovasi. Photo: Makmur Dimila

Kelapa Mercusuar Williams Torrent

Mercusuar dari sudut lain. Photo: Makmur Dimila