Kelelahan satu jam penelusuran hutan tropis membawa kami ke Air Terjun Krueng Pantoe di Aceh Barat Daya (Abdya). Merasakan kedamaian dari gemuruh air terjun yang mengalir ke sungai berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Beragam spesies flora dan fauna juga menemani ekspedisi kami pada Sabtu ketiga Mei 2014 itu.

Krueng Pantoe
Air Terjun Krueng Pantoe

Tim Aceh Tourism memulai jelajah dari Kota Blangpidie, ibu kota Kabupaten Abdya. Dipandu Syaiful utusan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.

Kantor Urusan Agama Kecamatan (Kuakec) Kuala Batee merupakan titik panduan pertama menuju air terjun yang
dikenal warga Abdya dengan nama Ceuraceue Krueng Pantoe.

Kami berbelok kanan setelah 20 Kilometer menyusuri Jalan Nasional ke arah Aceh Barat.Memasuki lorong di samping Kuakec Kuala Batee. Mobil tim Aceh Tourism melintasi jalan Desa Bahagia. Melalui perkampungan yang dominan dengan kebun cokelat hingga mencapai Desa Lama Inong.

Irigasi Krueng Pantoe yang membelah perkebunan cokelat Lama Inong menjadi titik panduan kedua. Petualangan kami pun dimulai.

Sejenak meninggalkan irigasi, bu panji—bendera putih sebagai tanda izin buka lahan—menimbulkan penasaran, siapakah orang yang pertama membuka lahan di Krueng Pantoe.

Kami menyisir sisi kiri atau kanan alur sungai Krueng Pantoe yang hampir selebar Jalan Nasional Banda Aceh – Medan. Batu-batu besar di bibir sungai menjadi pijakan. Ricik air bertautan dengan suara serangga hutan hujan tropis.

Syarifuddin muncul setelah setengah jam penelusuran. Warga Kecamatan Jeumpa Abdya ini menawarkan diri untuk memandu kami. Pria paruh baya ini hendak ke kebun, dia melewati Ceuraceue Krueng Pantoe.

Pada satu titik treking, batu-batu raksasa membentengi aliran sungai. Syarifuddin menyarankan kami merangkak di lereng bukit. Menempuh jalur yang sering ia lewati ke kebun.

Kupu-kupu beragam motif menari-nari di atas kepala, mewarnai pendakian. Kicau burung menyela gemuruh aliran sungai. Syarifuddin berhenti setelah 10 menit mendaki. Ia memohon diri. Sebelum pisah, ia bertutur layaknya pemandu wisata. Baca Selengkapnya di Aceh Tourism Online.

*Tulisan ini telah dipublis Majalah Aceh Tourism edisi III OKT – DES 2014.

Teks : Makmur Dimila
Photo Thumbnail: Rinaldi Ad

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here