Seminggu Pesta Kawin (2) Unforgattable Journey

Butuh kesabaran untuk benar-benar menjadi pasangan suami-istri di daerah ini. Ada serangkaian prosesi adat yang harus dilalui selama seminggu. Beruntung, saya sempat mengikutinya hingga tuntas. 

Sebelumnya, Seminggu Pesta Kawin (1) Unforgattable Journey 

Manöe pucôk di pangkuan

Dugaan warga tentang sembelihan terjawab pada Senin pagi atau sehari sebelum pesta walimah.

Panitia memotong lembu di pasi (pantai) Lhok Nibong. Dalam teduhan nyiur kelapa yang berjejeran sepanjang tepi pantai. Usai dibersihkan, dagingnya kemudian dimasak pada dapur umum di belakang rumah mempelai.

Segenap warga Labuhan Tarok I, menikmati kuah beulangong ala Aceh Selatan yang khas dengan rasa pedasnya bumbu cabai rawit itu saat makan siang. Sisanya untuk tamu di hari H.

Keringat saya sampai membasahi seluruh tubuh saat melahap nasi berbalur kuah kari daging lembu itu yang berwarna hijau. Pedas-pedas sedap. Baru kali ini mengalami makan yang butuh perjuangan banyak di sebuah pesta.

Kuah Beulangong Aceh Selatan

Menu makan siang dengan kuah beulangong hijau.. Digelar di atas terpal di jalan lorong. Photo: Makmur Dimila

Sore itu, saya juga menyaksikan dara baro dimandikan dengan air kembang. Dikenal dengan manöe pucôk.

Di halaman rumah, Tek Hus dipangku seorang anggota keluarga yang duduk di kursi. Sekilas, ia bagai memiliki empat kaki.

Mereka disirami beberapa jenis campuran air oleh ibu kandung dan tim barzanji yang diundang khusus dari desa tetangga. Diiringi pembacaan salawat Nabi Muhammad.

“Biasanya manoe pucok digelar di atas panggung, diiringi meuratôh atau berbalas syair oleh tim barzanji. Tapi khawatir akan keluarnya syair-syair yang menentang nilai agama, kami tiadakan meuratoh,” ungkap Keuchik.

Daro baro baru benar-benar terlibat dalam modernitas ketika malam hari H. Tangan dan kakinya ditato dengan hena oleh tim perias pengantin. Di kamar pribadi, bukan di ruang tamu seperti malam-malam sebelumnya.

Manoe Pucok Aceh Selatan

Daro Baro “disucikan” kembali sebelum menempuh hidup baru. Photo: Makmur Dimila

Linto diantar malam hari

Pemuda dan tetua Labuhan Tarok I memenuhi rumah pesta seiring cahaya mentari Selasa 22 April 2014 perlahan turun dari Gunung Meukek. Bersatu padu di dapur umum.

Yang tua pun mengingatkan pemuda untuk memutar musik dengan sound speaker yang diset dekat dapur umum pisang. Sehingga semangat kerja meliuk-liuk di antara pepohonan pisang.

Di pelaminan, Tek Hus dengan gaun pink menunggu tamu undangan hingga siang hari.

Sejak azan Zuhur berkumandang dari masjid, rumah pengantin sepi sejenak. Ramai kembali jelang matahari tenggelam.

Warga yang tadinya istirahat, buru-buru menghadiri “malam puncak”. Linto diantar malam hari. Lima menit dari Labuhan Tarok II, rombongan tiba jam 9 malam.

Dek Yong berpakaian adat, ditudungi payung kuning, memasuki ruang pelaminan seraya ditepungtawari oleh ahli waris Tek Hus.

Rombongan linto lantas menyerahkan peuneuwoe yaitu isi kamar (rumah tangga) yang dikemas seperti kado.

Perwakilan pengantin pria menyampaikan testimoni peresmian Hasanuddin sebagai kepala rumah tangga baru. Ditandai dengan berbalas pantun dari utusan kedua pihak.

Acara makan-makan usai. Gerimis di luar jendela bagai nyanyian kebahagiaan. Linto baro beramah-tamah.

Satu persatu, saudara Husmiyati diperkenalkan kepadanya, dilanjutkan foto bersama. Sejenak kemudian, linto pulang bersama rombongan.

Tek Hus istirahat sedangkan Dek Yong menikmati hiburan di panggung halaman rumahnya.

Saya ikut ke rumah mempelai pria. Dan duduk tak jauh dari Dek Yong yang sudah mengenakan pakaian bebas, jeans dan kaos, layaknya pemuda biasa.

Dua grup seni tari akan berbalas sajak dalam penampilan Tari Ratôh Meuseukat. Tim dari Manggeng Aceh Barat Daya beradu syair dengan tim dari Sawang Aceh Selatan.

Syair-syair berbahasa Aceh berisi pesan moral dan humor mengundang tawa penonton dari desa sekitar. Dek Yong terlihat sangat terhibur. Padahal resepsi belum tuntas.

Saya sendiri meninggalkan hiburan itu setelah dua jam, saat mata sudah berat. Kalah sama linto baro. 😀

Rapai Ratoh Meusukat

Penampilan Tari Ratoh Meuseukat di rumah linto baro. Photo: Makmur Dimila

Tueng dara barô di sore hari

Mempelai pria harus menjemput mempelai wanita atau dikenal tueng dara baro besoknya, Rabu sore. Linto baro berpakaian adat, ditemani ahli famili, menjemput dara baro dengan mobil.

Tak ada rombongan dengan mobil beriring-iringan. Hanya satu mobil SUV saja. Hanya famili yang menyusul dengan roda dua.

Setelah Asar, dara baro diantar ke rumah linto, ditemani rombongan. Sepasang pengantin baru itu jalan bergandengan di lorong masuk kediaman orangtua Hasanuddin.

Mereka disambut tari Ranup Lampuan, simbol selamat datang kepada tamu baru, sabagaimana adat daerah pesisir Aceh.

Di pelaminan kuning, keduanya diberi hidangan pembuka layaknya ratu dan raja. Saling suap nasi dengan sendok. Saling menyuguhi segelas minuman. Hal ini juga dilakukan saat linto ke rumah daro baro kemarin.

Foto-foto bareng keluarga tak luput. Pun sebelum pulang, dara baro diperkenalkan satu persatu sanak saudara linto baro. #UntungSayaTakDimintaPerkenalkanDiri 😀

Resepsi perkawinan diakhiri dengan samadiah setelah Isya di rumah Umi Sapiah. Segenap warga Labuhan Tarok I diundang makan malam di kediaman Tek Hus.

Di hadapan tamu, utusan tuan rumah menyampaikan terima kasih dan mohon maaf bila ada pelayanan yang kurang selama seminggu. Pun panitia yang dibentuk pada malam Duek Rame resmi dibubarkan malam itu.

Pendamping Dara Baro

Sebagai kenang-kenangan, saya berpose bareng dua dara baro cilik. Setiap pesta di rumah pengantin wanita Aceh, biasanya selalu ada mempelai cilik untuk memeriahkan acara. Photo: Ikbal Fanika

Saya terperanjat ketika dimulainya pengiriman doa kepada almarhum ahli keluarga. Tiba-tiba diedarkan talam berisi kemenyan yang dibakar.

Asap mengepul dan menyemburkan bau kemenyan. Ternyata, adat setempat sedang berlangsung.

Perpisahan dengan warga kelar. Rumah sepi. Setumpuk kado belum sempat dibuka. Gerimis kembali membasahi tanah Labuhan Tarok I.

Setengah jam berlalu, Tek Hus muncul di pintu depan. Ia mengenakan kain sarung dan baju tidur ala ibu rumah tangga.

“Inilah yang disebut pesta tujuh hari tujuh malam,” tuturnya saat saya pamitan pada Rabu 23 April 2014 malam itu.

Dia lantas menatap ke teras rumah, menunggu Hasanuddin pulang, untuk menikmati malam pertama mereka yang sesungguhnya.[]

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

Cerita budaya ini dalam versi lebih pendek sudah diterbitkan di Tabloid Pikiran Merdeka.