Rongsokan Vietnam yang Jadi Objek Wisata

PEMERINTAH Otorita Batam menggalang ‘strategi wisata‘ ketika pengungsi korban Perang Saudara Vietnam meninggalkan Pulau Galang pada tahun 1979. Boat-boat kayu yang ditenggelamkan para pengungsi di perairan diangkat kembali sejak 1995.
Pada 1995, ratusan pengungsi meninggalkan Pulau Galang setelah mendapatkan suaka-suaka dari negera maju. Sisa-sisa kehidupan mereka yang dikenal “manusia perahu” itu pun dijadikan destinasi wisata dengan nama “Galang Camp Batam, Museum Kemanusiaan Wisata Galang”. Populer dengan sebutan Camp Sinam, singkatan dari Camp Pengungsi Vietnam.
Kesana lah saya berkunjung pada awal Juni lalu. Dari pusat Kota Batam, saya dan rombongan menempuh satu jam perjalanan ke Pulau Galang melalui Jembatan Barelang. Jembatan ini singkatan dari Batam, Rempang, dan Galang, tiga pulau di Kepulauan Riau. Jembatan ini juga menghubungkan pulau-pulau kecil lainnya di Kepri. Panorama biru laut cukup menjadi pemandangan yang menarik selama penyeberangan.
Perjalanan menuju Camp Sinam dari jalan utama Pulau Galang akan menawarkan beberapa pemandangan lain, seperti gerombolan monyet di antara hutan rimbun yang memayungi jalan. Kami pun tiba di Monumen Perahu setelah melewati monumen Humanity Statue yaitu monumen kemanusiaan berupa patung wanita, pemakaman Nghia-Trang Galang yang merupakan tempat peristirahatan akhir pengungsi yang meninggal selama di Galang.

Perahu asli dan replika.
Perahu kecil yang lebih mirip rongsokan itu dipamerkan di atas rerumputan. Persis di samping perahu-perahu replika. Menurut sejarahnya, perahu-perahu itu digunakan para pengungsi dari Vietnam Selatan untuk mengarungi Laut Cina Selatan. Berbulan-bulan di lautan, mereka bertahan hidup, sebelum terdampar di berbagai pulau di perairan Kepri. Sebagian mereka ‘diselamatkan’ oleh warga Batam. Mereka pun ditempatkan di Galang yang terisolir. Mereka sempat menenggelamkan perahu-perahu yang mereka gunakan itu sebagai bentuk protes saat Badan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia ingin memulangkan mereka karena mereka tidak lolos tes mendapatkan kewarganegaraan baru.
Pemerintah Otorita Batam pun mengangkat perahu-perahu yang ditenggelamkan tersebut ke daratan setelah ditinggal para pengungsi. Kemudian diperbaiki dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah. Kalau di Aceh, kita akan teringat dengan boat di atap rumah di Lampulo dan Kapal PLTD Apung di Punge yang dijadikan objek wisata setelah tsunami berlalu.
Di Camp Sinam, kita juga bisa menikmati beberapa benda peninggalan pengungsi. Terutama barak pengungsian yang di dalamnya terdapat lukisan-lukisan tentang kondisi pengungsi. Ada juga koleksi barang-barang dapur mereka.

Galang Refugee Camp
Lukisan pengungsi arungi lautan.

Koleksi alat-alat rumah tangga.
Selain itu, ada juga tempat-tempat ibadah seperti vihara, mushala, gereja Kristen dan Katolik, yang ke semunya masih orisinil. Nah, jika Anda ada kesempatan ke Batam, jangan lupa singgah ke Camp Vietnam, kita bisa menghati bagaimana rasanya jika kita berposisi sebagai pengungsi dari negara perang.
Writter: Rahmad Rumoh Aceh
    1. Jefry July 18, 2014
      • Safari Ku July 18, 2014
    2. Vika Octavia July 21, 2014
      • Safari Ku July 22, 2014

    Add Your Comment