Penggoyang Lidah Khas Pulau Weh

Mi Jalak dan Sate Gurita

Mi jalak dan sate gurita khas Pulau Weh.

DAERAH dikelilingi lautan ternyata juga dikelilingi kuliner yang menggugah selera makan. Jika perut Anda keroncongan usai jalan-jalan, ada dua pilihan kuliner khas Sabang yang dapat menambah energi. Mi Jalak saat siang dan Sate Gurita pada malamnya.

Kontur Pulau Weh di wilayah timur berbukit sehingga membuat perut pengunjung mudah keroncongan. Sementara bagian baratnya dominan dengan hutan lindung sehingga membuat wisatawan kerap masuk angin. Kuliner tentunya salah satu penawar dua hal itu.

Jika merasa lapar menjelang siang, Kedai Kopi Pulau Baru siap menggoyang lidah Anda. Kedai ini terletak di tengah kota. Di Jalan Perdagangan. Dari tepi jalan, Aceh Tourism mengira, Pulau Baru itu kedai kopi sungguhan. Tapi saat memasukinya, kepulan asap dari mi rebus mulai memantik selera makan.

Kedai kopi ini memiliki dua meja saji di bagian muka. Sisi kanan untuk penyajian kopi. Kirinya untuk menyeduh mi jalak. Nah! Sisi kirilah yang akan kami santapi. Kami pun memesan satu porsi mi jalak, mi khas Sabang yang sangat diburu setiap turis.

Ukuran mi jalak jauh lebih kecil dari mi aceh namun sedikit lebih besar dari mi hun. Warnanya kuning pucat. Sajian mi jalak terlihat seperti mi kocok. Yang berbeda dengan mi lainnya adalah potongan daging ikan lembut dan kari kaldu ikan. Kari kaldu begitu terasa ketika dicecap lidah.

Mi jalak biasa (tanpa telur) diberi harga Rp 12 ribu. Tambahkan Rp 3 ribu lagi jika ingin menikmati porsi komplit dengan telur.

Kedai ini dibuka dua kali setiap hari. Pukul 08.00 – 11.30 wib dan pukul 17.00 – 21.00 wib. Namun, menurut Yiyin, putri pemilik usaha mi jalak, kedai ini langsug tutup jika stok mi yang digiling sendiri keburu habis.

Usaha mi jalak milik Sukianto Hen, warga Sabang keturunan Cina. Sebelum membuka kedai ini di bawah tahun 1990-an, dia jualan dengan gerobak di Jalan Perdagangan. Kenapa namanya mi jalak?

“Jalak itu julukan Papa oleh teman-temannya, jadi dibilang mi jalak,” ungkap Yiyin kepada Aceh Tourism.

Selain rasa yang khas, maka mi jalak tak ada di tempat lain. Hanya ada di ibu kota Pulau Weh. Sama halnya dengan Sate Gurita.

Baca cerita selengkapnya di Aceh Tourism Online.

Word: Makmur Dimila

Photo: Rinaldi Ad

*Tulisan ini telah dimuat di Aceh Tourism Magazine edisi Oktober – Desember 2014