Pemirsa, Ke Guha Tujoh Yuk.. (2)

Mari kita buktikan. Itulah yang menjadi pertanyaan saya pertama pada pemandu cilik tadi di atas. Dia tertawa dan menjawab,Kon reutak tanyoe nyan, Bang,” yang bisa ditafsirkan begini, ke Mekkah dari gua ini bukan sembarang orang. Apalagi orang utan seperti saya ini. Ya harus banyak uang dan naik pesawatlah. Tidak bisa melalui amalan para aulia Allah yang bisa ke Mekkah dengan berdoa dan memejam mata saja.

View dari dalam Guha Tujoh. Foto: wisata.pidiekab.go.id

Pemandu menggiring kami menuruni tangga yang curam. Pria berbaju coklat ini mengingatkan kami supaya berhatihati karena lantai gua licin. (Baru saja di pel?) Lalu kami dinampakkan pada sebuah batu yang dia sebut Tameh Arab. Sebuah batu panjang besar menyangga atap gua. Menyerupai pilar masjid dan mublet-blet (Apa bahasa Indonesianya meublet-blet? Berbelit-belit ya? Tak tahu saya) seperti dihiasi mutiara kecil-kecil yang bersinar kalau disenter atau seperti air laut berombak disinari matahari.
Lalu beberapa meter lagi sang pemandu menampakkan gerbang masuk, yang terbentuk seperti gapura, seakan-akan ada pengendali bumi yang membuatnya. Bisa jadi ini kerjaan si Toph (nonton Avatar the Last Air Bender kan?) setelah itu sesuatu yang sangat nasionalis terbentuk di gua ini. 
Seekor rajawali besar yang dikutuk menjadi batu, kepala dan sayap kanannya. Sayap kirinya sudah keropos. Ini yang membuat saya sedikit terbelalak. Kenapa bisa adarajawali disini? Bagaimana burung besar ini memasuki gua yang sempit pintu masuknya ini.Haha.
Ayo kita jalan lagi pemirsa! Pernah lihat taman gantung di Babylonia? Belum kan? Berarti  kita sama-sama belum pernah. Di dalam gua ini tidak ada taman gantung. Yang ada hanya batu gantung. Kata pemandu batu ini dulu benar-benar tergantung. Tapi batu ini membesar dari tahun ke tahun sehingga sekarang sudah lengket dengan gua.
Lalu dinampakkan bentukan batu seperti peuratah (ranjang tidur).Kemudian pemandu menamppakkan hal yang sulit dipercaya. Tulisan lafal Bismillah di atap gua. Subhanallah!Aliran air berwarna biru beku dari huruf ba sampai huruf mim. Begitu terpana beta melihatnya.

Batu menyerupai elang. Foto: Sammy Khalifa

Selain itu ada bebatuan yang berbentuk seperti elang, naga, ranjang, UFO dan nasi bungkus. Sayang sang pemandu mengakhiri perjalanan kami. Katanya kalau lebih jauh lagi tak ada bebatuan berbentuk, kecewa saya pemirsa. Besok bawa senter sendiri rencana, mau keliling sendiri sampai puas.
Pemandu mengakhiri perjalanan ini dengan menyuruh kami mematikan semua hape dan senternya, setelah semua sumber cahaya padam dia berkata: 

Beginilah nanti di dalam kubur, hanya amal salehlah yang bisa menerangi kita,” katanya sambil menyalakan senternya lagi.”

Saya sampai terdiam sejenak mengingat dosa dan niat buruk saya tak mau bayar saat nanti mau keluar. 
Sayang sungguh sayang. Amat disayangkan seribu sayang lagi-lagi sayang, objek wisata Pidie ini kurang diperhatikan. Jalan ke Guha Tujoh sudah dari jaman batu belum ada tanda-tanda diaspal. Tidak ada prasarana dan sarana standar wisata, juga sebuah kendala kenapa wisata ke Guha Tujoh hanya dinikmati masyarakat sekitar dan yang tahu-tahu saja.
Saya pernah ke satu gua di Padang. Di luar gua itu ada petanya. Sangat memudahkan saya menjelajah tanpa bantuan pemandu. Lalu ada lampunya lagi. Bukan seperti disini. Bagaimana ini departemen penerangan? Terangilah kami manusia gua ini. Kami kan masuk DPT juga.
Oke pemirsa, sampai disini perjumpaan kita, bertemu lagi di acara Kemana Mana Aja edisi berikutnya. Selamat berwisata![]
Writer : Riazul Iqbal Pauleta
Penulis merupakan anggota FLP Aceh, alumni TEN IAIN Ar-Raniry, tukang beli nasi di kontraktor, tukang hitung uang celeng Masjid Sigli di hari Jumat, perawi hardisk dan masih lajang.
    1. Liza August 22, 2014
      • Safari Ku August 24, 2014
    2. Fahmi August 25, 2014
      • Safari Ku August 25, 2014

    Add Your Comment