Pantai Pulo Kapuk, Enjoy aja..

pantai pulo kapuk

Pantai Pulo Kapuk. Photo: Makmur Dimila

Saya makan nasi bungkus di gazebo pinggir pantai. Nasi gurih Pak Rasyid, salah satu brand nasi gurih populer di Banda Aceh. Sebelum mandi ke laut, saya harus makan nasi, belajar pada pengalaman sebelumnya. Laut adalah penyedot energi manusia terkuat.

Fatin dan Haikal, sepasang bocah usia tujuh tahun ke bawah, sudah melepas pakaian. Bahkan sempat lari menuju tepi Pantai Pulo Kapuk. Mereka tak sabar ingin mandi di satu titik yang tidak berarus kencang. Saya akan jadi instruktur mereka, instruktur mandi di laut. πŸ˜›

Sambil menunggu saya, Haikal mengejar dan menangkap belalang yang bertengger di antara semak-semak, pohon cemara, maupun pandan laut. Membuat belalang terbang ke sana-sini. Dia larut, saya pun menikmatinya hingga selesai makan.

Kami lalu langsung berlari mencapai pantai.

Kebiasaan saya di alam terbuka, saya selalu mengamati sekitar. Dari pantai ini, pabrik PT Semen Andalas Indonesia (SAI) tampak di timur, di antara gugus bukit dan jalan Banda Aceh-Calang. Di barat, garis horizon laut dibatasi pegunungan Lampuuk.

Di belakang saya, pepohonan cemara tumbuh menjulang menutupi aliran sungai Krueng Raba yang bermuara ke laut. Gazebo-gazebo menyebar di batas pepohonan dengan pasir pantai. Ditumbuhi pandan-pandan laut dan bayi cemara yang dipagar.

Di hadapan saya, Fatin dan Haikal, asik bermain pasir. Saya mau juga dong!

Om Mamad, paman Fatin, mendatangi kami tak lama kemudian. Ikut bermain lempar pasir di bibir Pantai Pulo Kapuk.

Kurang asik rasanya kalau tak ada yang foto. Datanglah Fahrijal, sepupu Om Mamad. Dia mengusung kamera yang biasa dipakai Om Mamad.

Saatnya beraksi. Awalnya saya dan Haikal berdua. Tapi dia berbelot kemudian, bergabung dengan Fatin dan pamannya. Lahirlah pertempuran 3 lawan 1. Saya menangkis mereka dengan formasi: maju-mundur, maju-mundur, cantik, cantik.. πŸ˜›

Akhirnya saya lari dan menghanyutkan diri dalam gelombang.

Pertempuran berakhir kala Umi Fatin yang sedang santai di gazebo sana bersama Niar dan Cek Wan, kepincut untuk foto bareng dua bule yang lewat di depan mereka. Saya dipanggil untuk β€˜menghadang’ turis asing itu.

Langsung saja saya praktikkan jurus yang diberikan mentor Bahasa Inggris.

β€œHello, Mister.”

β€œHello… Apa kabar,” balas seorang dari mereka, bahkan berbahasa Indonesia sebagai awal yang baik. πŸ˜€

β€œBaik. Nice day, right?”

β€œYes,” jawabnya.

β€œWhere are you come from?”

β€œI am from England and he is from Austria,” sahutnya, dengan senyum.

β€œMay we take picture with your? For some pictures may be?”

β€œOf course.”

Si bule Inggris itu lantas menyapa Haikal.

β€œHello…”

Tapi Haikal tak menjawab meski saya bilang padanya jawab dengan β€˜hello’.

Kami berbaris mengapit dua turis yang mengepit papan selancar itu. Satu, dua, tiga, cheers…!

Mereka pergi, kami berterima kasih. Saya sadar ini agak kolot, tapi masih menjadi cara yang bagus untuk meyakinkan wisatawan asing agar mau kembali ke lokasi yang mereka kunjungi.

That’s ok untuk promosi Pantai Pulo Kapuk. Apalagi pada musim tertentu, di pantai ini bisa surfing, seperti dicoba dua turis itu, pada Minggu 5 April 2015.

Kami kembali ke laut. Niar bergabung. Beberapa pengunjung lain kemudian juga mengambil foto di pantai. Dengan keluarga tentunya. Sementara satu boat nelayan keluar dari kuala Krueng Raba dan melintas tak jauh dari hadapan kami. Kini saya sudah siap dengan smartphone, untuk merekam rekreasi ini.

Pantai Pulo Kapuk Safariku

Niar happy sekali, untung Fatin tak lihat kamera. πŸ˜€ Photo: Makmur Dimila

main pasir safariku

Seakan-akan lupa dengan masalah di belakang. Photo: Fahrijal

foto bule aceh

Turis Inggris dan Austria bareng Niar dan Umi Fatin. Photo: Fahrijal

Lihat foto-foto Pantai Pulo Kapuk lainnya di sini.

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu πŸ™‚

Β