Migrasi Manusia Perahu

Manusia Perahu
PADA awal Juni lalu, saya melakukan perjalanan ke Batam. Pemandangan unik terpampang saat penyeberangan dari Pelabuhan Sri Bintan Tanjung Pinang ke salah satu pulau lain di perairan Kepulauan Riau (Kepri). Beberapa pria mengayuh sampannya di mana setiap sampan menarik satu sampan lainnya yang membawa gubuk kecil menyerupai rumah. Bersambung-sambung dengan sampan kecil lainnya.
Saya juga melihat asap mengepul dari salah satu ‘rumah perahu’. Merekalah yang selama ini saya dengar dikenal dengan Manusia Perahu. Hari itu, kata orang-orang dalam perahu tradisional yang saya tumpangi, mereka sedang bermigrasi dari satu pulau ke pulau lain.
Di laman Wonderful Indonesia disebutkan, Bintan adalah pulau terbesar di Kepri yang terdiri dari hampir 3.000 pulau besar dan kecil, terbentang di seberang Singapura dan Johor Baru, Malaysia. Pulau ini melebar dari Malaka ke Laut Cina Selatan. Tanjung Pinang merupakan ibu kota Kepri, terletak di pantai barat selatan Bintan. Secara strategis berada di semenanjung selatan Malaysia di mulut Selat Malaka.
Keberadaan manusia perahu di perairan Kepri bermula saat jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan Vietnam Utara (Vietcong) tahun 1979. Kemudian, ratusan ribu penduduk Vietnam Selatan mengungsi dari negaranya demi alasan kemanan, menggunakan perahu-perahu kayu sederhana.
Berbulan-bulan para manusia perahu (boat people) terombang-ambing mengarungi perairan Laut Cina Selatan sejauh ribuan kilometer tanpa tujuan yang jelas dengan harapan mendapat perlindungan deri negara lain. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan dan sebagian lagi berhasil mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia.

Sekitar 250 ribu manusia perahu yang tersebar di berbagai pulau kecil perairan Kepri dikumpulkan di barak pengungsian Pulau Galang sejak 1979. Mereka meninggalkan Galang pada 1996 setelah mendapatkan suaka atas bantuan dunia internasional. Namun ada juga yang memilih menetap di perairan Kepri dengan hidup berpindah-pindah, seperti yang saya nikmati hari itu.[Rahmad Rumoh Aceh]

Boat pelancong menyaksikan kehidupan manusia perahu. 
Rumah perahu.
Hidup di lautan.
Damai di perairan.

    1. Muhammad Nur Akmal July 8, 2014
    2. Safari Ku July 8, 2014
    3. Darman Reubee July 8, 2014
      • Safari Ku July 8, 2014

    Add Your Comment