Ija Kroeng Motif Gayo
Motif gayo di bagian bawah Ija Kroeng seri budaya. Photo: Makmur Dimila

Saya menempuh perjalanan santai dari pusat ke pinggir Kota Banda Aceh. Lima belas menit berkendara dalam sela-sela sinar matahari pagi yang merekah. Masyarakat ibu kota provinsi tak terlihat mengenakan sarung, yang seharusnya menjadi salah satu ciri khas fashion warga kota tujuan wisata islami ini.

Deru sepeda motor saya turut menyumbang hiruk-pikuk kota di ujung barat Indonesia ini. Menuju Gampong Geuceu Kayee Jatoe, tempat seorang pemuda Aceh membangun industri kreatif.

Dia berani angkat brand lokal di tengah-tengah himpitan kegemaran masyarakat Aceh memakai produk made in luar. Dan bersaing dengan industri fashion nasional.

Dalam kurun 2010-2013, pria kelahiran 1980 itu tinggal di Jakarta. Sebagai anak muda, segala hal haruslah diperhatikan fashion-nya. Bahkan untuk salat, ia ingin tampil gaya, sehingga bisa beribadah dengan nyaman, trendy, dan keren.

https://instagram.com/p/7—IVR-D5/?taken-by=oviiyandii

Dia pun mencari sarung di segala toko butik di Jakarta, pusatnya mode Indonesia. Dicobanya beberapa merek kain sarung Nusantara. Lama-kelamaan, ia merasa tak nyaman.

Berabad-abad sebelum kain sarung membumi di Nusantara, seingatnya kala itu, masyarakat Aceh sudah kenakan ija kroeng (kain sarung).

Dicarinya referensi di museum dan literasi sejarah, belum ada orang yang membuat ija kroeng di Aceh pada peradaban yang lalu. Sementara tenun sudah ada pada masa kerajaan, tapi bukan dalam bentuk sarung melainkan songket, baju, dan sejenisnya.

Pun ia sangat tertarik akan kisah pada masa suatu kerajaan Aceh. Pedagang internasional mengimpor bahan baku kain dari Aceh. Karena saat itu—pun hingga kini—belum ada pabrik tekstil di Tanah Rencong. Ditenunlah di luar negeri, dibuat kain sarung, lalu dikirim kembali ke Aceh dengan brand asing.

“Kenapa tidak saya bikin kain sarung sendiri?” pikirnya.

Dia sadar setiap orang Aceh punya sarung. Ketika lemari pakaian dibuka, pasti terlihat berlembar-lembar kain sarung terlipat rapi. Dilihatnya, ada sebuah peluang untuk mengisi lemari orang Aceh dengan desain berbeda.

sarung kotak2
Orang tua santai di rumah dengan sarung. Anak muda seharunya juga begitu. Photo: Murniati

Sudah mantap dengan ide Ija Kroeng, dia berburu bahan lalu bikin sarung sendiri. Hasil usahanya dilirik teman-teman. Pelan-pelan ia dapat order dari orang-orang terdekat.

Dua tahun lalu ia pulang kampung, Banda Aceh. Usaha sarungnya menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Kerap mereka tanyakan dan order sarung buatannya. Hal ini menginspirasi dia jadikan Ija Kroeng selayaknya sebuah produk baru. Urus hak paten.

Sebelum mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), dia formulasikan ulang bagaimana cara berbisnis dengan brand lokal.

Semaksimal mungkin bisnisnya tak bergantung kepada pihak luar Aceh. Kecuali bahan, segalanya bersumber dan dibuat di Aceh. Hingga dibranding secara resmi pada bulan Maret 2015, hak cipta Ija Kroeng pun terdaftar di Ditjen HAKI Kenenkumham RI.

“Sehingga sampailah pada peradaban modern, 2015 bulan tiga, ada ija kroeng made in Aceh,” cerita pemuda itu, Khairul Fajri Yahya, di ruangan Workhshop Ija Kroeng, Gampong Geuceu Kayee Jatoe.

Penjahit Ija Kroeng
Saat ini ada dua tenaga kerja tetap dan tiga tenaga kerja lepas di Workshop Ija Kroeng. Photo: Makmur Dimila

Dengan begitu, sebagai owner Ija Kroeng, ia sudah membalikkan sejarah masa lalu. Kini kain didatangkan dari Pulau Jawa (Semarang), dijahit di Aceh, kemudian dikirm kembali ke luar daerah.

Bagaimana strategi memperkenalkan brand lokal?

Tak semudah menyimpan kain dalam lemari untuk memasarkan brand lokal. Khairul jeli melihat hal-hal kecil. Dia punya strategi sendiri.

1. Berani tampil beda

Sebab dibuat di Aceh, Ija Kroeng bisa dipatenkan dengan ‘made in Aceh’. Dan takkan bisa seperti itu seandainya diproduksi di luar Aceh meskipun memakai nama Aceh sebagai mereknya.

“Jadi segala sesuatu yang dibuat di tempat itu harus menggunakan ‘made in daerah itu,” sebut Khairul.

Menurutnya, tak semua pebisnis berani angkat brand lokal sekaligus membuatnya di daerah itu. Aceh misalnya, punya keterbatasan di sektor tenaga kerja, biaya listrik mahal, material harus dipasok dari luar karena tak ada pabrik kain.

Pengusaha yang semata-mata cari keuntungan, tentu tak mau. Ia akan peroleh sedikit laba dengan kondisi tersebut. Hanya pebisnis dengan idealisme yang berani ambil langkah demikian.

“Dan Ija Kroeng ini ada nilai yang tak terbayar oleh uang. Nilai kebanggaan kita. Kita bisa membuktikan bahwa anak muda di Aceh bisa juga berbuat seperti anak muda di luar,” ucap Khairul, berbinar.

2. Desain trendy untuk segmen anak muda

sarung di lange
Kain sarung ikut menemani saya bermalam di Pantai Lange, Aceh Besar, 2013. Photo: Ikbal Fanika/makmurdimila.wordpress.com

Khairul menyentil, “Hari ini jika kita tanya: deskripsikan beberapa hal tentang kain sarung?”

Saya langsung membayangkan kain kotak-kotak, petak-petak, garis-garis, dan tak berani pakai di selain tempat beribadah dan mengaji.

“Kalau saya sebagai salah satu anak muda, akan menjawab: ‘kalau saya pakai ija kroeng, naik umur saya lima tahun. Tua,” ucapnya.

Diperhatikannya selama ini, anak muda yang ingin tampil fashionable dalam ibadah tak dijawab oleh produsen besar. Desain-desain hanya penuhi keinginan orang tua. Dia keluar dari pakem itu. Menjawab kebutuhan anak muda sekarang yang suka trendy, seperti kain polos, bahannya enak, dan nyaman dipakai.

“Sejauh ini memang banyak kalangan muda yang order Ija Kroeng,” dia membuktikan.

3. Penamaan merek yang akrab dengan keseharian masyarakat

Jika umur Banda Aceh sudah 800 tahun lebih, ija kroeng (kain sarung) ditaksir Khairul sudah ada sebelum hari lahir Kuta Raja itu.

Sejatinya ija kroeng sudah tertanam lama di benak masyarakat Aceh. Tak ada orang Aceh yang tak mengenal dan tak memilikinya.

Budaya bersarung itu memudahkan Khairul dalam brandingkan merek Ija Kroeng. Lebih-lebih, kain sarung adalah produk utamanya.

“Selama ini kalau ada orang Aceh bilang, ‘nyoe ija kroeng sikrek/ini selembar kain sarung’, tapi bukan merek Ija Kroeng. Lalu ketika dibilang seperti itu dan sarungnya benar-benar bermerek Ija Kroeng, ‘berarti sah ija kroeng,” jelasnya.

4. Logo yang memikat

Logo Ija Kroeng
Logo Ija Kroeng. Photo: Makmur Dimila

Lukisan polos seorang bocah bersarung dan peci sedang melangkah maju. Dibatasi oleh lingkaran. Desainnya simpel namun sarat makna, bikin saya penasaran.

“Bocah itu tak berdiri, tapi statis. Dia bergerak terus. Jadi maknanya luas. Bisa dimaknakan pergi untuk menuntut ilmu, keliling dunia, atau orang pergi haji.”

Saya sendiri selalu bawa setidaknya selembar sarung setiap bepergian. Tak hanya untuk beribadah, tapi juga multifungsi. Selimut, bantal, ikat pinggang, hingga alat P3K.

Khairul menegaskan logo produknya dengan hanya dua warna: hitam dan putih. Dua warna dasar yang masuk untuk semua elemen dan usia, sejalan dengan warna Ija Kroeng seri originalnya.

“Warnanya universal, untuk semua umat. Tapi yang dikenal hari ini hitam itu Gothic, warna kegelapan. Sebenarnya enggak. Kita ingin ubah image bahwa warna hitam itu warna rakyat. Semua orang bisa pakai.”

5. Mengincar dua segmen sekaligus

Brand lokal berstandar nasional, konsep itu yang selalu diupayakan Khairul. Ia sangat menjaga kualitas Ija Kroeng. Sebab produknya bisa masuk ke dua segmen sekaligus. Segmen umum dan suvenir. Hal langka dalam industri kreatif.

Dia mencontohkan. Jika dibuat tas motif suatu daerah yang didesain hanya sebagai suvenir–tak dibuat untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat–tentu tak semua orang ingin memiliki tas demikian.

Tetapi semua orang Aceh punya dan butuh sarung. Sehingga Ija Kroeng bisa masuk segmen umum juga suvenir.

“Kota Banda Aceh merupakan Bandar Wisata Islami, tentu setiap turis perlu oleh-oleh yang islami. Ija kroeng salah satunya.”

6. Tagline unik: kabarkan kepada dunia di Aceh ada ija kroeng.

Khairul Fajri Yahya
Khairul Fajri Yahya, owner Ija Kroeng. Photo: Makmur Dimila

Tagline itu sejatinya ungkapan misi Ija Kroeng. Khairul yakin semua orang Aceh yang merasa orang Aceh akan menyampaikan itu.

“Yang ingin kita sampaikan bukan merek Ija Kroeng-nya, tapi nama ija kroeng itu sendiri.”

Sekitar delapan abad hingga tujuh bulan lalu, nama ija kroeng mengambang-ambang. Hanya masuk dalam benak orang Aceh. Tapi mereka tak mengerti bagaimana ija kroeng yang sebenarnya.

Dia contohkan, kenapa orang Indonesia sebut anggur dan orang Barat bilang grape? Karena sama-sama punya tapi lain nama. Dan kenapa orang Barat tetap menyebutkan durian dan rambutan? Karena dua buah itu cuma tumbuh di Indonesia, Western tidak.

Begitupun dengan ija kroeng. Dunia menyebutnya kain sarung. Beberapa daerah lain di Indonesia juga punya kain sarung dengan sebutan berbeda. Pun luar negeri, seperti Myanmar yang memiliki “Longyi”.

Bentuk ija kroeng sama dengan kain sarung di daerah lain, tapi namanya milik Aceh. Hanya saja, nama ija kroeng tenggelam oleh sebutan sarong dari mulut sebagian masyarakat Aceh itu sendiri.

“Mungkin sarong baru 200 tahun lalu ditemukan. Sedangkan ija kroeng ini sudah dikenakan 800 tahun lalu, tapi kenapa tak familiar sekarang? Itu yang perlu dikabarkan ke dunia, bahwa di Aceh ada ija kroeng, bukan hanya kain sarung.”

Khairul merasa yakin, anak muda akan sampaikan kalimat itu. “Sampaikanlah walau bukan satu ayat. Tapi satu kata, dua kata, tiga kata,” candanya.

7. Dua teknik promosi, ‘serangan udara’ dan ‘invasi darat’

Ija Kroeng dipromosi dengan dua cara. “Kalau kami bilang, ‘serangan udara’ dan ‘invasi darat,” tutur Khairul.

Serangan udara dimaksudnya untuk promosi via media sosial. Akun dengan nama Ija Kroeng aktif berinteraksi di Instagram, Facebook, Twitter, Line, Path, dan BBM.

Promosi di dunia nyata disebutnya invasi darat. Berpartisipasi di seminar, bazar, dan pameran. Khairul pun mulai diundang sebagi motivator di beberapa lembaga pendidikan maupun pemerintahan.

8. Quality. Quality. Inovation.

Ija Kroeng Motif Gayo
Motif gayo di bagian bawah Ija Kroeng seri budaya. Photo: Makmur Dimila

Khairul posisikan konsep “QQI”-nya ini di urutan terpenting dalam mempertahankan brand lokal. Lebih-lebih untuk segmen umum, akan ada repeat order (pemesanan ulang) kalau kualitasnya terjaga.

“Kalau quality, quality, quality terus tanpa inovasi, orang akan bosan. Jadi kita buat quality, pertahankan quality, bikin inovasi,” sebutnya.

Kain didatangkan dari pabrik tenun di Semarang. Kain standar. Tetapi dijahit oleh tenaga lokal berkualitas tinggi. Bahkan ia memberikan sentuhan berbeda pada jahitan, yaitu lipatan kunci di ujung kain sehingga kain tak mudah sobek.

Juga sebagai inovasi, Ija Kroeng dirilis dalam seri khusus selain seri original. Pernah terbitkan edisi terbatas untuk seri Lebaran 1436 H dengan tiga warna: merah bata, hijau, dan abu-abu, yang diberikan kasab di bagian bawahnya.

Pun saat ini, Ija Kroeng sudah merilis seri budaya motif gayo. Sebab tak semua orang suka sarung tanpa ornamen. Seri budaya ini akan berganti-ganti setiap tahun, dengan menggunakan motif-motif budaya seluruh daerah Aceh.

Ija Kroeng juga produksi goodie bag dan syal.

9. Jalankan sesuai Business Plan

Sekecil apapun usaha, mesti ada Business Plan. Sebab perusahaan yang punya Business Plan saja bisa kolaps, apalagi Ija Kroeng. Walaupun ia industri rumah tangga, beroperasi di ruang petak 4×4, bermula dari satu mesin jahit, tetap harus punya Perencanaan Bisnis.

Ija Kroeng punya Business Plan jangka pendek, menengah, dan panjang. Ada target-target yang ingin dicapai di setiap fasenya.

“Ini sudah 7 bulan 9 hari, hampir semua tercapai. Bahkan melebihi,” katanya.

Dua bulan pertama ditargetkan bisa terlibat di event tingkat kotamadya. Tercapai di Pekan Kreatif Banda Aceh. Di bawah enam bulan, target ikut event provinsi. Pun tercapai, dalam Perayaan 100 Tahun Museum Aceh.

Dalam setahun, target event nasional. Tercapai juga, dengan terlibat di Pekan Inovasi Perkembangan (PIN) Desa/Kelurahan Nasional dan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional 2015. Terakhir, ditargetkannya bisa bermain di level internasional di atas setahun.

“Alhamdulillah hari ini, Ija Kroeng made in Aceh menjadi produk unggulan kontingan Pemerintah Aceh dalam expo industri kreatif di Perak, Malaysia, yang berlangsung 19-20 Oktober 2015,” bebernya.

Ija Kroeng sudah traveling ke mana saja?

Motif gayo berwarna merah, kuning, hijau, tampak jelas di bagian bawah Ija Kroeng seri budaya yang dikenakan personil Grup Band Kande. Suara Rafly melengking bagai petir di pentas musik pembuka acara.

“Ini video penampilan Rafly dan Kande Band di Jerman yang semuanya mengenakan Ija Kroeng seri budaya gayo,” Khairul memperlihatkan sebuah video yang diunggah di akun Facebook temannya di Jerman.

Rafly Kande mewakili Indonesia tampil sebagai pemusik pembuka di Pameran Buku Internasional Frankfurt (Frankfurt Book Fair) 2015, Jerman.

Bukan yang pertama. Beberapa bulan lalu, grup musik etnik Aceh itu juga kenakan Ija Kroeng ketika berpartisipasi di Edinburgh Fringe Festival, festival seni terbesar di dunia, yang tahun ini digelar di London, Inggris.

Saya pun coba mengenakan kain hitam polos motif gayo. Tampak elegan memang. Ija Kroeng made in Aceh ini saya pikir patut menjadi perhatian Smesco Indonesia yang punya misi mempromosikan produk lokal ke kancah internasional.[]

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here