Menonton Pacu Kuda (2), Jangan Berkedip

DARI kandang kuda, kami menuju tribun utama Lapangan Belang Bebangka. Ada panggung seni dan panggung pejabat di sana. Di belakangnya juga disediakan lapak untuk menonton pacu kuda, sebuah tribun penonton yang masih setengah jadi. Tapi akhirnya kami jadi juga naik ke atap tribun itu.
Arena mulai penuh. 
Di belakang arena pacu, beberapa kuda masih diikat. 
Para juara sebelum bertanding. πŸ˜€

Halaman parkir terlihat penuh, lapangan juga disesaki pengunjung. Sudah hampir jam 12, pacuan belum juga dimulai. Kami turun. Mencari spot yang pas untuk memotret. Sepertinya tikungan menjadi angelmenarik saat kuda-kuda berbelok dan joki berwajah garang. Jufri dan Zirki mengandalkan DSLR, saya dengan boh hateipadmini pun jadi.

“Hambooo, Nak!”
Foto: Jufriadi

Setengah jam terlunta-lunta di pagar yang memisahkan lintasan kuda dengan area penonton, orang-orang yang tadinya di lintasan kuda berlarian. Mereka menyingkir cepat. Bikin saya kaget.
Jiah, empat kuda berlari searah jarum jam di depan saya tanpa sempat memotret, kecuali Zirki yang sudah siaga dari tadi. Padahal kuda melintas satu meter di depan saya.
Saya semakin kecewa karena lomba hanya sekali putaran. Dan semakin kecewa lagi karena Fitra ternyata baru saja bertarung. Saya melihatnya berjalan pelan menarik kuda, wajahnya terlihat kecewa. Artinya, guna menikmati menonton pacu kuda berikutnya, saya harus menunggu race kedua yang belum pasti kapan dimulai.
Fitra dan Camar Laut-nya. Sepertinya ia tak dapat juara. Tapi dia juga joki yang luar biasa bisa masuk final. πŸ˜€

Seorang pemuda di samping saya bilang, sepertinya race kedua satu jam lagi. Menurutnya, yang baru saja berlangsung itu lomba kelas D muda, yaitu perlombaan untuk kuda lokal usia di bawah 4 tahun. Ada delapan kelas, sebutnya, masing-masing kelas D, C, B, A dibagi dua kategori, muda dan tua. Muda untuk kuda di bawah 4 tahun sedangkan tua di atas 4 tahun.

β€œYang seru itu nanti sore, kuda padang dan jokinya langsung dari Padang,” tuturnya.
Tak mungkin lah, kami sudah atur jadwal balik ke Pidie sehabis siang. Saya pun semakin bertekad, takkan keluar arena sebelum mendapatkan gambar kuda yang sedang berpacu. Satu jam berlalu, box sejenis sel diletakkan kembali di garis start, di depan tribun.
Saya dan tiga kawan kampus masih berdiri 100 meter dari garis start, sementara kawan sekampung sudah lebih dulu keluar. Akhirnya empat kuda kembali dipacu joki cilik. Tanpa ragu, tanpa berkedip, saya siap pencet tombol jepret berkali-kali dari pagar penonton.

Alhamdulillah, saya dapat. Saya dapat! Eh, ternyata dua putaran, kuda-kuda itu kembali terbang di depan saya. Dan sejauh tiga putaran, tak ada joki yang terjatuh; penonton yang masuk arena juga tak diseruduk kuda. Pemandangan yang unik dan pengalaman yang luar biasa.

Saya berpikir, dari seluruh even tahunan di Aceh, pacu kuda tradisional gayo inilah yang paling seru dan meriah. Tidak kalah meriah dengan Pekan Kebudayaan Aceh yang digelar lima tahunan.”

Pacu kuda tradisional ini berlangsung selama 19-24 Agustus, diikuti ratusan kuda lokal dan luar, dalam rangka merayakan HUT RI ke 69. Namun bagi Anda yang belum sempat menonton pacu kuda, masih ada kesempatan.
Menurut warga setempat, pacu kuda tradisional gayo berlangsung empat kali di Tanah Gayo. Pertama, diadakan antara bulan Februari-Maret di Blangkejeren, Gayo Lues. Kedua, pada Agustus di Pegasing, Aceh Tengah. Ketiga, di Bener Meriah. Terakhir di Kuta Cane, Aceh Tenggara. Dua terakhir belum saya tahu dimana dan kapan acaranya.
Kala itu, kami bertolak dari Pidie, melewati Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Bener Meriah, menghabiskan waktu sekitar enam jam perjalanan darat. Anda butuh waktu enam jam lagi untuk menonton pacu kuda di Aceh Tenggara, Kuta Cane.[Bersambung]
Writer : Makmur Dimila