Menonton Pacu Kuda (1), Nikmatnya Dua Detik

Pacu kuda tradisional gayo, Agustus 2014

SEJUMPUT debu terbang seiring tapak kuda gayo terangkat ke depan dadanya, menuruti kemauan joki cilik. Suara “teguduk-teguduk” menyalak saat kaki itu kembali menekan tanah lapangan Belang Bebangka. Saya yang berdiri di pagar lintasan, terperangah, kok, kudanya lekas hilang?

Sebegitulah kenikmatan menonton pacu kuda gayo tradisional di Aceh Tengah. Jika dihitung-hitung, saya cuma menyaksikan dua detik kenikmatan pacuan kuda.
Detik pertama saat dua kaki kuda terangkat sementara dua lainnya menyangga tanah. Detik kedua saat joki tanpa pelana menarik tali pacu di leher kuda sehingga mengangkat kaki yang tadinya menekan tanah dan menurunkan kaki yang sebelumnya menendang.
Senangnya saya bisa melihat langsung even tahunan ini. Minggu, 24 Agustus 2014, saya sudah hadir di Lapangan H M Hasan Gayo, Belang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Bersama tiga kawan kuliah: Ikbal, Zirki, Jufri dan empat rakan sekampung: Gun, Isan, Boy, Fahrijal.
Hari itu, duluan kami menjajal Lapangan Bebangka dibanding kuda-kuda yang akan berpacu di laga final. Kami mengira, lomba dimulai jam 10 pagi sebagaimana hari-hari sebelum kami datang. Kami pun tiba jam 10, teng!

Area penonton bagi dalam masih lengang.

Jufri memotret kuda pacu yang sedang menjajal lapangan Bebangka.

Tapiii, belum ada kuda-kuda yang lari teratur di lintasan sepanjang 1.200 meter. Namun, di luar arena, keramaian membahana. Lapak-lapak pedagang disasar pengunjung. Mulai dari penjual pakaian, mainan, aksesoris, pertunjukan tong setan di mana para lelaki mengendarai motor di dinding tong seperti setan, gorengan yang tak pernah hangat saat dimakan (inilah uniknya gorengan di Kota Dingin :D), hingga mainan lempar kalung seperti dicoba Boy namun ia gagal memasukkan ke jam tangan yang diinginkan.

“Kalo macam-macam kutembak!”
Foto: Jufriadi

Kami lantas ke belakang lapangan, tempat kuda-kuda pacu dikandangkan. Ringkih kuda dan keberadaan beberapa pria bernampilan coboy di area itu, bagi saya, bagai melihat langsung proses syuting film Coboy.
“Bang Ikbal, ntar dishare ke FB saya ya,” si kuda memelas. 😀

Sebuah kelangkaan bagi kami bukan warga Aceh Tengah, mengusap kepala kuda. Dan kami menikmatinya di sini. Tapi kami tidak mengusap kepala si Coboy itu ya. Berpose dengan kuda juga mengasikkan, namun kami takut dengan kuda-kuda yang diikat lepas di tanah lapang. Takut disipak!

Ada apa nih rame that? Lagi upload foto selfie bareng kuda kayaknya 😀
Fitra dan Mahara.

Beruntung, saya ketemu Fitra di sana. Ada bekas luka di hidungnya. “Jatuh kemaren, Bang,” ujarnya. Dia joki berusia 14 tahun yang akan berlaga di final. Dia sedang memberi pakan Mahara, kuda gayo berusia 2 tahun. Tapi bukan dengan kuda itu dia berlomba, karena sudah jatuh di laga sebelumnya. Tunggangannya bernama Camar Laut, dia pun mengajak saya melihat pasangannya.

Hai, kalau kamu harus memilih, mau jadi joki atau kudanya?” 😀

Salah satu daya tarik menonton pacu kuda tradisional gayo adalah joki cilik yang menunggangi kuda tanpa pelana dan pengaman lainnya. Para joki hanya duduk di punggung kuda, memicu akselerasi dengan cambuk. Selebihnya mereka “mengoper gigi” kuda dengan insting seorang petarung. 
“Saya tidak takut, Bang,” beber Fitra. “Tidak tauBang dimana asiknya, tapi sudah sudah hobi dari kecil, sejak duduk di SD,” tuturnya saat saya tanyakan apa motivasinya berpacu meski tanpa safety.
Hebat ya, coba Si Bolang datang ke Gayo dan beradu cepat dengan joki-joki cilik ini, pasti akan menjadi tayangan istimewa. #panggil Trans 7 bentar, hehe.[Bersambung]
Writer : Makmur Dimila