si mata biru

Badannya langsing dan putih. Tapi yang menarik bagi saya, warna biru pada mata, eh, sorry, entah di bagian mana tubuhnya.

Pokoknya saya masih ingin menyapanya ‘Si Mata Biru’. Sekarang, saya berdiri tak begitu jauh dari rumahnya. Untuk melihatnya lebih dekat, saya berjinjit: tampak kamarnya bersih dan rapi.

Saya hari ini bertandang ke rumahnya karena sebuah kabar yang kuterima lima bulan lalu. “Dalam waktu dekat, jasanya mulai bisa kita gunakan,” ujar salah satu majikannya[1].

Semenjak kabar itu pula, saya penasaran ingin menjumpainya, sesegera mungkin. Tapi saya harus menunggu sampai empat bulan lebih.

Tak apa-apa, yang penting saya bisa melihat dia yang kesohor di kampung halamannya. Dan sore ini, saya cuma bisa menjenguk rumahnya. Itu pun setelah ditunjuk jalan oleh senior saya. Senior[2] saya itu kenal betul sama majikan Si Mata Biru yang di Aceh.

“Dia akan muncul besok,” kata seorang pria penjaga[3] rumahnya. “semoga tidak ada halangan,” sambungnya.

Ya, saya sangat berharap demikian.

Karena senja tiba, saya memotret halaman rumahnya. Akan saya tunjukkan pada kawan saya nanti malam, biar si kawan tahu dari sudut mana ia harus memotret sosok yang saya rindu-rindukan itu.

Besok, pagi-pagi, saya dan si kawan saya yang fotografer[4] itu, melawat ke rumah Si Mata Biru. Tapi dalam perjalanan, hujan turun, aduh!

Menanti hujan reda, saya melihat jam tangan, pukul 9. Masih ada waktu satu jam lagi dari waktunya Si Dia muncul.

Kami melalui jalanan basah sesaat sebelum sampai ke rumahnya. Hati-hati, saya ingatkan si kawan yang mengemudi, jangan sampai gagal memotret si dia!

Ya ampun. Orang lain sudah lebih dulu mengerubungi halaman rumahnya. Kami sedikit telat. Hm, tidak apa-apa, dia kan munculnya jam 10.

Bayangkan saja betapa indahnya sosok yang akan kami jumpai, sampai-sampai, kami harus melalui uji pemeriksaan begitu masuk pintu rumahnya. Bak bertamu ke istana Raja saja.

Sayangnya, saya perhatikan, semua orang lolos dari mesin pemeriksaan itu. Maunya kan, banyak yang gagal, sehingga hanya kami saja yang pertama masuk ke rumahnya. Ha-ha.

Wah, ternyata, di dalam juga sudah banyak orang yang hadir. Sebenarnya saya kaget, kenapa hari ini akan ramai sekali di rumahnya. Apakah mereka juga sangat ingin melihat dia?

Curiga saya, apa Si Mata Biru itu mau… Ting ting?

Halah, tidak peduli, saya mencari tempat duduk dengan sudut yang lebar untuk melihat ketika dia muncul di arena yang telah disediakan. Begitu pun kawan saya, dia siap memotret dari berbagai sudut.

Tapi saya tidak akan banyak memotretnya. Saya tidak mau terlihat mencolok di kerumunan, tidak mau nanti terlihat olehnya. Hanya dengan iPad mini saja, satu-dua kali sudah cukup.

Dari satu jendela rumahnya saya melongok, alhamdulillah, langit sudah cerah. Arena tempat dia muncul pun tampak semakin mudah disambar lensa.

Tapi semakin lama saya duduk dalam rumahnya, semakin banyak pula saya melihat kedatangan orang-orang yang membawa kamera. Entah dari mana mereka tahu kalau hari ini dia akan muncul.

“Itulah capeknya kalau kita merindukan, eum, maksud saya menyukai sosok terkenal,” saya bergumam dari tepi jendela lantai dua.

Saya sengaja naik ke lantai dua. Tidak banyak yang suka menonton dari atas dan para pemanggul kamera hari ini tampaknya lebih suka membidik dari hadapan arena.

“Sudah lama dia tak muncul di rumah ini,” tutur seorang pria[5] di samping saya. “Dulu pernah sekali, tapi jatuh satu korban jiwa gara-gara dia, sehingga ia dilarang tampil”.

Hah? Sebegitu seramkah sosok yang sedang kami tunggu?

Tapi saya tidak percaya begitu saja, baru dengar hari ini[6]. Ah, jangan-jangan, pria di samping saya ini cemburu lagi. Dia mungkin juga tak mau kalau banyak orang menyaksikan penampilan perdana Si Mata Biru.

Baiklah, lihat sebentar lagi, siapakah di antara kami yang paling menarik perhatiannya. Dia, saya, mereka, atau kita semua justru akan ‘kepingin mencobanya’. He-he.

Di bawah, pembawa acara mulai memberi kode. Sosok itu akan segera ke luar dari ruangannya, akan segera muncul.

Duh, kok saya deg-degan, ya..

Perlahan, suara merdunya berdengung, hingga beberapa menit. Semakin lama, suaranya kian nyaring. Orang-orang mulai diam, tak sabar ingin melihat penampilannya. Para pemegang kamera siap jepret, bahkan ada di antara mereka yang memegang dua kamera DSLR sekaligus: satunya menggunakan lensa tele untuk ambil dari jauh saat dia memunculkan matanya barangkali, satu lagi untuk memotret dari jarak dekat saat dia menampakkan bodynya secara utuh.

Saya? Hanya dengan iPad mini. Tak apa, pede aja lagi…

Layar putih tersibak. Dia muncul, ya Tuhan, dia muncul. Saya menjepret beberapa kali saat yang lain memburu berbagai posisi di bawah sana. Dia tampak langsing dan semampai.

Tapi oh, tergoda juga saya, dan akhirnya saya turun dari lantai dua. Cepat-cepat ke kamarnya.

Oh, ternyata, dia tak bermata biru, melainkan kakinya[7]. Saya kira matanya kayak orang Lamno (Aceh Jaya) keturunan Portugis. Apa saya salah ingat atau pikiran saya sedang tak jelas? Maaf ya kalau saya telah membuat Anda kecewa.

Baiklah, saya tak lagi menyebutnya Si Mata Biru. Mulai hari ini, saya sapa Si Kaki Biru. Saya pun memotretnya sesuka hati di arena bernama Bandar Udara Maimun Saleh, Sabang, dengan berbagai posenya.

Selamat datang Garuda Indonesia ATR-72 600 Explore. Mari terbang bersama Maskapai Kebanggaan Indonesia.[]

Writer : Makmur Dimila

NOTE: cerita ini terinspirasi dari perjalanan saya dalam tugas liputan ke Bandara Maimun Saleh, Sabang, pada Jumat 6 Februari 2015, hari pertama Garuda Indonesia ATR-72 600 Explore mendarat di Pulau Weh dari Medan.

Garuda Indonesia di Maimun Saleh
Garuda Indonesia ATR 72-600 Explore saat landing perdana di Bandara Maimun Saleh, Sabang, 6 Februari 2015. Photo : Makmur Dimila

REFERENSI:

[1] Majikannya ini saya maksudkan Nano Setiawan, GM Garuda Indonesia Aceh, dalam berita saya: Garuda Indonesia Lebarkan Sayap di Aceh

[2] Senior ini sebenarnya bukan senior, tetapi Pimum Majalah Aceh Tourism, Salman Varisi.

[3] Pria penjaga ini bernama Hamzah, TNI AU asal Pekanbaru, bertugas di Sabang sejak 15 tahun. Saya ngobrol denganya pada sore 5 Februari 2015, di pos security Bandara Maimun Saleh.

[4] Kawan saya ini ialah Ikbal Fanika, fotografer Majalah Aceh Tourism.

[5] Pria ini pegawai di Dishub Sabang, saya lupa namanya.

[6] Tapi kata pria ini, belasan tahun lalu sebelum ada kapal cepat untuk menyeberang ke Sabang, pernah ada satu maskapai swasta yang membuka rute ke Sabang. Namun naas, suatu kali seorang penumpang tewas terkena baling-baling pesawat kecil itu.

[7] Kaki di sini saya tujukan kepada ekor Garuda Indonesia ATR 72-600 yang berwarna biru.

 

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here