Mengenang Potensi Wisata Lokop

kartun desa safariku

Ilustration: Jhon Illusion.

Langit sangat mendung dalam perjalanan kami ke Lokop. Hawa dingin pegunungan menyertai perjalanan kami.

Di sisi kanan kiri jalan kami temui banyak kebun karet, cokelat dan sawit milik warga maupun milik PT Perkebunan, juga pemandangan gunung dan sungai yang jernih. Sangat menyejukkan mata.

Tujuan saya ke Lokop untuk melihat sendiri keberadaan harimau sumatera yang katanya sudah punah tapi masih ada di sana–salah satu potensi wisata Lokop sebenarnya_red. Saya pergi ke sana pada Kamis 10 November 2011.

Lokop berjarak 400 km dari Kota Banda Aceh. Sebuah desa terpencil di Kecamatan Serba Jadi,  Aceh Timur. Jalan ke Lokop sungguh memprihatinkan.

Kita harus hati-hati karena akan menemui banyak lubang besar di badan jalan, juga binatang liar seperti ular yang kerap kali menyeberang di badan jalan.

Setibanya di Lokop, saya disambut oleh satwa-satwa liar seperti burung pipit, meurebok, meunom, ticem pala, dan burung-burung lain yang sudah sangat jarang terlihat di kota. Ketiadaan sinyal hape membuat saya kerepotan memberitahukan keberadaan saya ke kawan-kawan dan keluarga.

Masyarakat di sini mayoritas dari suku Gayo dan suku Aceh, sebagaian suku Jawa yang pendatang. Kegiatan sehari-hari penduduk adalah bertani dan berkebun.


Sambutan masyarakat sangat baik atas kedatangan saya–nilai hospitality yang mendukung wisata Lokop_red.


Mereka menganjurkan saya ke kolam air panas yang letaknya tidak jauh dari tempat saya menginap. 

Hanya beberapa menit mendaki gunung, saya  mendapati sumber air panas. Bau belerang sangat terasa saat saya berada di lereng gunung. Dekat sumber air, masyarakat membuat satu kolam besar untuk menampung air panas, sehingga memudahkan bagi siapa saja yang ingin mandi.

Setelah puas mandi, saya diajak ke sungai tidak jauh dari kolam air panas. Sungai yang mengingatkan saya ke Krueng Maryam Tangse dan Krueng Tiro di Kabupaten Pidie, karena bentuknya sama persis.

Pemandian air panas Lokop. Photo: radarnusantara.com

Sungai Lokop. Photo: radarnusantara.com

Saya melipat lengan kemeja dan berwudhu dengan airnya yang jernih dan dingin. Berjalan beberapa langkah ke dalam sungai, saya mencoba mencari batu akik yang menurut penuturan masyarakat masih banyak di sini.

Belum ada jaringan ponsel

Di Lokop, hingga saat itu belum ada jaringan telepon seluler. Warga berharap perusahana jasa telekomunikasi membangun tower di daerah tersebut.

Lokop merupakan kawasan pedalaman yang sangat jauh dan terpencil. Jaraknya lebih kurang 100 kilometer dari pusat Kota Idi, Ibukota Kabupaten Aceh Timur. Hampir 6 ribu warga yang tergabung dalam 11 gampong (desa) di Kecamatan Serbajadi saat ini sangat membutuhkan tower telekomunikasi untuk bisa berhubungan dengan masyarakat luar.


“Kami, bila ingin berkomunikasi dengan saudara atau famili, harus pergi ke daerah Gampong Singah Mulo dan Kecamatan Peunaron dengan jarak tempuh sekitar 20 kilometer,“ ungkap  warga.


Serba Jadi, kecamatan yang berada di pedalaman Aceh timur. Berjarak + 40 km dari ibu kota kabupaten. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tengah. Hampir seluruh wilayah Serbajadi dikelilingi oleh pegunungan, ia juga masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Keindahan alam yang berpotensi wisata Lokop antara lain: Pemandangan Waeh Porak (air panas bumi), Panorama Sungai Lokop, Panorama Waeh Terjun Weh Ilang, dan Pemandangan Alam Sepung.

Bukan itu saja, tetapi masih banyak keindahan alam yang tak diketahui oleh orang banyak yaitu di daerah Waih Selun, Meranti, dan Berapit. Di sana terdapat batu-batu besar menjulang ke dinding pegunungan.[]

Writer : Riazul Iqbal Pauleta

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂