Ija Kroeng, T 1 S, dan Wisata Lamreh

Awalnya saya canggung ditawari jalan-jalan bareng eks tapol/napol Aceh. Tapi apa salahnya bepergian untuk merekam satu mosaik berbeda dari sosok satu ini, Teungku Ismuhadi Jafar.

Kota Banda Aceh masih berkanopi langit mendung ketika saya dan Khairul Fajri Yahya yang menanti di workshop Ija Kroeng, dijemput tokoh Aceh di Jabodetabek itu.

Saya berharap, hujan takkan turun. Jika pun jatuh, tak sampai ke Bukit Lamreh, tujuan kami.

Kami dipersilakan masuk ke Land Rover Defender 110 putih-nya. Khairul duduk di depan mendampinginya. Di saf kedua, diisi istrinya Aznani dan putrinya Cahya Keumala.

Saya duduk di kursi paling belakang. Bersama jas hitam yang digantung di langit-langit bagian dalam kap. Interior mobilnya sudah dimodif. Saya merasa nyaman sekali, meski harus mencoba mengakrabkan diri dari belakang.

Suaranya tak berisik. Saya suka melihat ke luar jendela selama perjalanan. Kendaraan lain, kecuali truk dan bus, tampak lebih rendah; hanya sebahu saya. Mobil 4WD ini cukup tangguh menempuh perjalanan jauh.

Land Rover Defender T1S

Kapan Safariku punya mobil seperti ini untuk travelling? 😀 Photo: Makmur Dimila

Setelah bebas dari LP Cipinang pada Januari 2014, Ismuhadi sering travelling bersama keluarga dengan mobil kesayangannya ini. Baik ketika pulang ke Aceh maupun di Pulau Jawa.

Ia bersama istri dan dua anaknya juga kerap pulang-pergi menempuh jalur darat antara Jakarta – Bireuen. Kota Juang, tanah lahir pasangan yang sangat menjunjung tinggi kesetiaan hubungan suami-istri ini—cinta mereka terbukti cukup kuat ketika Ismuhadi berjuang dari balik jeruji.

Sebaiknya dibaca: Perjalanan Hidup Teungku Ismuhadi


Dari Bireuen, selagi Mala—sebutan untuk putri Ismuhadi—menempuh SMA di Banda Aceh, Land Rover Defender itu akan menaklukkan sepasang gunung Seulawah.

Jika tiba menjelang siang, ia langsung menjemput bungsunya dari salah satu boarding school di Kutaraja.

Mereka takkan mencari cafe, mal, atau pusat keramaian, melainkan pergi beli nasi bungkus, dan melancong ke tepi laut.

Mobil dibawa masuk ke objek wisata, dijajalnya pasir pantai Lampuuk, lalu menepi, dan makan bersama menikmati alam Aceh yang indah.

“Rasanya beda sekali, begitu nikmat,” ujar Ismuhadi sambil menyetir.

Suatu kali, dalam bulan puasa, mereka tanpa sengaja jalan-jalan sore dari Banda Aceh hingga tiba di Meulaboh, tepat pada waktu berbuka. Jalanan ke Calang bantuan USAID, bagai tol bagi roda tebal Defender 110-nya. Menginap semalam, besok paginya pulang.

Pantai barat-selatan Aceh yang diapit pegunungan dan samudera, diakui dunia sangat indah, menurut pria kelahiran Peusangan ini. Ia merujuk pada pendapat teman-temannya bekerja di sektor pariwisata dan kerap kunjungi objek wisata luar negeri.

panorama Bukit Lamreh

Panorama di timur Aceh sesungguhnya tak kalah indah, seperti kami nikmati dari Puncak Tebing Lamreh ini, sore itu. Photo: Makmur Dimila

“Namun stigma negatif menghambat pariwisata Aceh,” sebutnya, di samping, “masyarakat Aceh sendiri yang belum sadar wisata.”

Saat melintasi Krueng Raya, dengan lanskap Pelabuhan Malahayati, dia bilang, orang-orang luar Aceh di Jakarta ketika diajak ke Tanah Rencong, akan menyanggah: “tidak ah, takut dicambuk, harus pakai jilbab.”

Akhirnya calon wisatawan itu lebih memilih daerah lain. Padahal mereka belum tahu pasti ketentuan bersyariat di Aceh seperti apa, misal pakaian muslim itu tak diwajibkan bagi nonmuslim atau orang luar Aceh.

Saya melihat famplet “Welcome to Wisata Puncak Tebing” di kiri jalan pada gugusan Bukit Soeharto. Saya memberitahunya untuk ambil kiri, yang segera dihentikan oleh petugas dari pos masuk. Rp 20 ribu, biaya masuk.

“Tidak ada diskon hari Minggu?” tanya Ismuha menggurau.

“Tidak, Bang,” disahuti serius.

Mahal sekali, pikir saya, seraya terus memandunya. Santai sekali, Land Rover ini melibas jalan berkelok di antara bukit-bukit bebatuan yang gundul dan tandus.

Mengikuti jejak lajur kendaraan di atas reremputan yang sudah gosong, diapit pohon-pohon jamblang (Syzgium cuminii) yang gersang, dan batuan gunung sebesar sofa yang berserakan.

Bukit Soeharto

Bukit Soeharto, di timur Aceh Besar, dari dalam ‘T 1 S’. Photo: Makmur Dimila

Pemuda berpasang-pasangan mulai kelihatan. Ismuhadi berhenti sejenak saat akan mendaki ke Puncak Tebing Lamreh, beri jalan ke pengendara roda dua yang akan turun.

Jalan-berliku di perbukitan ini menawarkan panorama tak biasa bagi keluarga Ismuhadi. Ketiganya, terutama Mala, terlihat antusias sekali mencuri-curi pandang ke segala arah: tebing, samudera, perbukitan, kecuali saya #ngarep!

Atmosfir intim kami yang mulai terjalin sore itu, sedikit terganggu oleh petugas di pos lain, menjelang spot Tanjung Ujung Kelindu. Seorang pemuda melangkah pelan dari pos, memberhentikan mobil.

“Uang parkir lima ribu (rupiah), Bang,” tuturnya ke wajah Ismuhadi.

“Tadi kami sudah kasih uang masuk dua puluh ribu, bisa untuk semua, kata petugas, kok minta lagi?” digugatnya.

Saya tertawa dalam hati, juga heran, apa mereka ini tak pernah diberi sosialisasi sadar wisata. Padahal ketika saya ke sini dua tahun lalu, sebelum booming oleh syuting acara tivi nasional, perbukitan ini tak ada yang peduli namun punya keasrian alam luar biasa.

Sebaiknya dibaca: Keindahan Lain Lhokme


“Tidak, Bang, ini beda.”

“Coba tanya petugas di sana dulu ya,” sambar Ismuhadi.

Pemuda itu mengalah, mungkin takut lihat badan pria kelahiran 1969 itu yang tegap. Atau malah, takut dengan keperkasaan Land Rover Defender!

Dan saya yakin, pemuda-pemuda itu sama sekali tak kenali sosok yang sedang dihadapi.

Diburu senja, saya memilih Puncak Tebing Lamreh sebagai lokasi pemotretan. Tak ke Ujung Kelindu, yang “dirusak” oleh pemandangan pondok-pondok kayu dan pasangan muda-mudi.

Cahaya emas matahari menyambut kerinduan keluarga Ismuhadi di puncak. Saya pun senang, karena langit di ufuk barat pada jam 6 sore cerah.

Ija Kroeng Lamreh

Pendar cahaya kenikmatan di Puncak Tebing Lamreh. Photo: Makmur Dimila

Memotret Keluarga Ismuhadi

Ini behind the scene untuk foto di atas. Photo: Khairul Fajri Yahya.

“Seperti bukan di Aceh saja,” komentar Cut Kak Aznani.

Khairul memandu mereka kenakan Ija Kroeng, sarung dengan brand lokal yang tampil trendy, sementara saya memasang tripod dan mencari-cari angle yang cocok.

Sebuah kehormatan bagi saya, ikut membantu “membudayakan” ija kroeng di Aceh, Banda Aceh khususnya, dengan memotret adegan modelling ala happy family-nya Ismuhadi.

Sebaiknya dibaca: Ija Kroeng, Brand Lokal Bergaya Internasional


Saya sadar, saya bukan fotografer pro, apalagi untuk foto model. Tapi semampu saya, mengabadikan ekspresi mereka, yang sebenarnya pernah melukiskan ‘model’ bagi perjuangan perdamaian Aceh dari Jakarta.

Si Putih Besar, Land Rover, cukup menjadi property yang menarik. Juga kontur permukaan bukit yang bertangga—jika lebay dikata Bukit Teletubbies, tanjung, lautan, langit biru bercampur awan kelabu, reranting pohon, menjadi pelengkap sesi pemotretan hari itu.

Dia, istrinya, dan putrinya yang manis, terlihat cukup bahagia memberikan pose terbaik di Puncak Tebing Lamreh. Ekspresif, sabar, dan mau diarahkan.

Model Ija Kroeng Aceh

Salah satu pose Mala dengan ‘T 1 S’ ayahnya. Photo: Makmur Dimila

Sesi foto semakin asik ketika pengunjung lain pulang, pun matahari yang sudah ditimbun awan. Hanya tinggal kami berlima. Intim sekali.

Ismuhadi melakukan itu semua, demi membantu pemuda Aceh yang berbisnis namun juga angkat brand budaya Aceh yang nyaris tenggelam dalam arus kehidupan urban. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta esok pagi, ia akan bawa cerita spesial, tentang ija kroeng.

Kami turun menjelang azan Magrib. Seorang ibu yang berjalan kaki di lintasan kendaraan membuat Ismuhadi hentikan laju ‘T 1 S’.

“Ibu mau pulang kemana? Dengan siapa? Kalau tidak ada, sini sekalian sama kami,” ia menawarkan tumpangan setelah menurunkan kaca jendela.

“Tidak apa-apa, Bang. Ada suami di belakang sana,” perempuan bersarung itu tersenyum seraya menunjuk ke arah Ujung Kelindu.

Merasa yakin dengan jawaban itu, dia kembali tancap gas, perlahan, hingga ia tercengang begitu tiba di pos masuk. Tak ada seorang pun di sana, suasana yang sama sebelumnya kami dapati di pos parkir.

Apa mereka hanya cari untung? Tak meninggalkan kewajibannya menjaga keamanan pengunjung?

“Begitulah kenyataan wisata Aceh hari ini. Satu sisi berkembang stigma negatif di luar. Di dalam, masyarakat kita belum siap,” tuturnya.

“Harapan untuk perubahan ada di generasi muda sekarang, ketika generasi tua yang masih melekat dengan tradisi lama ini, meninggalkan dunia ini, para muda itulah yang bisa mengubah sistem sosial,” sebutnya.

Saya pribadi tak banyak komen, hanya ingin mendengar pendapatnya dari dalam mobil tangguh bernomor pelat “T 1 S”, yang menandai akronim nama pemiliknya.

Motret Ija Kroeng

Tak ada yang lebih bahagia dari bersama-sama menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Photo: Makmur Dimila

Toh, pengalaman saya setahun belakangan, begitulah pariwisata Aceh saat ini. Pemerintah pun, masih mencari format, wisata jenis apa yang tepat “dijual” dari Aceh.

Hari semakin gelap, kami meninggalkan Bukit Lamreh dengan diam. Masing-masing mengemas kenangan, Minggu 14 Februari 2016.[]

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

Ija Kroeng dan Ismuhadi

Briefing atau fighting? 😀 Photo: Makmur Dimila

Ija Kroeng Aceh

“Nyaman sekali pake ija kroeng,” kata Mala, saat saya tanyai sewaktu pulang. Photo: Dimila

Ija Kroeng di Lamreh

Bebas melakukan apa saja di alam terbuka, bahkan memotret selagi mengenakan sarung. Photo: Makmur Dimila

Ismuhadi-Aznani

Ismuhadi dan istrinya beraksi ala remaja. Photo: Khairul Fajri Yahya

Keluarga Ismuhadi di Aceh

Babak baru kehidupan mereka telah dimulai. Bahagialah. Photo: Makmur Dimila

 

 

    1. Mus Deoranje March 1, 2016
      • Safariku March 1, 2016
        • Mus Deoranje March 1, 2016
          • Safariku March 1, 2016

    Add Your Comment