Genpi Aceh, Laskar Digital

Musim hujan menyambut kedatangan tim dari Kementerian Pariwisata ke Banda Aceh pada pekan awal September. Hujan, kata orang, adalah rahmat. Tetesan ‘airmata langit’ meninggalkan jejak kebaikan bagi alam.

Benar saja. Esoknya di Oasis Atjeh Hotel, Banda Aceh, 6 September 2016, dibentuklah Generasi Pesona Indonesia (Gen PI) Chapter Aceh. Di akhir acara optimalisasi peningkatan wisata halal melalui media sosial.

Sebulan sebelumnya, Kemenpar di bawah Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, mendeklarasikan Gen PI Bandung pada 6 Agustus. So, Aceh adalah daerah kedua.

Tak salah provinsi di ujung barat Indonesia ini dipilih. Sebab ada banyak potensi destinasi wisata di Aceh yang belum diungkap dan dikemas baik.

Sebaiknya dibaca: Wisata Halal Aceh, Sudahkah Kita Siap?

Genpi Aceh inilah nantinya yang menyokong kerja instansi dan pelaku usaha terkait pengembangan pariwisata. Selain dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan Kemenpar di daerah. Secara sukarela.

Sepanjang Selasa itu, setidaknya ada 40 pegiat media sosial Aceh duduk mengelilingi meja bundar. Mendengar kesuksesan perjuangan Lombok meraih tiga kategori penghargaan destinasi halal internasional pada World Halal Travel Award (WHTA) 2015 di Dubai.

Taufan Rahmadi, Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah Lombok, NTB, memantik semangat buzzing peserta, mendongkrak pariwisata Aceh meraih penghargaan seperti Lombok. Menjadikan Serambi Mekkah sebagai destinasi wisata halal internasional.

Alhumaira Aceh

Taufan Rahmadi (kemeja putih), salah satu pembicara, pose bersama grup vokal Al-Humaira yang cukup menghibur peserta. Photo: Ammar Fuad

***

Katanya nanti setiap rumah makan harus ada sertifikasi halal ya?” ujar seorang manager usaha kuliner di Peuniti, Banda Aceh, medio Maret 2016.

Saya mengangguk.

“Bukankah kita negeri syariat islam? Untuk apa label halal?”

Saya tersenyum.

Sepotong obrolan malam itu masih membekas di memori saat saya menikmati santap siang di Oasis Atjeh Hotel, di sela-sela rehat siang optimalisasi peningkatan wisata halal melalui media sosial.

“Halal bukanlah untuk masyarakat lokalnya, tapi untuk wisatawan,” jelas Taufan Rahmadi. Benarkah?

Daripada menanti saya selesai makan siang, lebih baik, mari menyimak yang satu ini. Mengutip postingan Sosokitu:


  • Dari total 7 miliar jiwa populasi dunia, jumlah umat Islam dunia saat ini mencapai 1,7 miliar jiwa.
  • Mereka ternyata lebih nyaman jika berwisata ke daerah dengan predikat wisata halal. Mengapa?
  • Thomson Reuters dan Dinar Standar mengeluarkan data, belanja muslim dunia untuk wisata halal pada 2012 mencapai 137 miliar dolar AS.
  • Angka tersebut pada 2018 diperkirakan akan naik menjadi 181 miliar dolar AS.
  • Global Muslim Travel Index 2015 juga menyebutkan segmen wisata muslim memiliki nilai 145 miliar dolar AS dengan jumlah 108 juta wisatawan muslim.
  • Angka tersebut diprediksi akan naik menjadi 150 juta jiwa pada 2020 dengan nilai pasar 200 miliar dolar AS.

“Inilah yang digenjot Kemenpar untuk menaikkan pamor Indonesia yang sudah kadung dikenal sebagai negara mayoritas muslim,” tulis Aswi, Koordinator Genpi Bandung.

Bukankah ada peluang yang sangat lebar bagi Aceh?

Aceh yang ‘mengaku’ diri sudah halal, semestinya tak membuat masyarakatnya busung dada. Justru sebaliknya, ini adalah potensi besar yang dimiliki Aceh.

Kita patut mensyukuri potensi syariat islam, potensi genetik, potensi bawaan yang otentik, potensi sejak dalam kandungan itu. Ia sebuah nikmat kepada masyarakat Aceh.

Sebagai muslim, nikmat haruslah disyukuri. Mensyukuri nikmat adalah mengaktualisasikan nikmat itu. Mensyukuri potensi syariat islam adalah mengaktualisasikan nilai-nilai syariah yang sudah ada.

Konsep syariah diaktualisasikan dengan kemasan wisata halal. “Wisata halal lebih market-able daripada wisata syariah,” kata Taufan kepada para peserta optimalisasi wisata halal di Oasis Atjeh Hotel.

Setujulah saya soal itu. Bahwa nantinya, Aceh tak hanya menjadi laboratorium kebencanaan, konflik, tapi juga kearifan masyarakatnya yang ‘halalan tayyiban’.

Sebaiknya dibaca: Wisata Halal Aceh, Kita Tidak Mulai dari Nol

Pada pengujung Juli lalu, seorang Teungku (ustad) pimpinan dayah di Aceh Besar, meyakinkan saya, “masih ada di masyarakat kita yang malas beribadah karena merasa tidak diberikan pekerjaan. Jika dia berwirausaha, tentu ekonominya akan terbantu, ibadah pun akan lancar.”

Masyarakat Aceh yang punya potensi wawasan dan keilmuan islam, seharusnya menyongsong dengan gembira gelombang wisata halal internasional ke daerahnya.

Bukankah kita dituntut mensyukuri nikmat? Bukankah kita dituntut tidak kufur nikmat. Di Aceh ini, nikmat mana lagi yang kamu dustakan? (Sudah macam Safari Ramadhan ya, bukan lagi Safariku? 😀)

anggote-genpi-aceh

Anggota GenPI Aceh usai dideklarasikan di Oasis Atjeh Hotel. Photo: Dok. Ammar Fuad.

TOURISM VOLUNTEER

Genpi dibentuk Kemenpar, kata Ibu Watie Moerany, Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, untuk menebarkan #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia di dunia internet, dunia maya, dunia digital.

Tentu saja #PesonaAceh #WonderfulAceh #TheLightofAceh #CahayaAceh #AcehSebenarnya dan sejumlah keyword lainnya (sesuai sikon) menjadi tugas Genpi Aceh. Siapapun bisa bergabung dan berkolaborasi dengan Genpi. Menjadi Tourism Volunteer.

Komunitas yang masih bayi di Indonesia ini, tentu dapat berperan besar dalam memenangkan Aceh di Kompetiwisi Pariwisata Halal Nasional 2016, sehingga nantinya Aceh bisa dinominasikan ke WHAT 2016.

Saat ini Aceh sedang memulai ikhtiar menduniakan pariwisata halal di Aceh, mengutip Taufan Rahmadi. Titik awalnya ialah menjadi juara nasional. Baru setelah itu berjuang untuk level dunia. Habis-habisan.

“Disitulah letak Genpi Aceh memberikan milestone legacy (tonggak sejarah_red) bagi Aceh. Kalian adalah laskar digital yang mewujudkan itu,” picu Creative Strategic Expert Gen PI itu.

 

Jika Lombok di timur Indonesia bisa meraih penghargaan, kenapa Aceh di ujung barat tidak mampu?

Hujan, teruslah basahi bumi.[]

.:: VOTE FOR ACEH ::.

Aceh sedang mengikuti Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016. Berlangsung sejak 26 Agustus – 15 September 2016, pukul 24.00 wib.

Jika menang di kategori yang masuk nominasi, akan mewakili Indonesia pada ajang World Halal Travel Award 2016 di Dubai.

Ini hari terakhir kesempatanmu berkontribusi untuk Aceh tercinta. Silakan vote demi kemenangan Aceh sebagai Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik lewat laman:

http://bit.ly/voteaceh
halaltourism.id

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

 

    1. Ihan September 15, 2016
      • Safariku September 15, 2016
    2. yudi September 15, 2016
      • Safariku September 15, 2016
    3. Pingback: "Laskar Digital" Ala GenPI Aceh - Aceh Raya February 1, 2017

    Add Your Comment