Bocah di Kute Gulime. FOTO: Hamzah H
KAMI tiba di Tanah Gayo pada 18 Juli 2013 atau memasuki masa pemulihan setelah tanggap darurat bencana. Tak ada istilah terlambat untuk menjadi relawan.
Saya, Kibo, Hamzah, dan Muksalmina, bergabung dengan relawan Care Anak Gayo di posko pengungsian di lapangan bola kaki Desa Kute Gulime, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Saya sendiri punya misi, ingin tahu apakah relawan mengusung unsur pendidikan bencana dalam kegiatan mereka?
Berbuka puasa di jalan, di antara kebun tebu. Kibo gigit kurma ya? 😀
Ada ratusan anak dari berbagai desa di posko pengungsian. Saya suka anak berbakat. Sabaruddin, bocah dari Desa Bah, kampung kedua terparah akibat gempa, anak yang menonjol di antara kawan-kawannya. Dia langsung menyapa begitu kami tiba di camp Care Anak Gayo.
Saya merasakan dinginnya tidur dalam tenda untuk pertama kali. Kami tidur di dapur. Atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang, adalah kedinginan yang menerjang tubuh. Sebelum tidur, kami sempat menikmati mi kuah bakso di gerobak dekat posko. Semangkuk mi yang panas segera dingin begitu sampai di tangan kami.
Hari pertama di posko, saya ingin segera melihat Serempah, desa yang tenggelam akibat gempa darat berkekuatan 6,2 skala richter pada 2 Juli lalu. Sabardi menawarkan diri untuk memandu. Saya juga memboncengi Yanti Octiva. Dia belum pernah ke sana meski sejak hari kedua pascagempa sudah di Gayo. Agung, salah satu relawan Care Anak Gayo dari Medan juga ikut ke Serempah.
Dari Kute Gulime, butuh waktu satu jam berkendara untuk sampai ke Serempah. Jalan berliku membelah perbukitan. Bekas longsor mengancam pengguna jalan. Kami melihat reruntuhan rumah di antara panorama pegunungan Ketol yang indah. Walau berat, akhirnya kami tiba di Serempah. Kampung ini jebol karena bergeser lempeng bumi, hingga menyerupai kawah.
Panorama Ketol, spot menarik saat menuju Serempah. 
Bareng Sabaruddin dalam perjalanan ke Serempah. FOTO: Yanti
Sabardi bocah asal desa runtuh ini. 
Care Anak Gayo memfasilitasi siapa saja yang ingin membantu anak-anak korban gempa. Tidak hanya dari Aceh, ada beberapa mahasiswa psikologi dari Medan. Dani, salah satunya. Ia ingin mempraktikkan langsung teori yang diperolehnya dari kampus.

Anak-anak menjadi prioritas kepedulian para relawan. Sabardi dan kawan-kawan paling suka belajar mengaji. Setiap sore, mereka antusias mengikuti kajian Alquran yang digelar relawan di meunasah darurat.

Tetap bersemangat di pengungsian.
Desi, relawan asal Medan, mengajarkan baca Alquran.

Di manapun, bola harus melayang!

Saya sendiri terkesan dengan minat Sabardi pada fotografi. Beberapa kali ia minta memegang kamera digital milik relawan. Saya pun menawarkannya untuk belajar memotret. Senangnya dia mau. Dan saya mengajarinya dengan khidmat. Rupanya, Sabardi memang berbakat pegang kamera. Lihatlah aksinya.

Aksi Sabardi, motret tetua. Haha

Lalu, siapa motor di balik gerakan Care Anak Gayo? Tak lain, Rinaldi Ade dan Yanti Octiva. Mereka menginisiatif kegiatan dan menyedot perhatian relawan dari berbagai komunitas. Mengumpulkan dana dan menyalurkan bantuan. Keduanya pun tegas dalam mengkoordinir para relawan meskipun sedang puasa.  
Ketika relawan Care Anak Gayo kembali ke kampung masing-masing, perjuangan mereka diteruskan pemuda setempat. Estafet kepedulian ini patut ditiru untuk merawat semangat anak-anak korban bencana.[Makmur Dimila]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here