Friendly Lombok

Lombok bukan tujuan yang tepat untuk liburan dalam waktu singkat. Pengalaman saya: tak cukup seminggu menikmati keramah-tamahan warga dan keindahan alam di pulau yang bertetanggaan dengan Bali itu.

Maka izinkan saya kali ini menceritakan Lombok dari empat “A” dalam industri pariwisata.

 

1. Atraksi

Friendly Lombok Bukit Merese

Panorama dari Puncak Bukit Merese. Photo: Makmur Dimila

Matahari tenggelam di selatan Pulau Lombok tak begitu sempurna; kenyataan yang sering dialami ketika berekspektasi melihat sunset di suatu destinasi.

Pun demikian, saya benar-benar merasakan keindahan alam. Sebab saya sedang di Puncak Bukit Merese yang sepertinya cukup happening dalam dua tahun terakhir.

Sekujur bukit ini ditumbuhi rumput hijau lebat. Serasa tengah berdiri di lapangan golf yang diapit dua teluk.

Beberapa menit yang lalu, saya duduk mengamati bentangan tebing-tebing yang menjulang di timur Bukit Merese. Ada satu batu teronggok seperti payung raksasa.

“Di Batu Payung itu sering menjadi lokasi syuting iklan atau video klip,” Jackison teman dari Lombok membuka tabir.

Dari puncak bukit ini, saya pun bisa menikmati boat yang mengapung di atas permukaan air hijau toska; dipenuhi bercak-bercak hitam pantulan terumbu karang. Sementara Pantai Tanjung Aan di bawah sana melengkung seperti bulan sabit.

Di barat, di balik tanjung yang juga melengkung, ada Pantai Putri Nyale dan Pantai Seger (Kuta). Dua pantai yang dilatari legenda Putri Mandalika.

Di Pantai Seger itu Putri Mandalika menceburkan diri ke laut tak lama usai menyatakan menolak pinangan dari empat pangeran. Ia melakukannya di hadapan Raja, Ratu, dan rakyat.

Sang Putri tak ingin melukai hati saya semua pangeran itu lalu memilih damai; menghindari peperangan sengit di antara pangeran yang memperebutkannya.

Putri dari Raja Tunjang Beru itu cantik dan berkepribadian baik. Lantas masyarakat berduyun-duyun ke laut untuk mencari jasadnya. Tapi tak ditemukan. Justru bermunculan cacing-cacing panjang (nyale) dari laut. Diduga—kemudian diyakini—nyale itu jelmaan Putri Mandalika.

Legenda itu pula yang menjadi landasan masyarakat suku Sasak di Lombok Tengah, merayakan upacara Bau Nyale setiap tahunnya, mengenang Putri Mandalika.

“Kalau pagi kita bisa menanti sunrise juga,” potong Jack.

Perfect! Pesona Putri Mandalika telah menjadi Pesona Indonesia di Pulau Lombok.

Pemda Lombok pun memoles Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Akan dibangun sirkuit Moto GP dan resort berbintang di kawasan itu, untuk menyediakan lapangan kerja baru bagi masayarakat Sasak.

Seakan-akan, itu jawaban dari Putri Mandalika kepada rakyatnya.

Ngomong-ngomong, dalam perjalanan ke Mandalika, saya sempat melihat langsung kehidupan masyarakat suku sasak.

Di Lombok Tengah, ada tiga desa yang dihuni masyarakat asli sasak. Desa Sasak Sade, Sasak Rambitan, dan Sasak Ende.

Di Ende, saya senang bisa bertutur langsung dengan perempuan sasak yang mengenakan baju lambung; pakaian khas perempuan sasak. Dia sedang menemani temannya menenun di teras rumah adat mereka.

Bale Lumbung, bentuknya seperti gazebo empat tiang, nongol di sela-sela rumah.

Di desa ini pula, warga lelaki mengenakan ikat kepala khas sasak, bernama capuk.

Ada beberapa atraksi wisata alam, dudaya, man made, lainnya dari Lombok yang cukup hits. Seperti Pantai Nambung yang khas dengan “air terjun” dari laut. Suvenir terbuat dari mutiara. Ayam Taliwang. Dan Tiga Gili yang sudah terkenal: Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno.

Tapi saya hanya menikmati Tiga Gili di Lombok Barat yang baru naik daun: Gili Sudak, Gili Kedis, dan Gili Nanggu. Kebanyakan pengunjung memilih snorkeling di Nanggu dan Sudak, pun saya.

 

2. Aksesibilitas

Friendly Lombok Gili Sudak

Akses ke Pantai Gili Sudak ini menggunakan “Slow Boat” yang seragam dicat warna-warni. Photo: Makmur Dimila

Kemajuan industri pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) langsung terbaca begitu saya mendarat di Lombok International Airport, di Praya, yang arsitekturnya menyerupai Bale Lumbung.

Interior, dekor, dan unsur amenitasnya nyaris mengimbangi Terminal 3 Soekarno-Hatta International Airport. Keluar bandara, penumpang akan melintasi jalan by pass menuju Kota Mataram.

Dan setelah beberapa hari, saya sadari: sulit sekali menemukan transportasi umum di Mataram. Kebanyakan kendaraan pribadi. Hanya ada jasa sewa mobil dan roda dua.

Jangan khawatir, ktreativitas masyarakat Mataram telah melahirkan lima ojek dan kurir online sejak 2015. Boleh baca di sini.

3. Amenitas

Friendly Lombok Killa Senggigi Beach

Suasana Kila Senggigi Beach, Lombok, hotel dengan pelayanan prima. Photo: Makmur Dimila

Amenitas adalah segala jenis fasilitas penunjang pariwisata yang biasa sangat dibutuhkan wisatawan. Penginapan, rumah makan, rumah ibadah, toko suvenir, dan lainnya.

Saya beruntung dapat merebahkan badan beberapa malam di Kila Senggigi Beach Hotel di Lombok Barat. Akomodasi bintang empat di pinggir Pantai Senggigi.

Suasananya asri; taman tertata apik. Fasilitasnya lengkap, mulai dari kolam renang hingga spot olah raga. Plus, ada layanan antar-jemput dengan mobil golf dari satu titik ke titik lain dalam kompleks hotel.

Setiap pagi saya disapa staf dengan pertanyaan sepele tapi penting dalam service pariwisata: “Apa kabar Pak, bagaimana tidurnya, nyenyak?”

Saya balas dengan senyum dan tak perlu menjawab sebenarnya. Tapi staf itu harus dihargai, sebab dari satu pertanyaan dia, saya bisa bandingkan dengan pelayanan dari hotel berbintang di daerah saya dan daerah lain di Indonesia.

Syukurnya lagi, berkat bantuan Si Provokator Pantai, saya bisa menginap satu malam free di Pool Villa Club Senggigi. Villa berbintang lima. Bisa mandi di kolam renang dan pelayanan yang excellent dari para stafnya.

Keramahan tak hanya menjadi SOP perhotelan dan restoran. Tapi semua warga Lombok yang saya temui mengemban sifat itu.

NTB dua kali meraih penghargaan wisata halal di ajang World Halal Tourism Awards (WHTA). Penghargaan ini benar-benar dimanfaatkan ke sektor pariwisata.

Sejumlah akomodasi lantas diikutkan dalam sertifikasi wisata halal. Termasuk Killa Senggigi Beach tempat saya menginap. Kalau dipelajari, hotel ini mengusung semangat Hindu, tapi mereka terbuka untuk perbedaan.

Saya menemukan sajadah dan arah kiblat di kamar cottage-nya.

Menghargai perbedaan pun terlihat di sudut-sudut kota. Di Mataram ada tempat khusus bagi non muslim, yang misalnya, ingin menikmati kesenangan di bar dan diskotik. Dan ada daerah-daerah yang khusus untuk wisata halal.

Salut.

 

4. Anciliarry

Friendly Lombok Pantai Nambung

Pantai Nambung. Objek wisata yang jarang dijangkau karena aksesnya sulit, hal-hal seperti ini juga menjadi peran BPPD. Photo: Makmur Dimila

Lombok beruntung punya lembaga yang mengurus pariwisata sejak 2009, yakni Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB.

Lembaga ini memacu akselerasi pembangunan pariwisata di Lombok. Sudah cukup bagi negeri 1001 masjid ini menelan ludah melihat hegemoni turisme di Pulau Dewata.

Sebelum-sebelumnya, tiap turis asing selalu mendarat di Bali. Padahal hanya butuh 4 – 6 jam penyeberangan dengan ferry dari Pelabuhan Padang Bai, Bali, ke Pelabuhan Lembar, Lombok.

“Bahkan turis sempat mengira butuh visa untuk masuk ke Lombok!” kata teman dari Lombok.

Itu terjadi pada masa-masa bule masih anggap Bali bukan bagian dari Indonesia.

Dengan segala strategi, Lombok akhirnya berhasil menarik arus wisatawan dari Bali ke Lombok. Terutama dalam tiga tahun terakhir.

Puncaknya, setelah Lombok dua tahun berturut-turut meraih beberapa kategori wisata halal di ajang World Halal Tourism Awards. BPPD NTB cukup berperan dalam hal ini.

Saya mengharapkan ada BPPD Aceh, dan daerah-daerah lain, untuk memacu pertumbuhan pariwisata, menjembatani pemerintah dan swasta. Semoga.[]

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

    1. andyhardiyanti May 31, 2017
      • Safariku May 31, 2017
      • Jackysan Lombok May 31, 2017
        • Safariku May 31, 2017
    2. Evi May 31, 2017
      • Safariku May 31, 2017
    3. yellsaints June 1, 2017
      • Safariku June 1, 2017
    4. Bang Aswi | @bangaswi June 1, 2017
      • Safariku June 1, 2017

    Add Your Comment