FOTO: Stalking Kuta Malaka

Puncak Kuta Malaka telah menjadi objek wisata mainstream (arus utama) di Kabupaten Aceh Besar, Aceh, semenjak awal 2015. Mulai dari beberapa pejalan yang datang untuk kontemplasi, hingga disesaki pehobi jalan yang sekadar untuk ambil foto selfie.

Teman saya pernah bilang, “banyak pengunjung memadati tempat ini, apalagi memasuki hari libur,” ujar Ikbal Fanika, yang mengunjungi Kuta Malaka awal Maret 2015.

Saat itu, jalur trekking ke Puncak Kuta Malaka, masih dipenuhi ilalang setinggi pinggang. Tapi saya datang beberapa minggu yang lalu, puncak itu aus terpijak pengunjung. Kami tak bisa merasakan atmosfir seperti artis Bollywood menari dalam ilalang seraya membentangkan sari.

Kami menaiki Puncak Kuta Malaka setelah menikmati air terjun di bawahnya. Setelah turun dari puncak, kami disambut seorang pemuda, yang waktu kami tiba berjam-jam yang lalu dia tidak ada. Dan minta uang masuk Rp 10 ribu per kepala.

“Tadi waktu kami datang kok ga ada orang, Bang?” tanya saya.

“Tadi ke bawah sebentar,” sahut pria yang mengaku pengelola Puncak dan Air Terjun Kuta Malaka itu.

Amazing Kuta Malaka

Rasanya ingin menerobos gumpalan awan ini. Photo: Makmur Dimila

Menurutnya, objek wisata Kuta Malaka dikelola oleh seorang pengusaha lokal, konon katanya, saudara dekat Bupati Aceh Besar sekarang (Mukhlis Basyah). Sebut saja namanya, Azwir.

Dia mengembangkan empat titik wisata: Wahana Air, Air Terjun, Puncak, dan Kebun. Masing-masing pos, kata dia, dikelola oleh orang berbeda.

Tapi kenapa bekerja sesuka hati? Maksud saya, mentang-mentang di hari Senin yang sepi pengunjung, mereka tidak membuka kantin dan tidak menunggu pengunjung. Malah datang ketika sudah didatangi wisatawan. Coba kalau kendaraan kami hilang.

“Kantin ini cuma buka di hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional ketika ramai pengunjung,” tuturnya.

Uuuu. Kami yang kehausan, tak tahu harus beli air mineral di mana. Belum lagi kalau saya singgung soal sampah yang tak dibersihkan di bawah sana. Duh!

Tapi, saya patut berterima kasih pada alam–tentu Sang Pencipta–karena kami masih cukup bahagia bisa menikmatinya hari itu. Berikut foto-foto kami.

jalan kuta malaka

Singgah sejenak untuk senang-senang. Photo: Ilyas Cheaha.

Waterfall Kuta Malaka

Jalur anak tangga yang dibuat tahun 2014. Tahun 2015 disambung lagi hingga sampai ke puncak air terjun. Photo: Makmur Dimila

Main Air Kuta Malaka

Main basah-basahan, yang penting happy. Photo: Oviyandi Emnur

Kolam Kuta Malaka

Rombongan lain yang datang menyusul kami di Senin terakhir Februari 2016. Photo: Makmur Dimila

Daki Kuta Malaka

Perempuan tangguh. Photo: Makmur Dimila

Wahana Kuta Malaka

Tak ada lagi ilalang yang lebat. Photo: Makmur Dimila

Awan Kuta Malaka

Apa yang difoto? Photo: Makmur Dimila

Eforia Kuta Malaka

Ini dia: ada yang tinggalin embel-embelnya di puncak Kuta Malaka. Saya jadi malu. 😛 Photo: Makmur Dimila

Panorama Kuta Malaka dan Seulawah Agam yang menonjol. Photo: Makmur Dimila

Panorama Kuta Malaka dan Seulawah Agam yang menonjol. Photo: Makmur Dimila

Kuta Malaka damai thailand

Perdamaian perdamaian… Photo: Oviyandi Emnur

Gadis Thai Kuta Malaka

Candid sigo… Photo: Makmur Dimila

Model Kuta Malaka

Hunting model Thai. Haha. Photo: Makmur Dimila

Terdampar Kuta Malaka

Ini kenapa? Photo: Makmur Dimila

with yingsao Kuta Malaka

Sebagai kenang-kenangan saja. Photo: Oviyandi Emnur.

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah dan ceritakan pengalamanmu 🙂