Escape to Tangse

KAMPUNG kami, Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie, Aceh, sedang paceklik. Orang-orang sempat gembira saat gumpalan awan kelabu menggayut di langit. Tapi ia cepat pergi ke daerah lain. Hujan pun tidak pernah turun hampir tiga bulan terakhir.
Sekarang masih musim kemarau. Tapi sekering-kering kemarau tahun-tahun sebelumnya, tidak pernah setandus kali ini. September, bulan pertama memasuki musim penghujan, masih lama. Ketika tubuh basah keringat, suasana dingin, tujuan yang tepat. Tangse, daerah yang menyimpan banyak spot wisata Pidie, menjadi pilihanku.
Tak perlu jauh-jauh ke Takengon jika butuh suasana dingin dengan cepat. Karena ‘Dataran Tinggi Gayo’ juga ada di Pidie. Tangse, orang-orang Pidie mencanggihkan namanya dengan sebutan Texas. Hampir setiap libur lebaran fitrah, kami “mencari angin” ke sana. Menikmati ekowisata Pidie.
View Gunong Halimon dari satu puncak di jalan Tangse – Meulaboh.
Kecamatan ini terkenal dengan hawa sejuk pegunungan yang mengelilingi kecamatan di barat kabupaten penghasil kerupuk mulieng ini. Gunong Halimon salah satu gugusan gunung di Tangse yang berbatasan dengan Kabupaten Pidie Jaya. Di gunung itulah alm. Hasan Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka. Panoramanya tampak cantik bila kita melihatnya dari Tangse.
Dua item khas lain daerah ini ialah eungkot keurlieng (ikan jurung) dan beras tangse yang populer dengan nama breueh cantek. Maka, Jumat pagi, 1 Agustus 2014, saya dan Bang Rahmad ke sana.
Suasana dingin mulai terasa saat melewati Keumala, kecamatan terakhir di dataran rendah. Jalanan berkelok dan menanjak. Diapit jurang di kanan dan gunung di kiri. Hawa dingin dari hutan asri menghujani tubuh kami saat memasuki Geunie, Bungga, hingga mencapai Keude Tangse setelah satu jam perjalanan.

Bakal breueh cantek di persawahan dengan latar Keude Tangse.

Jumat waktu yang singkat untuk eksplorasi suatu daerah. Kami tiba jam 11. Ngopi di warung. Baca koran. Saya kaget! Satu berita menyatakan, sejumlah eungkot keurlieng ditemukan mati terapung di Krueng Meuriam Tangse. Darah membuncah di sisik dan mata ikan-ikan itu. Diduga akibat keracunan merkuri yang digunakan penambang emas di Krueng Teunom, Aceh Jaya. Kasian, kami tak bisa menikmatinya hari itu, padahal keurlieng bagian dari salah satu pesona wisata Pidie dari segi kuliner.
(Update berita per 6 Agustus, ikan itu dinyatakan diduga mati akibat keracunan zat kimia berupa sulfida/belerang. Penelitian akan dilanjutkan untuk memastikan apakah akibat keracunan sulfida atau merkuri. Sementara, dilarang mengonsumsi ikan dan mandi di sungai yang tercemar itu.)
Jumatan kami lalui di Masjid Istiqamah, masjid agungnya Tangse. Ia hanya 100 meter sebelum Keude Tangse jika dari Pidie, di kanan jalan. Syukur, kami sempat melihat keurlieng dalam kolam di halaman masjid. Satu-dua keurlieng sebesar lengan muncul di antara ikan mas.

Gambar dari dalam Masjid Istiqamah.

Di seberang jalan, sejarah terkulai. Ya, bekas Masjid Istiqamah tegak di dalam pekarangan yang ditumbuhi semak. Kawat berduri tak menghalangi Bang Rahmad masuk ke sana sehabis Jumatan. Memotretnya di bawah langit cerah merekah. Masjid itu berkonstruksi kayu. Satu jendela hampir jatuh di lehernya, di bawah kubah.

Potret klasik Masjid Cot Batee.

Pengurus Masjid Istiqamah yang kami temui, Teungku Jufri, bilang, masjid tua yang dikenal dengan nama Masjid Cot Batee itu dibangun tahun 1945. Area itu dulu dipenuhi belantara dan batu-batu gunung besar. Saat itu, warga Tangse membersihkan hutan dan memindahkan batu-batu itu untuk dibangun rumah ibadah yang dipakai hingga berhasil dibuat masjid baru tahun 2000.

Yellow Mosque, not Blue Mosque. 😀

Tak jauh dari masjid, kami singgah sebentar di rumah kawan satu kuliah.Yenizar. Bersilaturrahmi. Ayahnya bilang, keurlieng yang mati itu memang akibat merkuri. Ayahnya yang sudah 20 tahun dinas di Tangse juga cerita soal breueh tangse.
Beras khas Tangse dikenal dengan “breueh cantek”. Beras ini mulanya tumbuh sendiri pada 1980 ke bawah. Kemudian dijadikan satu jenis baru padi Aceh. Ditanami di tanah yang subur, satu batang padi cantek tumbuh bisa membuahi banyak padi.
Satu padi cantek dulu menghasilkan biji padi sebanyak satu ikat padi sekarang, kata Pak Said. Tapi kini, pertumbuhan breueh cantek hampir sama dengan jenis padi lainnya. Pada masa-masa itu juga, belum banyak orang melintasi jalan Tangse yang sempit. Tapi kini, sudah ramai, karena beberapa objek wisata Pidie muncul di sini. 

Selain itu, jika ingin ke Aceh Barat, lebih dekat dari Tangse dibanding Banda Aceh. Apalagi di musim durian runtuh, orang dari berbagai daerah datang ke sana, menyantap durian langsung di kebun sebelum dibawa pulang.
Sore itu, kami pamit dari rumah kawan, menuju Blang Teungoh. Di desa terpencil itu, kami ingin menjumpai seseorang sebelum ‘membawa pulang atmosfir dingin’ ke Mila, sebagai buah tangan bagi orang-orang di kampung. Hehe.[] 
Writer: Makmur Dimila
    1. ceudah1 August 6, 2014
    2. Safari Ku August 6, 2014
    3. Lintasanpenaku August 6, 2014
      • Safari Ku August 6, 2014

    Add Your Comment