Eksplor KL dari Avenue J Hotel

Sejarah Kuala Lumpur, saya temukan untuk pertama kalinya pada pandangan pertama dari jendela Avenue J Hotel.

Sore itu, 30 November 2016. Saya baru saja menyibak gorden jendela kamar 605. Dan saya seperti membuka salah satu buku sejarah Malaysia.

Sebuah lukisan berwujud lanskap kota dihadapkan ke saya, yang tengah mengisi ulang tenaga usai menempuh perjalanan solo dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur melalui Jalan Belakang penerbangan.

Di bagian bawah kanvas, Sungai Klang mengalir hingga bercabang di depan Masjid Jamek, memisahkan alurnya dari Sungai Gombak.

Terlukis pula, Muzium Tekstil Negara, Muzium Muzik, Perpustakaan Kuala Lumpur, Dataran Merdeka, dan Gedung Sultan Abdul Samad. Tentu saja saya ingin eksplor semua tempat itu.

MudKL: Memainkan Sejarah Kuala Lumpur

Mud KL Avenue J Hotel

Satu adegan di cerita babak empat; ketika kota menjadi lumpur akibat banjir bandang. Pertunjukan teater itu diawali dengan cerita tahun 1857-1880. Pada masa itu, jalur pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak masih berupa daerah pertambangan timah. Photo: Makmur Dimila

Tak hanya nonton. Saya juga menjadi pelaku sejarah Kuala Lumpur ketika menyaksikan pertunjukan teater MudKL the Musical di Panggung Bandaraya Box Office.

Panggung Bandaraya, panggung teater tertua di Malaysia. Menginjak usia 113 tahun. Terletak di Jalan Raja, Dataran Merdeka.

Sejak 2015, panggung itu menjadi ajang kreativitas bagi Enfiniti Vision Media dengan grup teaternya, menceritakan sejarah Kuala Lumpur dalam bentuk drama 60 menit.

“Setiap hari dua kali pertujukan,” kata Fahad Alkaff, Tauke Panggung aka Project Manager Enfiniti Vision Media.

Pantas saja, Trip Advisor merekomendasi pertunjuan MudKL sebagai A must-Watch atraksi di Malaysia.

Saya berkesempatan menonton di sesi kedua, jam 8.30 malam. Di dalam arena, Sharm dari Gaya Travel, anjurkan saya duduk di barisan depan. “Kamu boleh interaktif nanti,” ujarnya.

Ternyata, maksud dia, mulai terlihat di babak kedua pertunjukan. Sebelumnya di babak pertama, mengisahkan Mamat, Meng dan Muthiah yang bertemu dalam perantauan ke Kuala Lumpur.

Tiga sahabat dari berbeda etnis itu, Melayu, Cina, dan India, masuk ke daerah Kuala Lumpur (sekarang) melalui Sungai Lumpur—kuala antara Sungai Klang dan Sungai Gombak.

Pada babak kedua, drama menampilkan cerita ketiga tokoh utama, Mamat, Meng, dan Muthiah, bertahan hidup di perantaun. Pada masa itu, mereka berasama warga lainnya, perlahan membangun Kota Kuala Lumpur.

(Tokoh sentral dalam cerita di #MUDKL adalah 3 sahabat yaitu Mamat keturunan melayu, Meng keturunan chinese dan Muthiah keturunan India;representasi populasi penduduk Malaysia yang terdiri 3 etnis).

Adegan penonton ikut dilibatkan. Tokoh sentral dalam cerita #MUDKL adalah 3 sahabat: Mamat keturunan Melayu, Meng keturunan Cina, dan Muthiah keturunan India; representasi populasi penduduk Malaysia sekarang. Photo: Makmur Dimila

Ketika Mamat, pada babak ini, mengadakan kenduri merayakan kelahiran anaknya, tiba-tiba beberapa pelakon turun dari pentas. Menghampiri penonton. Dan mengajak mereka naik panggung.

Kak Menix dari Batam, serta dua anaknya, ikut mengulek rempah-rempah bersama pelakon di atas panggung. Sementara penonton bule Jerman, diberi peran mengaduk kuah kari dalam kuali besar.

Babak kedua usai. Mereka turun. Cerita berganti ke babak ketiga. Suatu ketika, tahun 1881, pemukiman Kuala Lumpur yang tengah hidup damai, mengalami kebakaran hebat.

Sebaiknya dibaca: Rentak Selangor Nafas Melayu

———————————————————

Api berkobar. Mereka berteriak minta tolong. Beberapa pelakon turun panggung ambil air di belakang. Dengan membawa beberapa ember. Saya ditarik seorang pemeran keluar dari barisan kursi penonton.

“Tolong kami,” perempuan itu memelas.

Cepat-cepat disodorkannya ember hitam. Saya teruskan ke pelakon lain di belakang yang menimba air. Lalu berbalik badan, saya teruskan ke perempuan itu, untuk kemudian dia sambungkan orang lain di panggung.

Begitu seterusnya, sampai hujan lebat turun, sampai kobaran api di pentas padam. Sampai saya kembali duduk, dengan agak kecapaian, seperti benar-benar angkut air.

Mereka sedih. Saya bahagia, sebab baru saja mengalami suatu hal baru. Pelakon dan penonton tampil bersama.

Inilah yang berbeda dari MudKL dengan teater lainnya, selain visualisasi dan audio yang sangat hidup.

Babak keempat, kebakaran hebat tadi dipadamkan oleh hujan lebat. Namun hujan itu mendatangkan banjir bandang pada Desember 1881. Musibah. Membuat tempat tinggal mereka menjadi lumpur.

Mereka ingin pindah. Tapi mereka tabah, tetap tinggal. Ketika badai berlalu, rumah dan bangunan didirikan kembali, menggunakan lumpur tersebut. Lumpur dibentuk menjadi batu-batu. Menghasilkan bangunan-bangunan yang cantik seperti sekarang.

“Jadi nama Kuala Lumpur berasal dari pertemuan dua sungai dan lumpur yang menggenangi daerah tersebut,” kata Fahad, menyimpulkan asal mula lahirnya Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur.

Dua sungai itu, Sungai Klang dan Sungai Gombak yang memisah dua di hadapan Masjid Jamek sekarang. Saya pun bagai menjadi objek dalam lukisan yang terlihat dari Avenue J Hotel.


#MudKL

Alamat: Dataran Merdeka, Jalan Raja, 50350
Operating Hours: 10 am & 8.30 pm

Ticket: RM 84.80 & RM 53 (pemegang MyKad)
Telp: +603 2602 3335
www.mudkl.com


 

Dataran Merdeka: Bikin Betah

Sultan Abdul Samad Avenue J Hotel

Gedung Sultan Abdul Samad di Jalan Raja, bersebelahan dengan Dataran Merdeka. Photo: Makmur Dimila

Dari jendela Avenue J Hotel, Dataran Merdeka hanya tampak sedikit saja. Namun, di ujung Jalan Leboh Pasar Besar sana, simpang empat menjadi sudut terbaik mengeksplor sejarah Kuala Lumpur lainnya.

Muzium Tekstil Negara

Sebuah bangunan dua lantai di Jalan Sultan Hishamuddin. Yang sudah ada sejak 1896. Saya dibuat kagum oleh asitekturnya: bergaya Mongol-Islam. Karya arsitek Inggris, A B Hubback.

Batu-batu merah dan putih mengalir indah di sekujur tubuh tampilan luar museum itu. Kubah-kubah sebagai atap, dan, dua menara di bagian tengah, membuat saya betah menghabiskan petang di sana.

Museum itu mulanya, difungsikan sebagai Ibu Pejabat Keretaapi Negeri-Negeri Melayu Bersekutu pada 1905. Kemudian diserahkan kepada Kerajaan Selangor pada 1917 untuk dijadikan Jabatan Kerja Raya Selangor. Baru pada 2007, ia menjadi Muzium Tekstil Negara.

Kini, museum itu dipajang karya seni berupa kain tenun hasil kraftangan masyarakat Melayu. Di dalamnya ada lima galeri utama dengan satu galeri sebagai ruang pertunjukan.

Galeri Pohon Budi, Galeri Pelangi, Galeri Teluk Berantai, dan Galeri Ratna Sari. Nama-nama untuk ragam kelompok kain khas Melayu. Sayangnya, saya tak sempat masuk melihatnya lebih dekat.

Panorama Sultan Abdul Samad

Panorama Gedung Sultan Abdul Samad. Photo: Makmur Dimila

Muzium Tekstil Negara dibangun bersamaan dengan Gedung Sultan Abdul Samad di sebelahnya, di Jalan Raja. Juga dengan gaya yang sama. Serasa tengah berjalan di Asia Timur. Namun, gedung yang satu ini, lebih panjang.

Saya harus menggunakan mode panorama untuk memotretnya. Sehingga kelihatannya full.

Di ujung gedung itu, terdapat Kantor Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia, yang bersisian dengan Panggung Bandaraya, tempat kami menonton #MudKL.

Di belah barat, termpampang lapangan Dataran Merdeka. Malam adalah waktu terbaik melihat kemegahan kombinasi budaya klasik dan modern Kuala Lumpur dari lapangan itu. Tapi datanglah sore hari, jika ingin lebih dulu melihat-lihat Tugu Kemerdekaan lebih jelas.

Dataran Merdeka juga diapit Muzium Muzik, Kuala Lumpur City Gallery, Perpustakaan Nasional Kuala Lumpur, dan Royal Selangor Club. Namun lagi-lagi, saya tak sempat masuk.

Sebab, saya hanya satu malam saja di Avenue J Hotel. Semoga lain kali.

 

Central Market: Atraksi Plus-plus 

Pasar Seni Avenue J Hotel

Pasar Seni, bersisian dengan Central Market. Photo: Makmur Dimila

Avenue J Hotel, pula berdekatan dengan objek sight-seeing lainnya.

Saya waktu itu naik LRT dari KL Sentral lalu turun di Stesen Pasar Seni—kamu bisa juga turun di Stesen Masjid Jamek.

Keluar stasiun, saya jalan kaki menuju Pasar Seni. Melewati gang besar diisi penjaja makanan, minuman, pakaian, aksesoris, dan macam-macam lah. Di sebelah Pasar Seni, juga ada Central Market.

Kamu yang hobi barang antik dan pernak-pernik, Central Market sangat rekomendid.

Dan di belakang Central Market itulah, Avenue J Hotel berdiri tegak. Satu-satunya hotel di Jalan Lebuh Pasar, di sisi Sungai Klang, yang memang menyasar para traveler.

Avenue J Hotel juga cukup dekat dengan salah satu atraksi malam hari Kuala Lumpur, Petaling Street atau China Town.

Keluar hotel, jalan kaki melalui Pasar Seni, lurus saja hingga terlihat lampion menyala merah saga, bergelayutan di lorong blok Petaling. Saya bagai tenggelam dalam Kampung Cina.

 

Avenue: Casual

Jendela Avenue J Hotel

View dari jendela kamar Avenue J Hotel. Photo: Makmur Dimila

Saya mendapat kamar Standard Mood Double Queen. Kamar untuk diinap maksimal dua orang. Sayangnya, saya sendiri saja malam itu. #CepatKawin 😀

Tapi walau sendiri, tetap ada yang bangunkan. Resepsionis dengan ramahnya, menelpon di pagi hari. “Wake up call”. Jika kamu tak terbangun oleh azan Subuh dari Masjid Jamek.

Ruangannnya sangat Instagram-able. Minimalis, casual, dan didominasi warna putih.

Saya suka dengan meja kerjanya. Lengkap dengan lampu belajar, alat masak air, kopi dan teh yang disediakan.

Meja Avenue J Hotel

Tapi saya bawa kopi sendiri, Single Origin Gayo Arabica Coffee plus sekotak cokelat cetak dari CiletCoklat. Photo: Makmur Dimila

Selain itu, juga tersedia seating area, free wifi, shower, air panas, pengering rambut, TV satelit/kabel, AC, telepon, dan bebas asap rokok.

Dengan fasilitas berkelas itu, tarif kamar per malam hanya berkisar antara 120 – 135 RM. Murah je!


Alamat: 13, Leboh Pasar Besar,
50050 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan, Malaysia
Tel: +603-2022 3338
www.avenuejhotels.com


 

Writer: Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

——————————————————————————————————————————————-

Tulisan ini merupakan bagian dari keikutsertaan Safariku.com dalam Famtrip Rentak Selangor di Selangor, Malaysia, selam 1 – 4 Desember 2016. Acara ini ditaja oleh Gaya Travel Magazine, berkolaborasi dengan Badan Eksekutif Pembagunan Generasi Muda, Sukan, Kebudayaan, dan Pembangunan Keusahawan Selangor, Unit Perancang Ekonomi Selangor, dan Pusaka.

Perjalanan Safariku.com juga disponsori oleh Coffee and Knowledge ManagementIja KroengCilet Coklat, dan Kedai Kopi Polem. Terima kasih semua.

——————————————————————————————————————————————-

Sungai Klang Avenue J Hotel

Sungai Klang ke kiri, Sungai Gombak ke kanan. Di tengah-tengah, ada kamuuu. 😀 Photo: Makmur Dimila

Fasad Avenue J Hotel

Suasana dalam kamar, cukup bergairah. 😛 Photo: Makmur Dimila

Fasad Avenue J Hotel

Avenue J Hotel dipandang dari luar, Jalan Leboh Pasar Besar, dalam perjalanan menuju Dataran Merdeka. Photo: Makmur Dimila

Gedung Sultan Abdul Samad Malam

Gedung Sultan Abdul Samad saat malam hari. Photo: Makmur Dimila

Breakfast Table Avenue J Hotel

Tempat sarapan pagi. Cukup fancy. Photo: Makmur Dimila

Bathroom Avenue J Hotel

Dari ruang mandi pun, bisa menatap keindahan KL. Photo: Makmur Dimila

Bathroom Avenue J Hotel

Tebak, yang manakah Makmur Dimila? 😀

    1. Haryadi Yansyah | Omnduut.com December 27, 2016
      • Safariku December 27, 2016
    2. yudi randa December 28, 2016
      • Safariku December 28, 2016

    Add Your Comment