*Artikel ini telah dipublis di rubrik Wisata tabloid Pikiran Merdeka edisi 91 | 21 September – 5 Oktober 2015

Bosan dengan melihat ikan-ikan cantik di Pulo Rubiah, Sabang? Sekali waktu, bertuanglah ke Balek Gunong. Walet dan kelelawar akan beterbangan dari gua-gua di tepi laut, menyambut kunjungan Anda.


Pada pertengahan September lalu saya mengunjungi Sabang. Tinggal di Kota Banda Aceh, saya hanya butuh waktu 2 jam naik kapal lambat untuk tiba di Pulau Weh. Melepas penat.

Pulau Weh salah satu destinasi internasional yang dimiliki Indonesia. Turis domestik dan mancanegara akan datang ke sana untuk snorkeling di perairan Iboih dan Gapang, berjemur di Pantai Sumur Tiga dan melihat sunset di Pantai Kasih, atau menyelam di sejumlah titik diving.

Saya, yang hanya turis lokal, sudah kadung akrab dengan sederet objek ekowisata Sabang. Kali ini ingin menjajal atraksi baru. Saya mengendarai motor ke arah Iboih. Ditemani kesegaran alami oleh rimbunan pohon di sepanjang jalan.

Selepas meninggalkan Objek Wisata Gapang, saya belok kiri begitu melihat plang nama The Pade Dive Resort. Mendaki Jalan Lhoong Angen-Bangau. Tapi saya lewati resort mewah di tepi pantai itu. Pun saya abaikan kompleks Kompi TNI AD Senapan C Yonif 116 Sabang setelahnya.

Terus menaiki jalan berkelok. Beberapa kali saya dikejutkan oleh biawak—seukuran paha orang dewasa—yang menanti di tepi jalan beraspal. Pohon-pohon besar menjulang di tepi jurang.

Panorama Cot Siribee

Panorama Cot 1000
Pemandangan dari Cot Siribee, Sabang. Di seberang sana ialah skyline Pulo Breueh dan Pulo Nasi, Aceh Besar. Photo: Makmur Dimila

Saya berhenti begitu melihat tulisan “Cot 1000” di dinding beton yang melindungi tebing gunung dari kelongsoran. Inilah Cot Siribee, yang menurut Wali Kota Sabang, Zulkifli, objek wisata baru yang harus dikunjungi–ini mungkin jadi juga jadi objek ekowisata Sabang terbaru.

Saya menaiki tebing itu, untuk menatap panorama Banda Aceh dan Aceh Besar di kejauhan. Keduanya tampak hijau samar. Di seberang jalan, ada jurang yang ditutupi hutan lebat, membatasi Samudera Hindia.

Hanya pemandangan. Tak ada fasilitas apa-apa di sekitar Cot Siribee. Saya berbalik arah. Kembali susuri Jalan Lhoong Angen. Sebuah view bebukitan menjorok ke lautan biru cerah membuat saya berhenti di depan kebun. Ada satu gubuk kayu dan beberapa orang di dalamnya.

Adat dan Wisata

Ekowisata Sabang
Syahrizal bisa menikmati keindahan alam setiap hari dari kebunnya. Photo: Makmur Dimila

Teuku Syahrizal menyambut saya di kebunnya. Ia Ketua Hutan Kemasyarakatan (HKm) Aneuk Glee Iboih Sabang sekaligus Ketua Pemuda Gampong Iboih. Kami duduk di bangku kayu. Menghadap panorama Hutan Wisata Iboih dari ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Sinar matahari juga mengilaukan permukaan Teluk Guha Sarang menjadi biru merekah. Pemandangan yang saya lihat dari jalan tadi.

Syahrizal sedang mengelola jalur trekking ke Guha Sarang. Objek ekowisata Sabang ini masuk dalam wilayah tanah milik keturunan Iskandar Muda, katanya, dibuktikan dengan surat tanah berstempel Cap Sikureueng.

“Hari Sabtu dan Minggu, pengunjung sering datang melalui kebun saya ini. Kami hanya mengutip uang masuk seikhlas pengunjung.”

Sebaiknya dibaca: Air Terjun Pria Laot yang Cool


Guha Sarang tersembunyi di balik jurang di dahapan kami. Sebelum saya turun, dia bicara banyak soal hukum adat dan pariwisata. Sabang adalah tanah keramat yang terkenal dengan Keramat Aulia 44. Dulu sekitar 1940-1960-am, Pulo Rubiah, bahkan menjadi tempat berkumpulnya jamaah haji Indonesia sebelum menyeberang laut. Karena itu mengembangkan pariwisata Sabang perlu mempertimbangkan nilai-nilai adat dan kelestarian alam.

“Kami melalui HKm, berusaha mengelola hutan, yang menitik-beratkan pengelolaan lahan tanpa merusak hutan. Kita boleh bangun bungalow, buka usaha wisata, asal tidak menentang hukum adat setempat dan merusak alam,” tuturnya.

Dia juga ikut membantu perkembangan ekowisata Sabang, dengan mengelola sendiri satu jalur trekking ke Gua Sarang.

“Nantinya kita akan sediakan pemandu, khususnya, bagi pasangan turis yang turun ke Gua Sarang, agar tidak berbuat yang macam-macam,” sebutnya. “Wisata tak boleh kita majukan sebelum hukum adat berjalan dengan baik,” sambungnya.

Tantangan Guha Sarang

Batuan Guha Sarang
Dua longsoran tebing di teluk kecil menuju Gua Sarang. Photo: Makmur Dimila

Tak jauh dari gubuk, saya turuni lereng bukit layaknya marinir. Di trek yang telah disediakan, ada tambang untuk berpegangan. Hingga tiba di bawah, dengan pohon-pohon yang memiliki “tali Tarzan”. Saya disambut pantai yang saya lihat dari puncak.

Ombak bulan September yang beringas membuat saya harus ekstra hati-hati menyusuri tebing ke barat pantai. Berjalan di antara bebatuan cadas, hingga saya akhirnya, melihat dua batuantebing yang terpisah dari jurang dipenuhi tumbuhan di puncaknya. Walet beterbangan. Sesekali kelelawar dan burung laut melayang-layang di udara.

Kuatnya debur ombak memercik, menyulitkan saya untuk mencapai mulut Gua Sarang. Saya datang sendiri. Di luar kebiasaan wisatawan yang menaiki boat dari Pantai Gapang atau Iboih, kemudian berenang untuk memasuki Gua Sarang.

“Saya biasanya jalan kaki dari Iboih ke kebun (Syahrizal) itu. Lalu dari tepian tebing berenang ke mulut gua,” kata Gunawan, pemuda Sabang yang sudah 6 kali ke Guha Sarang.

Menurutnya, di sana ada tiga gua kecil dan satu gua besar. Dia dan kawannya berenang ke tiga gua kecil yang perairannya menyeramkan. Mereka tak melihat apa-apa di bawah permukaan laut. Sementara ia belum pernah ke gua besar. Lingkungannya lebih menyeramkan dan harus naik boat.

gua sarang
Tiga mulut Guha Sarang yang seharusnyas saya masuki namun gagal. Photo: Gunawan

Setelah setengah jam berlalu di sekitar Guha Sarang, saya kembali naik ke kebun Syahrizal, membawa tubuh berkeringatan dan pengalaman menikmati ekowisata Sabang yang berkesan.

Selain Guha Sarang, menurut Syahrizal, ada juga beberapa objek ekowisata Sabang lainnya seperti Guha Seumantong, yaitu gua yang menjadi sarangnya kelelawar, terletak di bukit di hadapan kami. Gua itu tembus ke laut. Ada juga objek Batee Kapai, yaitu batu yang berbentuk seperti kapal di teluk. Di atas bukit, juga ada Batu Gendang, batu besar yang mengeluarkan bunyi rapai jika dipukul.

Meski gagal masuk Guha Sarang, setidaknya sudah bertualang seorang diri. Tak boleh ditiru. Jika Anda ingin kemari, sebaiknya gunakan jasa guide. Sebab, menempuh sebuah perjalanan haruslah pulang dengan selamat![]

Writer : Makmur Dimila

guha sarang
Publikasi artikel di Pikiran Merdeka. Credit Photo: Gunawan

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂

3 COMMENTS

Leave a Reply