Pulau Weh unik. Ia punya potensi wisata dari bawah laut hingga bawah langit (baca: pegunungan_red). Di hulu Gunung Sarung Keris misalnya, air mengalir deras dari sela bebatuan tuf yang besar-besar. Air jatuh tertampung sebuah kolam yang cukup untuk mandi orang satu dusun. Wew!

[hr style=”3d”]

Hari itu, keluar dari Benteng Anoi Itam, kami menuju barat Pulau Weh. Di Desa Pria Laot, Kecamatan Sukakarya, ada sungai yang merayap dari pegunungan. Batu-batu sebesar sofa mobil yang kami tumpangi menyembul di sepanjang sungai.

Melalui pinggir sungai itulah, kami menapak undakan-undakan semen yang sengaja dibuat Pemerintah Sabang untuk memudahkan wisatawan. Jalan kaki terasa ringan begitu memasuki Kawasan Hutan Lindung. Tanda anak panah yang digores pada batu-batu besar berlumut, menuntun kami untuk mencapai Air Terjun Pria Laot.

treking-ke-air-terjun-pria-laot
Treking melalui Desa Pria Laot.
hutan-lindung-pria-laot
Air Terjun Pria Laot berada di Kawasan Hutan Lindung.
keasrian-hutan-pria-laot
Keasrian Hutan Lindung Pria Laot, suasana treking yang menyegarkan.

That’s cool.

Beberapa bocah menyilangkan tangan ke dada telanjang. Agak menggigil. Tapi Rinaldi membujuk mereka untuk kembali melompat dari batu yang mengapit air terjun. Melompat ke kolam yang jernih. Sedikit skenario untuk foto yang bagus, tak apa, kan? πŸ˜€ Saya pun tak ingin ketinggalan merekam dengan iPad mini.

mandi-di-kolam-air-terjun
Begini nih cara lompat indah. πŸ˜€

Kegirangan para bocah hilang saat mereka nyemplung, memercikkan kristal-kristal, dan wajah mereka muncul kembali dalam beberapa detik, dengan ekspresi senang. Usai mandi, Naldi memperlihatkan hasil jepretan. Ih, senangnya, tapi mereka tak tahu kalau si fotografer seorang yang akan membuat mereka terpublikasi media massa.

melihat-foto-air-terjun-pria-laot
Yuk, kita ngintip juga πŸ˜€
mengintip-foto-air-terjun-pria-laot
“Om, kami masuk koran, kan? :D”

Di waktu yang lain, saya melihat spesies kaki seribu berjalan di depan dua kaki saya. Mereka menghilang di sela bebatuan. Sementara empat kadal kayu mematung di dua pohon berbeda, saat kaki seribu tak lagi kelihatan.

kaki-seribu-air-terjun-pria-laot
Hitung kakinya, cepet!
kadal-kayu-air-terjun-pria-laot
Ini dia kadal kayu, mirip cicak. Bedanya, ini bukan di dinding. πŸ˜€

Kepergian kaki seribu tergantikan dengan kedatangan tamu yang ‘bening-bening’. Yap, Dayana, seorang wanita staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sabang, memandu turis domestik yang masih remaja.

Hmm, semakin ramai saja di Air Terjun Pria Laot ini. Yuk, selfie! Haha.

selfie-di-air-terjun-pria-laot
Cool??? πŸ˜€
pengunjung-air-terjun-pria-laot
Ramai juga, bolehlah untuk pemasukan daerah. πŸ˜€

Gemericik dedauanan dari balik area air terjun membuat moment di hutan tropis ini semakin menggairahkan. Tapi kami tak bisa berlama-lama, karena destinasi lain telah menanti. Laporan kami tentang air terjun ini dapat Anda baca di Majalah Aceh Tourism edisi III.[]

Writer : Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu πŸ™‚

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here