Abu Kasem Pantai Deumit Baju TVRI

“Siapa nama?” Dia membentak dengan nada tinggi, meniru ekspresi anggota TNI.

“Abu Kasem,” dia jeda sedetik, “Pantai Deumit,” sambungnya dan jeda lagi sedetik, “Baju TVRI,” dia mendaratkan tapak tangan kanannya di dada. Semuanya dengan suara pelan.

“Bagus, Bapak, bagus..” lanjutnya, lembut, sebagaimana TNI ucapkan padanya saat itu.

Dialog masa perang itu mengawali persahabatan kami dengan seorang pria tua di Desa Rabo, Kemukiman Pulo Nasi, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

Ia lahir di Samudra Geudong, Aceh Utara, tahun 1953. Kehidupan yang keras mendorongnya untuk merantau dan berlabuh di Pulo Aceh di usia 22.

“Saya datang ke Pulo Nasi, hari Rabu, 16 Agustus 1975,” ceritanya, tampak giginya tinggal satu lagi.

Membujuk-Abu-Kasem

Atas: “Abu, foto bareng yuk..” – “Enak saja minta-minta foto, memangnya saya siapa?!” Tengah: “Kan, Abu Kasem Pantai Deumit Baju TVRI..” – “Bagus, Nak, bagusss..” Bawah: “Abu lihat kamera dong.” – “Bentar, Nak, ada kapal lewat di atas.” $&#!

Makmur-Dimila-dan-Abu-Kasem

Ah, Abu Kasem gak mau liat kamera!

Pulau di barat Kota Banda Aceh ini masih belantara saat itu. Dia membersihkan semak-semak di sekitar Pantai Deumit, Desa Rabo, untuk dibangun tempat tinggal. “Abu Kasem, gila, bangun rumah di hutan,” begitu orang setempat menyebut pria bernama Abdul Kasem saat itu.

Setahun di sana, Abu Kasem mulai menanam lawang. Deudap dan Rabo baru tahun 1991 masuk listrik. Lamteng tahun 1993 masuk listrik, malam hari saja. Beberapa tahun kemudian, orang-orang pun membangun rumah di Deumit. Suatu kali, stasiun televisi pemerintah, TVRI datang ke Pulo Nasi. Abu Kasem yang memproduksi garam diliput. Ia dikasih sepotong baju berlabel TVRI.

Sayangnya, dia tidak lagi memiliki baju itu, bikin saya penasaran bagaimana ekspresinya saat memakainya.

Kabrôk, ka lôn tôt,” sudah lusuh, dia membakarnya. Saya tidak tahu bagaimana lusuhnya baju TVRI itu, sebab selama di Rabo, saya melihatnya selalu mengenakan baju lusuh kecuali ketika melaksanakan salat.

Abu Kasem pula memotivasi kami untuk bekerja keras. Dia melakukannya bukan dengan perkataan, tetapi memperlihatkan perbuatannya.

Abu-Kasem-angkut-air

Waaah, Abu Kasem bawa orang dengan timba. 😀

Tubuhnya mungil. Namun sangat kuat mengangkut dua timba besar air tawar dari bawah, mendaki undakan sejauh 50 meter ke penginapan kami. Kuncinya kata dia, ia cepat tidur malam dan tidak merokok. Di pagi hari, ia turun ke dapur garamnya, tak jauh dari sumur air tawar di bibir Pantai Deumit.

Minggu pagi ia bahkan sudah beres dengan pengolahan garamnya saat kami turun dari penginapan untuk menanti sunset di tepi pantai.

Pada sisa waktu selanjutnya, ia akan ke kebun dan memberi makan ternak kambing di halaman rumahnya. Rutinitas ini membuat Abu Kasem tinggal sendiri di Rabo, sementara istri dan anak-anaknya tinggal di desa lain di Pulo Nasi. Sesekali putranya kunjungi Deumit untuk membantu.

Cottage-Pantai-Deumit

Penginapan kami selama di Pulo Nasi. Cantik, kan? 😀

Kehadiran kami tentu “uroe raya” baginya. Ya, dia kelihatan sangat senang, suka bercerita, bahkan memberi kami oleh-oleh sekantong garam buatannya ketika kami kembali ke Banda Aceh, kota yang dapat kami pandang keindahan temaram lampu malam harinya dari Pulo Nasi.[]

Writer : Makmur Dimila

Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂