Abang Baro, Namaku di Meukek

Caun dan otopednya.

Saya mulai mencintai hidup di kampung orang. Jauh dari perkotaan. Jauh dari kampung halaman. Jauh dari masa lalu. Dekat dengan kebahagiaan. Meskipun kebahagiaan sesaat. Namun ia menjadi kenangan. Sewaktu-waktu ketika mengingat ulang, kenangan itu bagai bidadari yang datang memeluk.

Kebaikan orang-orang di tempat baru tak bisa terlupakan. Saya kemudian takut tak bisa membalas jasa mereka. Saya misalnya tak mungkin balas jasa keluarga Ikbal Fanika ketika “menjadi keluarga”-nya selama sepekan di bulan Maret 2014.
Di rumah yang sederhana, pagi-pagi disuguhi secangkir kopi dan pisang goreng. Emaknya bahkan diam-diam mencuci pakain kotor saya dua hari sebelum saya kembali ke Banda Aceh.
Nek Ikbal, ibunya ayah Ikbal, selalu mengingatkan saya makan. Dan adik-adiknya mau berbagi tempat tidur.

Caun dan neneknya,

Caun, adik termuda Ikbal, adalah bayanganku waktu kecil. Bungsu begitu disayang. Sulung haruslah menyayangi. Ikbal tak lupa membeli oleh-oleh kepada Caun ketika saya diajaknya pulang ke kampung halamannya. 
Pertama kali melihatnya pagi itu, Caun langsung klik dengan saya. Dia senyum nyengir. “Abang Baro, Abang Baro, ngonBang Yoga nyoh?” tanya dia dengan logat Aceh Selatan yang berirama.
Dia memanggil saya Abang Baro (abang baru). Seorang abang yang baru dijumpai. Emaknya tersenyum kagum. Saya setuju nama panggilan itu. Terdengar manis seperti baugenvil yang mekar di halaman rumahnya di bibir jalan nasional. 
Saya benar-benar menjadi keluarga dengan sapaan itu. Dan saya kemudian memanggilnya “Adek Baro”. Hehe.

Caun, sebentar-sebentar, ketika pagi hari, memamerkan kegemarannya naik otoped. Tak canggung, freestyle keren ditampilkannya ke hadapan saya.

Mau nantang?

Adek Baro keren kan? 😀

Caun juga sebentar-sebentar mencari ketika dirasanya saya menghilang. Bahkan saat saya tengah mengguyurkan air dingin di bak mandi belakang rumah. Air dari pegunungan bagai segelas air es di hari yang terik. 

Abang Baro & Adek Baro di pesta perkawinan.

Caun adalah adik saya selama seminggu di Meukek, Aceh Selatan. Saya takkan merasakan kehidupan baru itu andai saja tak nekat pergi.
Siang itu, Ikbal bilang bahwa ia akan pulang kampung. “Ayolah, Mur, sesekali ke kampung kami,” bujuknya.
Sejenak berpikir. Saya buka dompet. “Omak, Bal, saya cuma punya uang Rp 150 ribu. Ga cukup dong.”
“Gampang itu..” belanya.
Mulanya ia hendak pulang dengan L300. Harga tiket per orang sebesar uang yang saya miliki siang itu. Tapi, kami kalkulasi, duit sebesar itu cukup buat kami berdua jika mengendarai satu motor. Setengahnya untuk empat kali isi bensin, separuhnya buat makan di jalan. 
Habis Asar, kami pun berangkat. Teurimonggaseh rayek that, Ikbal Fanika dan keluarga.:D

[Makmur Dimila]

    1. Munawar Hafizhi June 18, 2014
    2. Safari Ku June 18, 2014
    3. ikbal fanika July 1, 2014
      • Safari Ku July 1, 2014

    Add Your Comment